Air di muara sungai kota Gotham sehitam oli bekas. Aroma laut bercampur dengan bau amis dari pabrik pengolahan ikan milik Konsorsium Maroni. Di ujung dermaga yang temaram, sebuah jubah hitam pekat tergeletak di atas aspal basah. Langit menangis gerimis.
Pemilik jubah itu sudah tidak ada. Beberapa jam yang lalu, sebuah helikopter tanpa logo menjatuhkan sebuah balok beton besar ke bagian terdalam pelabuhan. Di dalamnya, sang Vigilante bersayap kelelawar terkunci selamanya, menjadi rumpon baru bagi ikan-ikan karang. Batman sudah mati.
“Kota ini butuh ketertiban, bukan pahlawan bertopeng yang hobi melompati atap gedung tanpa bayar pajak,” gumam sebuah suara serak dari balik payung sutra hitam. Oswald Cobblepot, yang kini lebih suka dipanggil Tuan Wali Kota. Ia menyesap cerutunya.
Tubuhnya yang tambun dibalut setelan jas mahal, yang dipesan khusus untuk menyembunyikan posturnya. Di sampingnya, berdiri tegak seorang pria muda dengan seragam klimis, rambutnya rapi, matanya dingin menatap riak air. Itu Victor Zsasz. Tangannya selalu siaga di dekat saku jas, siap mengeksekusi siapa saja yang lupa memberikan penghormatan tiga busur kepada sang Penguin, yang selalu ia layani apapun kemauannya.
“Semua sudah bersih, Tuan,” bisik Zsasz, suaranya sedatar garis mati pada monitor rumah sakit. “Kepala Kepolisian Gotham sudah mengonfirmasi bahwa mulai malam ini, patroli malam hanya akan mengamankan aset-aset milik Tuan Maroni. Tidak akan ada lagi sinyal lampu sorot di langit Gotham. Kita sudah bayar lunas lampu sorot itu, sekaligus dengan langitnya.”
Oswald terkekeh, suara tawanya mirip ringkikan burung penguin yang kekenyangan. Di kejauhan, lampu-lampu kota Gotham berkedip, memantulkan kemewahan semu. Dari balik bayangan dermaga, muncul seorang pria paruh baya berwajah aristokrat dengan senyum tenang yang manipulatif. Sal Maroni. Adik sang Wali Kota itu berjalan santai, memegang cetak biru proyek strategis yang baru saja disahkan sore tadi melalui dekret kilat walikota.
“Kerja bagus, Kakanda,” kata Maroni sambil menepuk pundak Oswald. “Tanpa kalong hitam itu, jalur logistik kita dari utara aman. Besok, kita bisa mulai mengumumkan program ‘Gotham Swasembada’ sambil menaikkan harga sewa lapak di pasar-pasar bawah tanah.”
Oswald tidak menjawab. Matanya beralih menatap bayangan sebuah gedung tua di distrik seberang. Sebuah rumah kaca raksasa yang tertutup kabut tebal, tempat di mana tanaman-tanaman merambat raksasa tumbuh subur secara tidak alami.
—
Di dalam rumah kaca raksasa yang hangat dan berbau tanah basah, Poison Ivy duduk di atas singgasana yang terbuat dari jalinan akar pohon beringin tua. Gaun hijaunya menjuntai megah, melambangkan faksi tua yang telah mengakar di Gotham jauh sebelum Penguin belajar memegang payung.
Ivy tidak peduli dengan Batman yang menjadi semen di dasar laut. Baginya, manusia-manusia itu hanyalah pupuk yang belum diolah. Yang dia pedulikan adalah siapa yang akan berlutut di hadapannya besok pagi.
“Oswald mengira dia sudah menggenggam seluruh kota hanya karena dia punya polisi dan tentara bayaran,” Ivy berbisik pada sekuntum mawar hitam di tangannya. “Dia lupa, tanah tempat gedungnya berdiri adalah tanahku. Dia butuh legitimasi dariku jika ingin dinastinya dianggap oleh warga Gotham.”
Pintu kaca di ujung ruangan berderit terbuka. Seseorang berjalan masuk dengan langkah yang diseret, namun ritmis.
“Dan Oswald juga lupa… kalkulasi kekuasaan tidak pernah sesederhana satu ditambah satu,” sebuah suara melengking memotong keheningan.
Itu Edward Nygma, Sang Wakil Wali Kota yang di depan publik selalu tampak linglung, kikuk, dan hanya menjadi pajangan di belakang podium Oswald. Namun malam ini, matanya berkilat cerdas di balik kacamata bingkai hitamnya. Dia tidak datang sendiri. Dari balik bayangan tubuh kurus Nygma, muncul sosok dengan riasan wajah putih yang rusak, setelan jas ungu yang lusuh, dan senyum yang mengerikan. Joker.
Joker tidak tertawa terbahak-bahak seperti biasanya. Di Gotham yang baru ini, kegilaan harus dikemas dalam bentuk kalkulasi politik.
“Ivy, Sayang…” Joker melangkah maju, tangannya membuka sebuah dokumen rahasia yang dicuri Nygma dari meja kerja Penguin. “Si gemoy itu berniat memangkas anggaran subsidi pupuk organikmu untuk mendanai pasukan pribadinya Zsasz. Dia tidak menghormatimu. Dia hanya memanfaatkan bayang-bayangmu.”
Nygma melangkah maju, meletakkan sebuah teka-teki di atas meja akar milik Ivy. “Sebuah aliansi baru sedang dirancang di bawah meja. Saya memegang semua kode akses digital logistik Maroni. Joker memegang massa jalanan yang siap meledakkan anarki kapan saja. Kami butuh restumu, Ivy. Berikan kami stempel kekuasaan kharismatikmu, dan kita akan membuat Penguin tergelincir kebebalannya sendiri.”
Ivy menatap teka-teki Nygma, lalu beralih menatap senyum penuh rencana milik Joker. Di luar sana, angin malam Gotham berhembus makin dingin, membawa aroma badai politik yang siap menyapu bersih siapa saja yang merasa sudah menang.
Ivy tersenyum tipis, jemarinya yang lentik mengusap duri mawar. “Biarkan si gendut menikmati malam kemenangannya malam ini. Besok… kita lihat siapa yang akan menyiram kebunku dengan darah.”
Fiksi ini terinspirasi serial Gotham di TV


Leave a Reply