Angkot yang kutumpangi berhenti di depan Indomaret. Empat orang anak sekolah bergegas mau turun tetapi sekelompok ibu-ibu terburu-buru mau naik. Mandeg di antara pintu.
“Bu, kasih jalan dulu buat yg mau turun!” tanggapku dan juga beberapa penumpang lainnya.
Mereka tak bergeming. Memasang raut wajah marah. Tak berkata-kata hanya menatap anak-anak sekolah yang merekatkan telapaknya ke sisi atas angkot karena menunduk di depan pintu keluar. Tidak berdiri dan tidak meruku apalagi duduk.
“Bu, plis, bu!” pinta penumpang yang duduk di sebelah mesin tap.
“Bu, kalau anak-anak ini nggak bisa turun, ibu juga gak bakal bisa naek. kan penuh. kagak bisa duduk juga.” Pak Sopir mengultimatum.
Barulah mereka bergerak mundur hingga anak-anak sekolah bisa turun. Digantikan oleh mereka yang duduk di depanku, berdesakan dan sambil melanjutkan obrolan sirkel mereka cekikikan.
Pagi yang seru dan karenanya saya dapat ide menulis cerita itu. Terima kasih buibu!
Indeks Bab & Opini Lainnya
- Ngeblog di Era Feodalisme Algoritma5 mnt →
- Membuang Diri5 mnt →
- Onlife Paradox: Dekat di Jari, Jauh di Hati9 mnt →
- Memilih Gila Biar Selamat7 mnt →
- Mbah Bukan Begal6 mnt →
- Buruh jadi Menteri6 mnt →
- Sugiran dan Kursinya7 mnt →
- Berhala Pancasila6 mnt →
Ruang Diskusi Pembaca (0)
Berikan tanggapan secara langsung tanpa perlu login. Demi menjaga kualitas diskusi, pengiriman tautan/link tidak diizinkan.
Belum ada tanggapan pada opini ini. Jadilah pembaca pertama yang memulai diskusi!