Si Paling Cosplay

⏱ Estimasi waktu membaca: 4 menit

Di medsos, saya sering banget melihat sosok lelaki yang bikin saya tercengang. Bisa aja saya kasih notice ke algoritma, kalo saya gak suka lihat konten/orang macam begitu, tapi ternyata saya tertarik melihat respons netizen terhadapnya.

Sesekali tiba-tiba dia muncul di feed saya. Sosok warga sipil berdiri gagah dengan tatapan mata seperti serius, seolah solusi atas masalah dunia ada di pundaknya. Di kepalanya nangkring baret ungu miring lengkap dengan deretan empat bintang emas, persis jenderal besar yang baru turun dari medan tempur.

Jas yang ia kenakan, dari bahu sampai ke dekat perut penuh ditempeli lencana, pin, wing, dan entah logam kuning apa lagi. Sampai penjepit dasinya pun bentuk pesawat terbang. Kalau dia jalan lewat pintu detektor logam di bandara, saya yakin mesinnya nggak cuma bunyi tit-tit, tapi langsung minta pensiun dini.

Jujur saya jadi bengong. Ini orang sipil kenapa senang banget ya dandan pakai atribut ala-ala militer? Padahal jenderal bintang empat beneran aja kalau lagi acara sipil pakai batik atau jas polos. Kadang saya berkelakar, “Lu tuh dah kayak etalase toko suvenir di Pasar Senen?”

Kalau diingat-ingat, orang model begini di negeri yang pemerintahnya mengandalkan pajak, kita nggak cuma lihat satu dua orang. Di jalanan, di ormas, di perkumpulan entah-apa-namanya, banyak banget warga sipil yang hobi “nyamar” jadi aparat atau minimal bikin seragam yang mirip-mirip tentara lengkap dengan pangkat karangan sendiri.

Kalau saya baca dari referensi psikologi, ternyata hobi menempelkan atribut sebanyak itu di dada sebenarnya bukan soal fashion yang nyentrik, tapi ada persoalan ego dan kejiwaan.

Alfred Adler, membabar konsep inferiority complex dan kompensasi berlebihan (overcompensation). Sederhananya begini: semakin kosong, kerdil, dan nggak percaya dirinya seseorang di dunia nyata, semakin keras usahanya untuk menambal kekosongan itu dari luar. Saat seseorang merasa dirinya nggak relevan, nggak punya karya yang bisa dibanggakan, atau nggak punya wibawa di masyarakat, egonya bakal panik. Nah, cara paling instan buat mengobati kepanikan itu ya pakai “kostum”. Baret berbintang dan lencana segambreng itu sebenarnya adalah tameng. Sebuah kompensasi visual yang berteriak ke orang sekitar: “Woy, lihat gue! Gue orang penting! Hormati gue!” Padahal, rasa haus akan penghormatan instan dan grandiosity (delusi keagungan) macam ini justru menunjukkan betapa rapuhnya harga dirinya.

Ketika seseorang gagal mencapai sebuah identitas atau otoritas lewat jalur yang sah, entah karena nggak lulus tes, nggak punya kompetensi intelektual, atau memang nggak punya kapasitas kepemimpinan, dia bakal mengambil jalan pintas dengan mengoleksi simbol-simbolnya saja. Lucunya, begitu kostum itu dipakai, efek enclothed cognition langsung bekerja di kepalanya. Dia benar-benar merasa seolah punya kuasa. Dadanya membusung, dagunya terangkat, tatapannya dibuat tajam.

Tapi tunggu dulu. Kayaknya saya nggak bisa menyalahkan orang-orang “etalase berjalan” ini. Rasanya nggak adil kalau saya nggak berkaca pada penyakit sosial kita sendiri.

Orang-orang yang terjangkit delusi simbolik ini, tumbuh subur dan mendapatkan validasi publik karena masyarakat kita masih sangat feodal. Jujur aja deh, di lingkungan kita, orang kayak gitu dianggap lebih sakti daripada yang tanpa atribut. Orang kita gampang banget silau dan ciut nyalinya kalau berhadapan sama orang berseragam, berpangkat, gelar berderet, atau pelat nomor khusus.

Sejak kecil, alam bawah sadar orang di sekitar kita merekam satu rumus jalan pintas: Atribut militer/pejabat = kekuasaan instan. Pakai atribut gagah sedikit, tukang parkir langsung hormat, satpam nggak berani nanya KTP, orang kampung langsung bilang, “Siap, Ndan!” atau “Perintah, Jenderal”. Ditambah lagi kalau mereka berkumpul di satu echo chamber, kayak komunitas semu yang isinya sesama pemburu pengakuan. Hari ini si A menyematkan pin ke dada si B, besok si B memberi gelar kehormatan ke si A. Klop sudah mereka mencapai puncak pencapaian hidup.

Terus, apakah penyakit validasi akut ini bisa disembuhkan?

Kubaca-baca, kayaknya susah. Perilaku yang berakar pada karakter narsistik dan delusi keagungan ini sulit disembuhkan karena orangnya sama sekali nggak merasa sakit. Mana mau disuruh ke psikolog buat ikut terapi kognitif kalau setiap kali dia ngaca pakai baret miring itu, yang dia lihat adalah sosok dia yang sesunguhnya?

Sebenarnya orang seperti itu gak butuh ruang praktik psikiater atau psikolog. Mereka butuh kepedulian kita, publik untuk berhenti memberi validasi.

Makanan utama dari ego yang bengkak adalah rasa segan, takut, atau kagum dari orang lain. Begitu kita berhenti memberi karpet merah, berhenti memanggil “Komandan” pada warga sipil yang cosplay militer, dan mulai menertibkan pencatutan simbol-simbol negara, balon ilusi mereka bakal kempes dengan sendirinya.

Melihat foto lelaki berbaret ungu dengan jas penuh logam itu membuat saya kembali merenung. Wibawa, kehormatan, dan respek itu nggak pernah bisa dibeli di toko atribut militer atau ditempel pakai peniti di dada. Kehormatan sejati tuh tumbuh dari integritas, dari pikiran yang jernih, dan dari kebermanfaatan kita buat alam dan sesama manusia.

πŸ“– Lanjut Membaca Tanpa ke Beranda

Indeks Bab & Opini Lainnya

Ruang Diskusi Pembaca (0)

Berikan tanggapan secara langsung tanpa perlu login. Demi menjaga kualitas diskusi, pengiriman tautan/link tidak diizinkan.

πŸ›‘οΈ Tanpa Login & Anti-Link
Langsung tayang & dapat dibalas pembaca lain.

Belum ada tanggapan pada opini ini. Jadilah pembaca pertama yang memulai diskusi!