Site Overlay

Sehina Apakah Buzzer

Buzzer sering jadi bahan sindiran bagi yang membencinya dan sandaran bagi yang membutuhkannya. Kelirunya di mana?

Sempat kubaca tulisan tentang buzzer dan memancing respon teman-teman netizen. Ada yang berpendangan positif, biasa saja, dan negatif terhadap buzzer.

bagiku Buzzer bukan pekerjaan hina dan memalukan selama dilakukan dengan akal budi. Apa itu akal budi pada seorang buzzer?

Bagi yang senang membaca, silakan lanjutkan blog ini. Bagi yang tak sempat membaca, bisa juga mendengarkannya melalui #podcastemte. Dengan mendengarkan podcast, kamu bisa sambil bisa nyetir atau masak atau rebahan #dirumahaja.

Yang pertama adalah mau membaca dan memahami tugas yang ditawarkan. Ini penting bukan sekadar agar kita bisa merangkai kata dengan baik dan mudah dipahami publik sehingga pesan “delivered” tetapi agar kita bisa menimbang apakah isu yang ditawarkan bertentangan dengan sikap dan reputasi kita selama ini.

Untuk soal ini aku pernah menolak ketika ditawarkan paket perjalanan ke lokasi tambang. Agency dari perusahaan tambang tersebut sampai meneleponku dua kali sebab awalnya ia tak mengira aku menolaknya pada obrolan pertama saat aku tahu ini isu tambang. Pada obrolan kedua via telepon ia meminta kepastian dan menjelaskan kembali imbalan apa saja yang bisa aku dapatkan. Menggiurkan memang tetapi aku minta maaf karena tetap menolak tawarannya. Kujelaskan padanya bahwa tawarannya bertentangan dengan apa yang selama ini aku tulis di medsosku, bahwa aku penolak tambang karena banyak mudharatnya bagi warga yang hidup di sekitar tambang berada.

Kedua, memahami persoalan yang dihadapi pemesan proyek dan apa yang mereka harapkan (tujuan). Ini penting juga agar kita bisa menakar apakah pekerjaan ini menjebak kita dalam situasi terpaksa melacurkan akal budi.

Untuk contoh ini aku pernah melakukan saat mendapatkan tawaran dari seorang yang mengaku berada di balik keriuhan copras-capres. Saat ngopi dengannya di sebuah cafe yang kopinya biasa saja di FX Sudirman, ia menceritakan kedekatannya dengan beberapa jenderal dan tokoh publik di negara ini. Pekerjaan yang ditawarkan adalah mengelola medsos sebuah BUMN. Oke, ini menarik tapi akhirnya kutolak juga sebab goal dari pekerjaan ini adalah pergantian pimpinan di BUMN tersebut. Tentu diganti dengan orangnya dia. Soal ini sempat aku statuskan di Facebook. Saat itu aku menaruh harga 200 juta per bulan agar dia tak berani mengontrakku.

Kenapa aku menolak? Bukanlah tugasku hanya mengelola medsos? Ya tentu saja kutolak sebab arah dari konten medsos yang kubuat adalah agar BUMN itu mendapat sorotan negatif. Tentu ini bertentangan dengan akal budi. Aku tak ingin terjebak dalam suasana terpaksa melakukan padahal bertentangan dengan nuraniku sendiri.

Pernah ada teman yang menceritakan penyesalannya saat menerima tawaran copras-capres. Iya tak menyangka pekerjaan tersebut akhirnya menjebaknya untuk membuat konten yang memancing kebencian publik terhadap kubu lawan. Ia harus merelakan unfriend dengan beberapa teman baiknya karena seolah berbeda pilihan politik padahal ia melakukannya hanya demi uang.

Inti dari ulasan kesatu dan kedua adalah jujur. Pernah ada yang menerima job politik dari kubu A padahal hatinya buat kubu B. Selama pekerjaan itu ia tersiksa sendiri karena apa yang ia tulis bertentangan dengan hatinya. Tentu ini membuatnya seolah sakit jiwa. Ia awalnya menduga aku sama sepertinya, menjadi buzzer untuk kubu politik yang sama tapi ia melihat aku sehat-sehat saja. Kubilang padanya bahwa aku tak menerima job politik. Why? Sebab aku tak mau mengadu-domba rakyat kita dalam perkubuan semu dan sementara demi keuntungan kekuasaan yg kerap mengorbankan rakyatnya. Jika kulakukan itu, apa bedanya aku sama seperti VOC yang melakukan devide et impera. Hanya 2 kelompok orang yang sanggup melakukan pekerjaan seperti itu: Orang yang rasa kemanusiaannya mati atau malah mereka orang yang memang kuat mentalnya alias super mentality.

Ketiga, yang membuat buzzer masih punya akal budi adalah tidak sekadar copy/paste materi yang ada di brief ke medsos mereka. Buzzer itu manusia yang dianugerahi akal untuk merangkai kata dan cerita berdasarkan brief. Agar postingan tidak copasan, rajinlah riset, misalnya apa perbincangan yang berelasi dengan isu yang kita terima, sudut pandang apa yang dominan dalam keyword tersebut. Dari situ kita bisa menyusun sudut pandang yang berbeda dengan apa yg sudah bincangkan netizen. Lagi pula kita kan manusia, bukan mesin fotokopi yang cuma bisa copas tanpa mikir.

Dari tadi membahas buzzer. memang buzzer itu masalah? Kupikir nggak bijaksana juga kalau anti buzzer. Kenyataannya kita masih bisa melihat buzzer yang nggak memancing masalah. Buzzer yang meramaikan masalah yang dialami masyarakat. Misalnya saja rakyat yang tersingkir karena perusahaan tambang, rakyat yang teluknya direklamasi, dan segala persoalan yang dialami rakyat. Sebagian orang tak mau menyebut mereka buzzer. Merasa pantas disebut aktivis atau Social Justice Warrior. Ya, bagiku apapun sebutannya tetap saja intinya ngebuzz, bikin ramai mayantara dengan ocehan dan beragam konten yang mengiring opini warga untuk kepentingan tertentu.

Buzzer itu dibayar, aktivis nggak! Gitu kali ya. Padahal nggak juga koq. Aku lebih melihat dari perannya, bukan kontrak sosial-politiknya. Siapa pun boleh saja memakai jasa buzzer entah itu perusahaan, NGO, maupun pemerintah. Cuma satu hal yang perlu disadari oleh siapapun yang memakai jasa buzzer. Sesungguhnya Buzzer bukan solusi atas jarak yang kalian buat sendiri dengan masyarakat. Solusinya apa? Gunakan akal budimu sebagai pemerintah atau sebagai apapun itu.

2 thoughts on “Sehina Apakah Buzzer

  1. Kzl. kemaren udah ngetik panjang2 di komentar sini, eh pas submit lg maintenis. Udah lupa lagi kan. Oiya jadi inget. Iya kata buzzer sekarang mengalami peyorasi. Dulu istilah ini fine-fine aja, tapi sekarang konotasinya negatif.

Menurutmu?

Scroll UpScroll Up
%d bloggers like this: