,

Onlife Paradox: Dekat di Jari, Jauh di Hati

Baru saja menyeduh kopi, sebuah pesan masuk ke ponsel. Isinya, undangan untuk saya berbicara di sebuah diskusi daring siang ini mendadak dibatalkan. Alasannya, sudah ada narasumber lain. Padahal materi presentasi sudah rapi dan yang membuat saya tertawa geli sendirian di depan laptop adalah, tema acara yang tadinya akan saya bahas: membangun budaya perdamaian dan empati di ruang digital.

Saya tersenyum membayangkan semua kegiatan ngobrol panjang lebar soal bagaimana kata-kata bisa merangkul manusia, bagaimana merawat tenggang rasa, dan bagaimana menciptakan ruang yang damai. Eh, beberapa jam sebelum acara dimulai, etika komunikasi paling elementer justru tergelincir lewat sebaris pesan pembatalan mendadak yang bikin suasana hati jadi agak tidak damai, hehehe.

Tapi saya tidak mau menggerutu soal panitia. Justru saya berterima kasih. Insiden kecil barusan memberi saya contoh paling segar tentang penyakit zaman yang tadinya hendak saya paparkan di ruang Zoom itu: Onlife Paradox.

Sebuah paradoks tentang bagaimana teknologi informasi hari ini membuat jari-jemari kita begitu mudah terhubung, tetapi pada saat yang sama membuat rasa dan empati kita terhadap sesama manusia justru berjarak.

Kadang kita mendengar seloroh, setiap kali melihat keributan di media sosial, “Ah, itu kan cuma di dunia maya. Di dunia nyata kita baik-baik saja kok.”

Sayangnya, kalimat itu udah basi. Luciano Floridi, seorang filsuf informasi, dalam bukunya The 4th Revolution: How the Infosphere is Reshaping Human Reality, merumuskan sebuah istilah untuk menggambarkan kondisi kita sekarang: Onlife, gabungan dari Online dan Life.

Menurut Floridi, tembok pemisah antara dunia daring (online) dan dunia luring (offline) sebenarnya sudah lama runtuh. Kita tidak lagi hidup di dua alam yang terpisah, di mana kita “masuk” ke internet lewat komputer lalu “keluar” lagi ke kehidupan nyata setelah mematikan logout dan disconnect. Itu benar-benar terhadi di akhir 90-an. Hari ini beda banget. Hidup kita dan teknologi sudah menyatu sepenuhnya. Persis seperti seduhan kopi dan air panas di cangkir saya siang ini, sudah teraduk rata, tidak bisa lagi dipisahkan mana air dan mana kopinya.

Masalahnya, di dalam realitas onlife yang serba menyatu itu, gawai perlahan mengambil alih fungsi sebagai indera utama kita dalam berinteraksi. Dan layar ponsel adalah medium yang sangat miskin rasa. Ia meredam intonasi suara, memblur tatapan mata, dan meniadakan bahasa tubuh.

Ketika kita berhadapan dengan orang lain di layar, manusia yang utuh, yang punya darah, daging, beban hidup, dan perasaan direduksi habis-habisan menjadi sekadar deretan piksel, barisan teks, dan username anonim.

Di titik itulah Onlife Paradox nyata. Kita merasa sangat dekat karena bisa menyapa, membalas, atau bahkan membatalkan janji hanya dengan satu ketukan jempol di layar. Namun karena yang kita tatap hanyalah benda mati bernama layar kaca, muncul jarak psikologis yang menganga lebar. Kita menjadi gampang sekali kehilangan rasa sungkan. Kita menjadi begitu ringan tangan untuk merendahkan, menghakimi, dan memperlakukan orang lain di seberang sinyal sana seolah-olah mereka adalah objek tak bernyawa. Dekat di jari, tapi jauh di hati.

Jika dalam urusan komunikasi sehari-hari saja paradoks ini sudah bikin kita sering lupa daratan, bayangkan ketika ia bertemu dengan mesin raksasa yang mengendalikan linimasa kita setiap hari: algoritma dan ekonomi atensi.

Mari jujur pada diri sendiri. Saat ini semua orang bisa jadi konsumen sekaligus produsen narasi. Prosumer, istilahnya. Tapi insyafkah kita kalau space tempat kita berkerumun diatur oleh mesin algoritma yang hanya mengenal satu mata uang yaitu atensi?

