Lelah Lihat Konten UMKM Pakai AI

Jujurly, ini murni kegelisahan saya. Beberapa tahun lalu bareng teman-teman, saya kelilingan membantu UMKM agar melek literasi digital. Waktu itu, fokus kami sederhana. Kami mengajarkan mereka cara bertransaksi dengan aman agar tidak jadi korban kejahatan siber, melatih teknik dasar fotografi dan penyuntingan video produk agar lapak mereka terlihat menarik.

Lalu datanglah era kecerdasan buatan (AI). Sebagai pendamping UMKM, saya pun ikut beradaptasi. Setelah belajar sendiri maupun mengikuti beberapa kursus dan sertifikasi AI, saya pun mengajarkan etika penggunaan AI, mitigasi bias, juga cara praktis memanfaatkan AI untuk merancang rencana konten, membuat foto, serta menyusun video jualan. Awalnya saya merasa ini adalah lompatan produktivitas yang luar biasa masif. Namun belakangan ini, sebuah kegelisahan mulai mengusik pikiran saya. Setiap kali membuka media sosial, saya merasa jenuh. Jagat digital kita dibanjiri konten pemasaran yang rada seragam, terkesan sempurna, tapi terasa hambar dan kehilangan sentuhan manusianya.

Saya jadi mikir, inilah tantangan baru yang harus dihadapi oleh UMKM yang dulu saya ajarkan memakai AI. UMKM harus paham bagaimana cara membuat konten jualan yang nggak bikin orang malas melihatnya karena skeptis, โ€œah, pasti AIโ€.

Kamu Lelah Nggak, sih Lihat Konten AI?

Di ranah psikologi konsumen, fenomena malas dan jenuh ini dikenal dengan istilah AI Fatique, kondisi kejenuhan identitas akibat pemasaran AI yang terlalu sering. Konsumen ternyata mulai mengalami keletihan psikologis. Tentang temuan ini, saya sarankan baca riset terbaru dari Aaijaz, dkk. tentang AI Marketingโ€“Induced Identity Fatigue and Consumer Wellโ€‘Being di acr-journal.com.

Berdasarkan data industri terbaru di tahun 2026, kondisi pasar saat ini cukup unik. Angka adopsi teknologi AI oleh konsumen memang meroket tajam hingga mencapai 73% dari yang tadinya hanya 45% di tahun 2024. Anehnya, lonjakan adopsi yang masif ini justru berbanding terbalik dengan antusiasme pasar yang malah anjlok sebesar 7%. Menurut riset ini, kita sedang masuk ke dalam palung kekecewaan, bukan palung hati Katon Bagaskara. Ekspektasi tinggi masyarakat terhadap AI mulai runtuh dan pelan-pelan digantikan oleh rasa skeptis. Baca lebih dalam riset von Hoffman ini di martech.com.

Secara kognitif, konsumen mulai lelah memproses informasi karena pola bahasa buatan AI yang mereka lihat terlalu monoton, pilihan katanya repetitif, dan struktur informasinya sangat seragam. Akibatnya ingatan konsumen pada pesan promosi menurun drastis dan mereka kehilangan ketertarikan pada produk yang ditawarkan.

Dari sisi emosional, pasar merasa kehilangan hubungan yang manusiawi karena interaksi yang dihadapi terasa kaku layaknya mengobrol dengan robot. Pernah kan ngobrol sama customer service robot? Nah, rada seperti itu mungkin. Kelelahan emosional ini membuat loyalitas pelanggan memudar. Belum lagi masalah relasional, di mana otomatisasi layanan pelanggan tanpa empati justru membuat konsumen merasa dikibulin (dimanipulasi).

Kedua riset tersebut juga mencatat ada sekira 71% konsumen yang dirundung kecemasan mendalam terkait ketidakakuratan data serta kejujuran informasi produk saat belanja daring. Ketegangan ini makin diperparah oleh kebijakan beberapa perusahaan yang menghapus dukungan manusia secara total, yang akhirnya memicu rasa frustrasi pada 62% konsumen di lapangan.

UMKM Harus Bagaimana?

Salah satu alasan utama mengapa audiens langsung mengabaikan konten promosi UMKM adalah karena teks yang disajikan memiliki jejak digital AI yang sangat kentara bahasa mesin (LLM) seperti ChatGPT. Mesin ini memang dilatih untuk menulis dengan tingkat kesempurnaan struktural dan prediktabilitas tata bahasa yang tinggi. Sayangnya, hasil buatan AI yang terlalu rapi ini justru terasa asing dalam percakapan manusia yang cenderung dinamis dan santai surantai wasaintai.

Jejak digital AI lainnya yang kerap kita temukan adalah penggunaan frasa pengisi yang klise seperti kalimat “Ini bukan tentang blablaโ€ฆ tapi blablabla” atau, โ€œketika harapan mulai hilangโ€ฆblablablaโ€ฆโ€ Kalimat seperti ini awalnya keren, tapi lama-lama jadi membosankan karena terlalu sering melihat konten yang gaya bahasanya mirip. Taruh kata, kita mau dibilang keren, tapi justru menurunkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap konten produk kita.

Selain teks dan suara, kejenuhan visual di media sosial juga membosankan karena maraknya foto produk buatan kecerdasan buatan yang mengandalkan model dasar dengan karakteristik โ€œrada-rada miripโ€. Gambar-gambar umumnya memiliki ciri yang sangat khas, seperti kehalusan kulit atau permukaan objek yang tidak wajar, arah pencahayaan yang tidak konsisten secara fisika, serta saturasi warna yang terlalu mencolok sehingga terlihat mengkilap layaknya dilapisi plastik. Visual yang terlalu sempurna ini justru memicu kecurigaan terhadap UMKM kuliner maupun kerajinan tangan. Konsumen menjadi skeptis dan takut, โ€œjangan-jangan produk asli yang mereka beli tidak seindah foto promosinya karena mulusnya kelewatan, hahahaโ€.

Lucu memang jika kita renungkan. Bertahun-tahun mendamba teknologi canggih agar bisa bekerja sesempurna robot, tapi begitu teknologi itu ada, kita malah sadar bahwa kesempurnaan buatan mesin tidak lebih โ€œasyikโ€ selayaknya buatan manusia. Ruang siber kita sudah terlanjur penuh dengan konten AI yang seragam. Kalau kita tidak cepat sadar dan terus-menerus membiarkan mesin mendikte cara kita berkomunikasi, jangan heran kalau lapak-lapak online kita pelan-pelan akan ditinggalkan oleh pembeli yang sudah lelah dan skeptis dengan apapun yang dibuat pakai AI.

Sekali lagi, ini tantangan bagaimana kita bisa mengobati kelelahan konsumen dengan penggunaan AI yang lebih natural/manusiawi.


Discover more from #blogMT

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply