Anak-anak yang Tak Perlu Diseragamkan

Sore itu di PKBM Piwulang Becik (PBx), saya menyaksikan sebuah fragmen kecil yang sangat bertenaga. Seorang anak laki-laki berlari antusias mengejar temannya, Mikail, yang sedang bersiap untuk pulang. Dengan gaya ekspresif, ia menyodorkan tangan, berjabat tangan.

“Hai, kamu Mikail ya? Saya Hugo,” sapanya tanpa ragu. “Saya lihat kamu suka menggambar anime. Saya juga suka!”

Dalam hitungan detik, tabir kecanggungan runtuh. Keduanya langsung berbincang seru, “lengket” membahas anime.

Pemandangan ini sederhana, namun bagi saya, ini adalah antitesis dari wajah pendidikan kita yang sering kali kaku. Di sini, koneksi tidak dibangun di atas instruksi wali kelas untuk “diam dan duduk rapi,” melainkan lewat resonansi minat dan imajinasi.

Apa yang saya lihat pada Hugo dan Mikail adalah potret Generasi Alpha (kelahiran 2010-2025). Mereka adalah digital natives yang eksploratif, mandiri dalam mencari informasi, dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Sayangnya, bagi sistem sekolah formal yang masih mengadopsi factory-model schooling, keunikan tersebut sering kali dianggap sebagai persoalan.

Anak-anak yang memiliki imajinasi di luar kelaziman atau mahir di bidang spesifik seperti coding, seni, olahraga, memasak, bahasa asing sejak dini, dan sebagainya, kerap merasa terjebak dalam ritual kelas yang menjenuhkan. Di sekolah konvensional, setiap anak seolah “dipaksa” untuk lari dengan kecepatan yang sama. Akibatnya potensi unik mereka sering kali tertekan atau bahkan “didisiplinkan” demi mengejar standar nilai rapor yang seragam.

Bagi orang tua milenial, menyekolahkan anak ke komunitas belajar seperti Piwulang Becik bukanlah bentuk pelarian dari “masalah” anak terhadap sekolah formal, melainkan sebuah advokasi untuk menyelamatkan jati diri buah hati mereka. Orang tua mereka jauh lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental dan kebahagiaan anak, di atas sekadar nilai akademik.

PKBM tak lagi sekadar tempat “kejar paket” bagi anak putus sekolah. Berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jalur nonformal diakui setara dengan pendidikan formal, memberikan fleksibilitas bagi anak untuk berkembang sesuai potensinya. Di ekosistem ini, anak diposisikan sebagai subjek utama pembelajaran, bukan sekadar objek yang harus dijejali materi.

Negara sebenarnya menjamin hak anak-anak. Pasal 9 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2014 menyatakan dengan tegas bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan sesuai dengan minat dan bakatnya. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali berseberangan dengan napas kebebasan ini.

Meski kebijakan memperkenalkan pendekatan Deep Learning yang fokus pada kedalaman materi daripada kuantitas, birokrasi pendidikan kita masih terobsesi pada penyeragaman. Cengkeraman tekno-birokrasi lewat aplikasi Dapodik yang kaku dan kewajiban tes standar nasional seperti ANBK sering kali memaksa institusi nonformal, kembali merunduk pada metrik yang tidak akomodatif terhadap ritme belajar anak-anak.

Belum lagi tantangan dari restrukturisasi kementerian lewat Perpres Nomor 188 Tahun 2024. Penghapusan atau peleburan struktur yang sebelumnya menaungi Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) dikhawatirkan akan memarginalkan hak-hak anak homeschooling dan warga belajar PKBM karena kehilangan “rumah” advokasi yang mandiri di tingkat pusat.

Harapan kini tertumpu pada langkah-langkah baru pemerintah yang mulai mengakui fleksibilitas lewat sistem Multi-Entry Multi-Exit (MEME). Menteri Abdul Mu’ti menyebutkan bahwa sistem ini memungkinkan murid untuk masuk dan mencapai capaian pembelajaran kapan saja tanpa harus diseragamkan secara kaku dengan tahun ajaran yang linier.

Jika pemerintah serius peduli dengan anak-anak PKBM, maka birokrasi harus berhenti menjadi polisi administratif dan mulai menjadi fasilitator bagi keunikan individu. Hugo, Mikail, dan ribuan anak lainnya di jalur pendidikan alternatif adalah aset masa depan yang tidak boleh dipaksa masuk ke dalam lembaga penyeragaman. Pendidikan yang memerdekakan harus bisa menjaga keunikan dan api kreativitas Generasi Alpha agar tetap menyalaaaa. 😜

Baca aja:


Discover more from #blogMT

Subscribe to get the latest posts sent to your email.