Linimassa 3 tak Berakhir di Ujung Durasi

Kegeramanku kembali terpicu tersebab potret luka rakyat kita yang terangkum dalam LINIMASSA 3. Melanjutkan film dokumenter pertama (2011) dan kedua (2012), ICT Watch dan WatchDoc kembali memproduksi Linimassa 3 yang melibatkan 5 sutradara bukan profesional dari 5 daerah dengan masalah berbeda.

Menonton linimassa 3 menyisakan perasaan tercabik-cabik sebab kesewenangan masih menjadi ancaman bagi rakyat jelata.  Rakyat di Gunung Kendeng Utara dan Samarinda pantas menggugat aparat yang kalah oleh para pemilik modal. Mereka membela nasibnya sendiri sebab penguasa tak menyisakan sedikit saja empati. Satu titik cerah terjadi di Poso. Mengandalkan social media, mereka bangkit dari trauma konflik. Perempuan dan anak-anak didamaikan jiwanya. didamaikan masa depannya.  Begitu pun dengan para relawan yang membantu korban letusan Gunung Rokatenda. Dengan program 1 Mug untuk Rokatenda yang disebarkan lewat social media, mereka menolong tanpa sorotan mainstream media dari Jakarta.  Juga Gerakan Darah Untuk Aceh, yang didedikasikan bagi penyandang thalasemia. Aksi kemanusiaan tak berharap ketenaran.

5 sutradara, 5 daerah, 5 fakta terangkum dalam 1 film: geliat anak negeri yang memulihkan lukanya sendiri. Karena pada kenyataannya kita memang tak pernah bisa mengandalkan politisi, apalagi penguasa negeri. Kelima sutradara Linimassa 3 memaparkan fakta apa adanya. Mereka memang bukan sutradara yang biasa menggarap film-film laris. Bahkan Linimassa 3 merupakan film dokumenter pertama mereka. Namun bukan itu persoalannya. Bukan tentang sinematografis yang pantas disanjung dengan penghargaan festival film. Bukan tentang soal teknis perfilman, tetapi tentang pesan yang disampaikan secara gamblang.

Apakah linimassa 3 akan menyusul kesuksesan Linimassa 1 dan 2? Kalau dilihat dari isinya, sepertinya film ini lebih menampar. Boleh jadi film ini tak disukai oleh para konspirator yang menguasai jejaring korupsi di Indonesia. Namun apapun risikonya, Linimassa 3 harus tetap tersebar. Meskipun belum ada dukungan dana untuk menggandakannya dalam kepingan DVD, Linimassa 3 harus segera diluncurkan.

Linimassa 3 mendokumentasikan gerakan perubahan sosial berbasis media sosial. Film ini menunjukkan kepada mereka yang apatis terhadap blogger, bahwa masih ada blogger yang mendedikasikan kemampuannya di ranah media online, sebagai penggerak perubahan untuk masyarakat di sekitarnya. Linimassa 3 menginspirasi agar blogger lebih peduli akan persoalan bangsa yang sering direcoki oleh para politikus korup, anggota parlemen yang bodoh dan hedonis, pebisnis yang rakus, dan para pengambil kebijakan yang takluk oleh permainan gangster yang mendesain kekacauan seenak perut mereka.

Apakah perjuangan teman-teman di Linimassa 3 selesai? Jelas tidak. Perjuangan teman-teman masih terus berjalan selama kesewenangan masih menginjak-injak tengkuk rakyat. Kisah lima daerah ini bukan drama yang harus berakhir di ujung durasi. Kisah ini hanya pemantik agar setiap netizen/blogger kembali kepada masyarakatnya. Membantu masalah yang boleh jadi waktunya lebih panjang dari umur kita.

foto: screening linimassa 3 di Aceh dapat dilihat di Picture Story