Saat ngobrol di warung kopi sejam yang lalu, seorang kenalan baru melontarkan pertanyaan yang sering berulang beberapa tahun ini, “Emang masih ada yang baca blog, Kang? Orang sekarang kalau nggak skrol TikTok, Reels, Short, ya dengerin podcast sambil macet-macetan”.
Saya cuma nyengir lalu menyeruput kopi yang ada salted-saltednya. “Faktanya emang gitu.” jawab saya.
Kebetulan hari ini, 27 Oktober. Segelintir orang mengingatnya sebagai Hari Blogger Nasional. Sebuah peringatan yang lahir tahun 2007 silam dalam gegap gempita Pesta Blogger. Dulu, menjadi blogger rasanya keren betul. Punya web sendiri, saling lempar komentar di kolom bawah, bertukar blogroll, sampai berdebat panjang lebar lewat rangkaian paragraf. Bahkan pernah juga saling tuding. Dan yang paling seru adalah saat kopdar.
Sekarang? Harus diakui, situasinya udah berubah drastis brutal.
Kita hidup di era onlife, ketika batas antara dunia fisik dan ruang digital sudah lebur tak bersisa. Ironisnya, di era yang serba terkoneksi ini, rentang perhatian manusia justru dipangkas habis-habisan. Jempol kita dilatih untuk scrolling lebih cepat. Otak kita dilatih untuk melahap dan mencerna konten yang singkat-singkat. Semua harus instan, visual, berdurasi di bawah satu menit, dan kalau bisa langsung memancing emosi di tiga detik pertama. Hook!
Makanya wajar kalau kegiatan menulis panjang di blog dianggap “ngapain sih?”, “emang ada duitnya?”. Apalagi kalau ukurannya cuma cuan atau tawaran sponsored post dari brand. Jelas influencer dengan jutaan followers lebih dipilih ketimbang blogger. Jadi, kalau ukurannya cuma trafik dan monetisasi, ngeblog memang sudah lama masuk ruang ICU tanpa ada keluarga yang nunggu.
Tetapi, apakah blogging benar-benar sudah mati?
Jujurly, banyak blogger yang sudah nggak nulis lagi dalam satu dekade ini. Tapi blogging belum benar-benar mati. Tahun lalu, saya nulis juga tentang hal ini. Masih ada kok yang ngeblog. Ya, cuma memang angkanya tak sedrastis 10-20 tahun lalu. Trennya sudah lewat bergeser. Tapi meskipun banyak yang tutup domain, selama layanan hosting dan blogging belum tutup ya, yang masih suka ngeblog, ngeblog aja.
Btw, artikel tentang apakah blog sudah mati juga dibahas di thestacc.com
Beberapa bulan terakhir, boleh jadi kita merasakan kelelahan yang sama di jagat maya. Lelah melihat konten yang seragam, lelah melihat konten yang nirhuman. Sejak akal invoice (AI) generatif ngetren, layar ponsel kita kebanjiran jutaan teks dan audio visual yang mulus, rapi, GEO-friendly, tapi terasa hampa. Nggak ada jiwanya. Membaca artikel pendek hasil prompting rasanya persis seperti ngobrol sama customer service robot. Kaku, repetitif, dan bikin kita merasa sedang silaturahmi sama mesin.
Bisa dibilang kita sekarang hidup di era feodalisme algoritma media sosial. Di Instagram, TikTok, Thread, atau X, kita ini udah kayak buruh kontrak di ladang milik korporasi raksasa. Hari ini kita bikin konten kritis soal kebijakan publik yang ngawur, besok jangkauan akun kita bisa langsung disunat alias kena shadowban. Kita dipaksa tunduk pada apa yang disukai algoritma: drama receh, kemarahan semu, dan brain rot yang menggerogoti kewarasan. Apakah di era ini blogging makin dilupakan? Bisa ya, tapi bisa juga tidak. Justru di titik jenuh itulah, blog menemukan kembali relevansinya yaitu kemerdekaan berpikir. Setidaknya, itu yang saya rasakan.