Algoritma ini tidak peduli apakah sebuah kalimat itu jujur, santun, atau mendamaikan. Mesin ini hanya menghitung seberapa lama mata kita terpaku di layar dan seberapa cepat jari kita terpancing untuk bereaksi. Dan secara psikologis, narasi yang damai, bernalar, serta mengajak berpikir jernih hampir selalu kalah cepat dibandingkan provokasi emosional. Kenapa nalar kalah cepat dibanding emosi? Karena bahan bakar untuk memutar roda ekonomi atensi adalah kemarahan, ketakutan, dan kebencian.

Siklusnya berputar tanpa ampun setiap detik di gawai kita. Seseorang melempar konten provokatif yang sengaja memancing emosi. Konten itu menyulut rasa marah, takut, atau benci di dada warganet. Emosi yang meledak itu melahirkan engagement tinggi, ribuan klik, kolom komentar yang penuh caci maki, dan tombol share yang ditekan bertubi-tubi. Hasilnya? Algoritma membacanya sebagai kesuksesan besar dan mengganjarnya dengan apresiasi tertinggi di era onlife ini yaitu, masuk FYP, viral, dan tentunya pintu cuan terbuka.

Ironisnya, roda ekonomi atensi ini lama-kelamaan, tanpa sadar menjerat kita semua, terseret ke dalam kubangan mati rasa kolektif.

Lihat saja bagaimana sebagian ruang digital kita hari ini memperlakukan tragedi dan kekerasan. Dalam fenomena sub-kultur True Crime Community (TCC) yang belakangan marak, misalnya, atau dalam kerumunan warganet kita setiap kali ada berita pembunuhan sadis. Kekerasan yang merenggut nyawa manusia tidak lagi dipandang sebagai tragedi yang menyayat hati, melainkan dikemas menjadi “konten seru” pendulang trafik dan cuan.

Di beberapa sudut linimasa, pelaku kekerasan ekstrem bahkan diglorifikasi, diromantisasi kisahnya, sementara trauma korban dan keluarganya dianggap angin lalu. Di kolom komentar berita kecelakaan atau tragedi berdarah, kalimat yang paling sering muncul bukanlah ungkapan duka, melainkan kerumunan pemburu tontonan sadis yang berteriak: “Bagi link full tanpa sensor dong!”

Bahkan yang lebih mengerikan, kekerasan yang terus-menerus lewat di beranda kita akhirnya berubah menjadi bahan lelucon dan meme. Batin kita jadi kebal terhadap rasa sakit orang lain karena terlalu sering menonton penderitaan manusia sebagai hiburan pengantar tidur.

“Ah, biarin aja, kan cuma konten. Nggak usah baper.”

Nah lho, jangan salah. Sejak zaman baheula, tidak ada kekerasan fisik dan ekstremisme yang terjadi begitu saja. Kalau kita bedah Piramida Kekerasan, puncak gunung es berupa tindakan melukai, menghancurkan, hingga menghilangkan nyawa manusia selalu ditopang oleh fondasi paling bawah yang sering kita anggap remeh, yaitu kekerasan bahasa.

Semuanya selalu dimulai dari lapisan dasar bernama bias dan labeling, ketika kita mulai menggunakan kata-kata untuk melabeli, menyebar stereotip, dan memandang kelompok manusia lain sebagai objek yang lebih rendah (dehumanisasi). Ketika sebuah kelompok sudah berhasil dilucuti kemanusiaannya lewat bahasa di ruang digital, kita naik ke anak tangga kedua, yaitu diskriminasi, perundungan (bullying), dan pengucilan terasa menjadi sesuatu yang sah dan wajar dilakukan ramai-ramai. Dan ketika kebencian itu terus dipelihara di dalam ruang gema (echo chambers) masing-masing, jarak menuju kekerasan fisik di dunia nyata tinggal menunggu percikan api.

Di zaman onlife, apa yang diketik di dunia maya punya daya rusak psikologis dan sosial yang sangat nyata. Ia merusak cara pandang kita hingga gampang menaruh curiga dan prasangka pada orang yang berbeda. Ia juga membungkam ruang dialog yang sehat, karena orang-orang yang masih waras akhirnya memilih diam dan malas berbicara di ruang publik daripada dikeroyok secara brutal oleh kerumunan preman digital.

Tapi, apakah kita harus pasrah begitu saja pada tirani algoritma dan mendiamkan ruang digital kita berubah menjadi arena tawuran? Tentu saja tidak.

