Jangan Takut Sama Saiful Mujani

Seorang akademisi bicara agak kencang di sebuah forum tentang menjatuhkan Prabowo. Tiba-tiba barisan “aktivis”ย  pasang badan. Mereka menuding โ€œinkonstitusional! Delegitimasi! Makar! Tidak menghargai suara rakyat!”

Tunggu dulu. Tarik napas, minum kopi dulu atau panggil ani-ani biar lebih rileks.

Saya gampang banget tergoda jika ada aktivis berlaga. Membuat saya menonton video utuhnya. Menurut penangkapan saya, Bang Ipul bukan sedang mengasah parang untuk kudeta. Ia sedang menjalankan tugas dari seorang intelektual: memotret situasi politik yang sedang sakit.

Masalahnya sederhana, tapi ngeri. Kita melihat DPR hari ini lebih mirip grup vokal yang harmoninya selalu in-sync dengan pemerintah. Jarang ada nada sumbang, jarang ada interupsi yang substansial. Seolah fungsi checks and balances di Senayan berubah jadi checks and transfers. Wajar jika rakyat merasa gerah.

Dalam konteks inilah, kritik Saiful Mujani muncul. Itu bukan ancaman buat Presiden Prabowo. Justru, itu adalah alarm. Jadi nggak usah takut, bos!

Bayangkan rumah Anda dipasangi alarm asap. Begitu sensor mendeteksi asap tipis dari kabel yang korslet, alarm berbunyi nyaring. Apakah Anda akan memukul alarm itu sampai hancur karena dianggap mengancam ketenangan tidur? Atau Anda justru berterima kasih karena diberitahu ada yang berpotensi terbakar?

Nah, di sinilah para aktivis-loyalis, yang sedang menikmati kekuasaan, saya sarankan tidak terburu-buru melabeli kritik sebagai “ancaman delegitimasi”.

Soalnya ironis banget. Aktivis yang dulu adalah penyambung kegelisahan, kini beberapa justru memilih jadi “herder” kekuasaan. Strateginya pun membosankan: Labeling. Kritik terhadap prosedur pemilu dituding “belum move on”. Kritik terhadap birokrasi dituding “ingin bikin rusuh”. Kritik terhadap kebijakan dituding “delegitimasi”.

Melabeli kritik sebagai ancaman tuh gak asyik banget dalam pergaulan demokrasi. Ini menunjukkan ketidaksiapan mental menjadi birokrat apalagi negarawan. โ€œLu gak asyik lagi, bro!โ€ 

Seharusnya para aktivis herder itu berterima kasih karena para pengkritik peduli sama negara dan bangsa ini. Apalagi kita maklum banget, deh. Yang namanya sedang bekerja dalam kekuasaan, nalar kritis pasti auto-off. Di sinilah kalian para aktivis-herder perlu berterima kasih sama aktivis di luar kekuasaan. Kalian dapat insight gratis. Tak perlu anggaran untuk mengundang mereka dalam seminar, riset, atau FGD-FGD yang memboroskan anggaran.

Suara-suara seperti Saiful Mujani harusnya ditaruh di meja kerja sebagai bahan evaluasi. Itu adalah tiket gratis agar birokrasi nggak terlalu halu dan terjadi perubahan perilaku politik.

Seorang pemimpin yang besar tidak akan tumbang hanya karena satu-dua diskusi di forum intelektual. Justru pemimpin akan “tumbang” legitimasinya di mata rakyat jika ia hanya dikelilingi oleh para pembisik yang kerjanya cuma bilang “aman, Pak” sambil sibuk membungkam setiap alarm yang berbunyi, yang saya sebut dalam buku saya: Fucktivist.


Discover more from #blogMT

Subscribe to get the latest posts sent to your email.