Jakarta malam masih dengan kemacetannya. Aku berjalan menepi ke sebuah kedai kopi kecil di tepi. Di sudut ruangan, sayup-sayup terdengar petikan gitar akustik Paul McCartney.
Blackbird singing in the dead of night
Take these broken wings and learn to fly
All your life
You were only waiting for this moment to arise
Sambil menunggu Piccolo dan Seduhan Kopi Kerinci, aku membuka ponsel. Lewatlah story seorang teman. Isinya masih seperti 10 tahun yang lalu: keluhan tentang dagangan yang sepi, diselingi kalimat memelas agar orang-orang sudi melirik jualannya: “Jualan gini amat. Kemarin cuma laku 2 bungkus. Hari ini, satupun belum ada yang checkout T_T”
Lagu Blackbird dari The Beatles masih mengalun. Blackbird tidak diam meratapi sayapnya yang patah. Ia justru diminta untuk belajar terbang, memanfaatkan kegelapan malam untuk bangkit.
Yang jarang disadari, saat berjualan kita sebenarnya sedang menawarkan harapan dan kegembiraan lewat barang yang kita jual. Namun kalau setiap tawaran itu dibalut dengan keluh kesah yang pekat, pembeli justru akan merasa “jemu”. ilfeel, kalau kata Gen Z. Orang lebih suka belanja pada penjual yang punya aura tenang, yang tetap bersyukur meski hari itu hanya satu pesanan yang nyangkut. Ada wibawa yang terpancar dari sana. Wibawa seorang manusia yang berusaha mandiri tanpa harus menyeret-nyeret rasa iba orang lain.
Kadang kita terlalu sibuk merutuk notifikasi marketplace yang tiada kunjung memberitahu ada yg checkout, sampai lupa bersyukur gegara ada orderan via WhatsApp, meski hanya untuk satu pelanggan. Satu orang itu adalah pembeli, jalur rezeki, yang seharusnya disambut dengan sukacita, bukan dengan curhatan betapa beratnya hidup kita.
Menjual kesedihan hanya akan mendatangkan pembeli sesaat karena merasa kasihan, tapi bukan pelanggan setia yang menghargai kualitas diri kita.
Aku menyeruput kopi yang baru saja diletakkan di meja. Rasanya pas. Penjualnya tersenyum ramah tanpa banyak kata, seolah tidak peduli apakah kedainya sedang penuh sesak atau hanya ada aku seorang di sana. Itulah keseimbangan yang pernah kutulis dulu. Menjadi “wong sugih” di hadapan manusia adalah soal menjaga mentalitas agar tidak mengeluh dan merutuki nasib, apalagi menyalahkan diri sendiri.
Blackbird fly, blackbird flyโฆ
Lagu itu selesai, berganti dengan Respectable dari The Rollingstones. Aku kembali teringat teman tadi. Ingin rasanya bilang, simpan sedikit keluhanmu untuk doa di malam hari saja. Di media sosial, jadilah cahaya. Orang akan lebih senang bertransaksi dengan seseorang yang sayapnya mungkin sedang lelah, tapi tetap memilih untuk terbang dengan gagah.
Kopiku habis. Aku beranjak pergi. Hidup memang naik turun seperti grafik penjualan, tapi setidaknya aku tidak ingin menjadi orang yang lupa caranya bersyukur hanya karena angka-angka yang belum sesuai harapan kita. Dan satu hal lagi, hidup tak melulu soal angka tapi ada dimensi lain yang membuat kita bisa lebih bijaksana.


Leave a Reply