Selama bergulat dengan isu literasi digital, saya selalu berpegang pada satu prinsip sederhana: regulasi negara dan kecanggihan fitur teknologi itu hanyalah pagar luar. Sebagus apa pun aturan hukum dibuat, tidak akan pernah sanggup mengawasi setiap ketikan jempol kita selama 24 jam. Kemudi utamanya tetap berada di dalam kepala dan dada kita sendiri: literasi digital, nalar kritis, dan etika komunikasi.

Membangun kembali budaya perdamaian di tengah Onlife Paradox sebenarnya tidak membutuhkan teori yang muluk-muluk. Ia hanya membutuhkan keberanian kita untuk melakukan empat hal sederhana yang melawan arus.

Pertama, biasakan mengambil “Jeda Kritis”.

Musuh terbesar kewarasan di media sosial adalah refleks jempol yang lebih cepat daripada kerja otak. Sebelum ikut berkomentar pedas atau menekan tombol share pada konten yang memancing darah tinggi, berhentilah barang lima detik. Tarik napas. Tanyakan pada diri sendiri: Siapa yang paling diuntungkan kalau saya ikut marah dan menyebarkan narasi ini? Jangan mau diperalat menjadi “buzzer” gratis bagi para produsen kebencian dan pemburu engagement. Pikir dulu, baru bagikan.

Kedua, gunakan bahasa yang memanusiakan.

Kita punya kuasa penuh atas diksi yang keluar dari ujung jari kita. Kita bisa memilih untuk menggeser cara kita bertutur di ruang publik. Dari bahasa yang sensasional dan memancing emosi menjadi bahasa yang informatif dan berbasis konteks, dari kebiasaan buruk menyalahkan korban (victim blaming) menjadi keberpihakan dan empati pada penyintas, dari hobi melabeli dan menggeneralisasi kelompok menjadi kalimat yang membuka ruang dialog dan menghargai perbedaan. Bersikap kritis dan tajam sama sekali tidak mengharuskan kita kehilangan adab dalam berbahasa.

Ketiga, jadikan literatur digital sebagai jembatan empati.

Data dan angka statistik mungkin bisa memberi tahu kepala kita tentang sebuah peristiwa, tetapi hanya cerita yang sanggup mengetuk hati nurani kita. Dan hari ini, literatur tidak lagi terkungkung di rak buku perpustakaan; ia bernapas di dalam utas (thread) media sosial, esai blog, takarir (caption) foto, podcast, video pendek, hingga film dokumenter. Lewat cerita-cerita yang jujur dan manusiawi di berbagai medium itulah kita bisa membangun “repositori empati” di feed medsos, mengajak orang lain untuk sejenak masuk ke dalam penderitaan sesamanya, merasakan luka dan harapan dari sudut pandang yang berbeda.

Keempat, berhentilah menjadi Silent Majority dan mulailah menjadi produsen narasi damai.

Ruang digital kita sering terasa pengap oleh kebencian bukan karena jumlah orang jahat lebih banyak, melainkan karena orang-orang baiknya terlalu sering memilih bungkam. Kita bisa melawan konten kekerasan dengan cara meng-ulti algoritma. Hentikan engagement pada konten yang mengeksploitasi tragedi atau menebar kebencian, dengan gunakan fitur Report secara aktif. Di saat yang sama, banjiri linimasa dengan narasi alternatif, konten-konten yang inklusif, kritis, jenaka, dan merawat kewarasan bersama.

Kopi di cangkir saya sudah tinggal separuh, dan di luar sana, diskusi daring yang batal saya hadiri itu sejam lagi akan dimulai. Tidak apa-apa. Ruang untuk berbagi gagasan tidak pernah sempit selama kita masih mau menulis dan bercerita.

Pada akhirnya, membangun budaya perdamaian di ruang digital sama sekali tidak menuntut kita untuk selalu sepakat dalam segala hal. Hidup akan sangat membosankan kalau semua kepala dipaksa punya isi yang seragam. Perbedaan pendapat dan perdebatan adalah hal yang niscaya. Namun, di dunia onlife yang tanpa sekat ini, kewarasan kita bergantung pada satu komitmen bersama yaitu, tetap memanusiakan satu sama lain, meskipun kita sedang berbeda pendapat.

📖 Lanjut Membaca Tanpa ke Beranda

Indeks Bab & Opini Lainnya