Di jagat komik, kita mengenal Green Goblin sebagai karakter dengan teknologi mutakhir yang hobinya terbang ugal-ugalan dan menebar teror. Di jalanan kita hari ini, ada sosok serupa yang hadir dengan warna khas, bernama Green SM.
Sama-sama membawa jargon teknologi masa depan, tapi di lapangan, perilaku armada taksi listrik asal Vietnam ini mulai kena redflag warga alias “Green Goblin” versi aspal.
Kita setuju bahwa masa depan adalah energi hijau. Tapi kalau “hijau” yang ditawarkan Green SM harus ditebus dengan nyawa dan kekacauan lalu lintas yang berulang, kita perlu bertanya: ini transportasi masa depan atau masa berduka?
Bukan cuma dikenal karena kecanggihan teknologi Green and Smart Mobility-nya, Green SM justru mencuri panggung lewat rekam jejak kecelakaan yang mengerikan. Publik bahkan mulai melabeli mereka sebagai “anomali jalanan”. Dan sialnya, data kecelakaan menunjukkan julukan itu relate.
Driver Ugal-ugalan
Masalah Green SM bukan cuma soal mobil listrik yang mogok di tengah rel. Masalah utamanya ada di balik kemudi: Sopir yang boleh jadi tak paham SOP Keselamatan. Saya pernah ngobrol sama sopir Green SM karena memang sering naik. Mereka cerita saat diterima sebagai sopir di sana, harus mengikuti training. Nah, apakah saat training itu mencakup membangun karakter yang melayani dan mengamankan? Saya belum tau. CMIIW!
Data mencatat serangkaian kecelakaan yang polanya mirip. Ingat kejadian di Sawah Besar? Sebuah taksi listrik Green SM nekat menerobos palang pintu perlintasan kereta api hingga berakhir tragis tertemper KRL.
Kritik ini saya sampaikan untuk manajemen PT Xanh SM Green And Smart Mobility (GSM). Apakah kalian merekrut sopir hanya berdasarkan kemampuan menginjak gas, tanpa pembekalan etika berkendara dan pemahaman risiko teknis kendaraan listrik? Julukan “anomali jalanan” lahir karena perilaku sopir Green SM sering kali mengabaikan keselamatan publik demi mengejar target.
Kegagalan Sistemik di Perlintasan Kereta Api
Armada Green SM memiliki “hobi” buruk di perlintasan kereta api. Selain kasus terobos palang, ada indikasi kegagalan teknis di mana kendaraan mogok atau sistem safety otomatisnya justru mengunci saat berada di area elektromagnetik rel kereta.
Jika ini masalah teknis EV, kenapa ekspansi dilakukan begitu masif tanpa adaptasi terhadap infrastruktur perkeretaapian Indonesia yang kompleks? Green SM seolah memaksakan teknologi Vietnam ke jalanan Indonesia tanpa mitigasi risiko yang matang. Akibatnya, nyawa penumpang dipertaruhkan setiap kali armada ini melintas di rel.
Miliarder Phแบกm Nhแบญt Vฦฐแปฃng mungkin punya visi besar untuk mengakselerasi transisi global. Tapi di Indonesia, visi itu terasa sangat berdarah. Kecelakaan beruntun di Bekasi Timur hanyalah puncak gunung es dari rentetan kejadian sebelumnya yang dianggap angin lalu.
Kemenhub jangan hanya diam melihat “Green Goblin” ini beraksi di jalanan. Evaluasi total bukan lagi sebuah saran, tapi kewajiban. Kita tidak butuh taksi listrik yang hanya terlihat keren di iklan, tapi bertingkah seperti dementor di lapangan.
Green SM harus berhenti bersembunyi di balik jargon “mobilitas pintar”. Pintar itu berarti tahu cara mendidik sopir dan tahu bahwa nyawa manusia jauh lebih mahal daripada target ekspansi pasar. Jika SOP tidak dibenahi, lebih baik Green SM “parkir” saja selamanya daripada terus menjadi teror bagi warga.


Leave a Reply