Keriuhan pecah di media sosial soal Pasar Santa, Jakarta Selatan. Bukan karena ada festival kopi atau piringan hitam, tapi karena gesekan persepsi antara pedagang dan jurnalis. Isunya sederhana namun tajam: sebuah pemberitaan media yang melabeli pasar legendaris ini sebagai tempat yang “sunyi,” “sepi,” dan “ditinggalkan”.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Pemicunya adalah laporan dari Suara.com dan Kompas.com yang memotret penurunan vitalitas ekonomi Pasar Santa. Jurnalis datang merekam deretan rolling door yang terkunci rapat dan lorong-lorong yang tak lagi padat. Bagi media, ini adalah fakta lapangan, namun bagi pedagang, diksi “sunyi” tersebut dirasakan sebagai sebuah “vonis mati” bagi usaha mereka.
Kenapa Pedagang Keberatan?
Ada kekhawatiran, saat sebuah tempat diberitakan sepi, orang-orang akan benar-benar enggan datang. Takut angle berita tersebut justru membuat pasar semakin sepi. Para pedagang yang sudah terjepit oleh harga sewa tinggi dan persaingan dengan kawasan lain yang makin tumbuh, merasa diksi media justru memperkeruh suasana.
Menurut saya, kita perlu melihat masalah ini dengan kepala dingin.
Di satu sisi, jurnalis memotret realitas apa adanya, termasuk sisi suram agar ada perhatian dari pemegang kebijakan. Dalam hal ini PD Pasar Jaya dan Pemda, untuk memperbaiki fasilitas seperti ventilasi atau infrastruktur. Tanpa potret jujur dari media, masalah yang dialami pedagang pasar bisa saja tak mendapat perhatian pengambil kebijakan.
Di sisi lain, jurnalisme juga harus punya empati. Memahami penderitaan ekonomi pedagang sangat penting agar narasi yang dibangun tidak sekadar mengejar klik, tapi juga menawarkan harapan atau solusi bagi keberlangsungan pasar.
Pasar Santa butuh revitalisasi. Jurnalis butuh ruang aman untuk meliput, dan pedagang butuh dukungan agar ekonomi pasarnya kembali berdenyut. Mari kita dukung semuanya. Hargai kemerdekaan pers untuk tetap bersuara di tengah tren pembungkaman oleh pejabat baperan. Bisa jadi keriuhan netizen terhadap isu ini akan bergeser dari sekadar perang komentar jadi aksi nyata meramaikan Pasar Santa.
Indeks Bab & Opini Lainnya
- Bu, plis, Bu!1 mnt →
- Ngeblog di Era Feodalisme Algoritma5 mnt →
- Membuang Diri5 mnt →
- Onlife Paradox: Dekat di Jari, Jauh di Hati9 mnt →
- Memilih Gila Biar Selamat7 mnt →
- Mbah Bukan Begal6 mnt →
- Buruh jadi Menteri6 mnt →
- Sugiran dan Kursinya7 mnt →
Ruang Diskusi Pembaca (0)
Berikan tanggapan secara langsung tanpa perlu login. Demi menjaga kualitas diskusi, pengiriman tautan/link tidak diizinkan.
Belum ada tanggapan pada opini ini. Jadilah pembaca pertama yang memulai diskusi!