Mempertahankan blog di era gempuran streaming dan medsos memang boleh jadi dianggap sebagai sebuah kenaifan. Tapi coba lihat dari perspektif lain. Saat mayoritas netizen tunduk pada penguasa teknologi digital, blog dengan domain sendiri laksana “tanah merdeka” yang kita miliki di internet. Di sini, tidak ada algoritma yang mendikte topik apa yang harus saya tulis. Tidak ada durasi yang memaksa sebuah gagasan kompleks harus dipotong jadi kalimat simpel dan clickbait. Blog adalah ranah pribadi yang membebaskan kita mau nulis apa aja, kapan aja, dan sepanjang apapun.
Dan ternyata, saya tidak sendirian menjaga percikan api ini (blog).
Saya penasaran dan akhirnya mencari apakah masih ada yang ngeblog hari ini atau setidaknya bulan ini? Ternyata masih banyak narablog di Indonesia yang diam-diam terus merawat rumah digitalnya. Ada Kang Budi Rahardjo yang masih setia mengarsipkan pemikiran dan kesehariannya. Ada juga kawan-kawan di komunitas seperti Bloggercrony atau Kumpulan Emak Blogger yang terus bergerak menghidupkan literasi digital, hingga Trinity penulis niche yang ulasannya jauh lebih dipercaya pembaca ketimbang rilis pers media mainstream yang makin hari makin mirip brosur iklan. Siapa lagi? Tambahin kalo kamu tahu!
Orang-orang yang masih bertahan ngeblog hari ini bukanlah mereka yang gagal beradaptasi dengan zaman. Mereka adalah orang-orang yang sadar bahwa video pendek memang bisa memberi tahu kita apa yang sedang viral, tetapi tulisan di blog, mampu mengurai mengapa sesuatu itu terjadi dan bagaimana kita harus menyikapi.
Di mataharitimoer.com, sejak lama saya memasang tagline kecil: Just a Sense, No Adsense. Bukan karena saya anti-uang, tapi cuma buat pengingat bagi diri sendiri bahwa saya butuh ruang yang harus dijaga tetap pribadi. Saya nggak idealis sehingga seolah ingin dianggap steril dari kompromi pasar dan dikte algoritma. Nggak gitu. Menulis di blog cuma cara saya merawat kewarasan, mengarsipkan kegelisahan tentang politik, literasi, hingga cerita-cerita pendek sebelum mati, agar tidak hilang ditelan linimasa yang bergerak terlalu cepat dan perlu effort untuk mencari kembali. Blog masih menjadi tempat yang nyaman untuk itu.
Selamat Hari Blogger Nasional untuk kawan-kawan yang masih keras kepala merawat kata. Tidak apa-apa jika rumah kita tidak lagi seramai pasar malam seperti tujuh belas tahun lalu. Memang sudah zamannya manusia saat ini mencari keramaian di beranda media sosial. Selama masih butuh ruang sunyi, blog adalah salah satu tempat menepi.
Indeks Bab & Opini Lainnya
- Membuang Diri5 mnt →
- Onlife Paradox: Dekat di Jari, Jauh di Hati9 mnt →
- Memilih Gila Biar Selamat7 mnt →
- Mbah Bukan Begal6 mnt →
- Buruh jadi Menteri6 mnt →
- Sugiran dan Kursinya7 mnt →
- Berhala Pancasila6 mnt →
- de’Clan: Perang Para Bangsat4 mnt →
Ruang Diskusi Pembaca (0)
Berikan tanggapan secara langsung tanpa perlu login. Demi menjaga kualitas diskusi, pengiriman tautan/link tidak diizinkan.
Belum ada tanggapan pada opini ini. Jadilah pembaca pertama yang memulai diskusi!