Blog Memikat dan Mengikat

Membuat blog ibarat memelihara tanaman kesukaan. Kadang perlu waktu khusus untuk merawat dan menghiasnya. Bahkan tujuannya sederhana: untuk kepuasan diri saja. Ketika sedang rajin, pasti selalu ada waktu buat merawat, tetapi ketika sedang sibuk dengan urusan lain, tanaman maupun blog yang kita pelihara itu pun terbengkalai.

Blog terbengkalai? Ya, sudah pasti banyak jumlahnya. Coba saja iseng-iseng tanya ke admin penyedia layanan blog seperti blogdetik atau pun kompasiana. Dari total blog yang dibuat user, berapa banyak yang tak terawat dan begitu pun bandingannya, yang terawat atau ter-update berapa jumlahnya. Bisa saja satu orang blogger punya lebih dari 3 blog. Awalnya semua blognya ter-update, tetapi karena fokus pada satu blog, terpaksa kedua blog lainnya terabaikan. Bahkan boleh jadi pula ketiganya terbengkalai karena sang blogger sudah tak sempat lagi ngeblog.

Karena itu tak berlebihan jika aku amat menghargai dan menghormati blogger yang hingga hari ini masih sempat merawat blognya. Apakah hanya merawat penampilan (desain, theme/template) atau pun kontennya, sama-sama kusaluti.

Desain blog memang bisa dibuat memikat. Eye Catching, kalau kata pekerja desain. Tetapi tetap saja konten adalah hal utama dari sebuah blog. Buat apa desain blog bagus dan memikat banyak mata yang sedang blogwalking, tetapi ketika dibaca tak ada tulisan yang mengikat. Karena itu akan lebih baik jika desain memikat, konten mengikat. Apa yang diikat?

Para blogwalker itu bisa saja terpikat oleh sebuah blog karena desain yang rapih, enak dilihat, dan cepat loading-nya. Namun hanya isi dari blog tersebut (konten) yang bisa mengikat hati dan pikiran mereka. Tulisan yang dapat mengikat itulah yang biasanya membuat banyak orang kembali mengunjungi sebuah blog. Bisa dibilang, menjadi pelanggan setia blog yang membuatnya terpikat dan terikat.

Bagaimana membuat agar desain blog kita memikat? Sering-sering saja mencoba stok theme/template blog yang gratisan, yang disediakan penyedia layanan blog (kecuali Kompasiana). Jika kurang puas dengan stok theme yang ada, coba saja mencarinya via mesin pencari (google) dengan kata kunci “theme, template blog”. Akan tersedia banyak tautan situs yang menyediakan beragam tema blog, yang gratis maupun berbayar.

Berbeda dengan desain (theme/template), konten blog tak bisa kita copy/paste dari situs lain. Konten harus diisi oleh si pemilik blog itu sendiri. Kita yang buat, ya kita juga dong yang merawat. Lagi pula blog adalah sebuah representasi diri, bagaimana pantas jika isinya merupakan contekan dari sumber lain, tanpa izin pula. Memperbarui blog sendiri dengan karya sendiri sudah sepantasnya disadari. Lakukan itu, agar para pembaca makin mengenal siapa dan seperti apa sang pemilik blog.

Lalu bagaimana cara menulis blog yang gampang? Bagiku yang gampang adalah menuliskan apa yang kita alami, apa yang kita ketahui dan pahami, apa yang kita inginkan, dan apa pula yang kita gelisahkan. Itu adalah cara paling gampang memulai kembali konsistensi ngeblog.

 

 

Tulis saja dan jangan merasa terhambat dengan keteraturan berbahasa. Lancar menulis adalah hal utama, sedangkan keteraturan berbahasa dalam menulis adalah urusan berikutnya. Bagaimana bisa menulis dengan lancar jika setiap akan memulai, sudah disibukkan dengan kamus yang tebal dan keraguan terhadap kosa kata yang melayang-layang di kepala. Jika sudah lebih tertib menulis, baru tingkatkan kemampuan menulis dengan meningkatkan kemampuan berbahasa dengan benar.

Meningkatkan kemampuan berbahasa tidak sulit. Banyak membaca buku (nonfiksi dan fiksi) yang pantas untuk dibandingkan dan dipelajari kualitas bahasanya, bertanya kepada guru, teman, dan tak segan membuka kamus.

Apa yang kutulis di atas merupakan sedikit potongan materiku saat berbicara dalam kegiatan Pelatihan “Semarak Dunia Blogger: Ngeblog Asyik Penuh Manfaat” yang diselenggarakan oleh Yayasan Inspirasi Muda Bogor (IMAGO) di Kedai Telapak, Bogor. Slide selengkapnya bisa diunduh gratis di prezi.com dengan keywoard “Representative Blog