Bangga Walau Bengak

⏱ Estimasi waktu membaca: 2 menit

Pagi itu aku di dalam sebuah angkot menuju terminal. Dua orang penumpang di depanku asyik berbicara. Yang satu membanggakan kehebatan handphone kakaknya yang memiliki fasilitas terkini. Temannya, menjelaskan tentang fungsi blackberry, fasilitas yang membedakannya dengan handset lain, dan tentang provider yang menyediakan paket paling murah. Ia menjelaskan tentang BB milik saudara sepupunya, sambil menggenggam handphone monokrom yang bentuknya seperti ulekan mini, di tangan kirinya.

Aku tersenyum melihat mereka. Bukan tentang handset yang mereka review, tapi soal membanggakan sesuatu yang tak dimilikinya.

Pernah juga tetanggaku bercerita tentang seorang artis cantik yang kini menjadi anggota legislatif. Dengan bangganya ia menceritakan bahwa artis itu satu sekolah dengan saudara sepupunya, walau tidak sekelas. Lalu ia menceritakan segala hal tentang artis tersebut, yang sudah kuketahui dari media massa. Ceritanya baru selesai setelah aku menyampaikan pujian, “Hebat, berarti anda kenal banget sama artis itu ya?”

Temanku yang baru khatam buku Hacking karya S’to, sedang getol-getolnya mempraktikkan ilmu barunya. Ia mencoba melakukan hack pada sebuah komputer milik temanku. Esok harinya, dengan bangga ia menceritakan pengalaman barunya itu di depan teman-teman lainnya. Malam harinya, temanku memberikan nasehat padanya, dengan mematikan semua fungsi networking dan internet pada komputernya dari jarak jauh, agar tak mencari kelinci percobaan lagi.

Begitulah manusia. Kadang membanggakan sesuatu yang tak dimilikinya. Kadang membanggakan sesuatu yang masih menjadi impiannya. Kadang membanggakan suatu hal yang menurut orang lain sangat-sangat biasa. Kebanggaan ini muncul karena ingin dianggap berbeda dan lebih baik dari yang lain. Tak lebih.

πŸ“– Lanjut Membaca Tanpa ke Beranda

Indeks Bab & Opini Lainnya

Ruang Diskusi Pembaca (13)

Berikan tanggapan secara langsung tanpa perlu login. Demi menjaga kualitas diskusi, pengiriman tautan/link tidak diizinkan.

πŸ›‘οΈ Tanpa Login & Anti-Link
Langsung tayang & dapat dibalas pembaca lain.
  1. starwrite • 17 years lalu

    Hehehe..kenapa gak bangga dengan dirinya aja yah.?

  2. R2G • 17 years lalu

    kasihan banget……

  3. CR • 17 years lalu

    biarin aja napa te, paling nggak dia senang dengan kelebihan saudaranya. sebagai penonton, kita nikmati aja ke-norak-an mereka. "sesama benga dilarang saling mendahului" πŸ˜€

  4. Novri • 17 years lalu

    Ya itulah manusia… Makhluk paling sempurna tapi kadang dilalaikan oleh kesempurnaan itu…

  5. achoey • 17 years lalu

    yayaya sobat
    kadang memang begitu
    tapi semoga saja kita tidak ya πŸ˜€

  6. Ocehanburung • 17 years lalu

    Emang aneh ya manusia…

    termasuk saya juga sih… kadang saya juga ngebanggain yang bukan milik saya… ga tau kenapa, tapi keluar begitu saja…

    salam..

    kita link ya…

  7. anny • 17 years lalu

    Be your self
    Kata itu keknya musti lebih diselami artinya

  8. yangputri • 17 years lalu

    Manusia memang seperti itu, pengecualian, aku gak kalee πŸ˜€

  9. an9el • 17 years lalu

    hehhehehe kasian ya

    aku hanya membanggakan orang tua ku πŸ™‚

  10. cyperus • 17 years lalu

    aku bangga dgn mereka, meski tak berarti tp mereka sedang memiliki hidup..

  11. Julie • 17 years lalu

    Koq tau istilah "benga ato bengak" pdhl aq kira itu cm ada d mdn

    <blockquote><em>kan ada bang nagabonar, yang memopulerkan kata bengak itu di endonesya πŸ™‚ </em></blockquote>

  12. easy • 17 years lalu

    bener sih bang. memang banyak yang seperti itu. eh jangan-jangan aku juga gitu πŸ˜€

    semoga ga deh..

    <blockquote><em>hampir setiap orang pernah begitu. akupun juga πŸ™‚ </em></blockquote>

  13. MT (@mataharitimoer) • 13 years lalu

    Bangga Walau Benga http://t.co/HlYhiT4JmN