Troll Circle

Alqur’an diinjak-injak. Alqur’an dibakar. Nabi Muhammad dihina. Kalung Salib dianggap tempat jin kafir. Sampurasun diplesetin jadi campur racun. Sesajen ditendang. Apa lagi?

Kalau mau dicari, banyak banget orang yang dengan entengnya ngebacot dan menghina agama dan kepercayaan yang berbeda. Satu orang melakukan penghinaan, bejibun orang menanggapi dengan kemarahan. Hinaan dibalas dengan hinaan. Padahal jika kita benar-benar beragama, jika kita benar-benar mengimani ajaran tertentu, tak mungkin tergerak untuk menghina. Apapun alasannya.

Tak ada tempat untuk penghinaan dan kebencian dalam suatu agama dan keimanan apapun.

Pelaku penghinaan bisa saja alasan karena merespon hinaan tokoh lain yang juga dianggap menghina agama atau keimanannya. Biasanya karena terpancing oleh hinaan sebelumnya. Penghina menghina penghina. Begitu sirkelnya.

Jadi buat kita yang beragama dengan damai dan punya rasa malu jika menghina orang lain, tak termasuk dalam sirkel hina tersebut. Karena bukan sirkelnya, biasanya lebih adem menanggapi selantang apapun hinaan orang. Karena bukan sirkelnya, kita tak akan balas menghina.

“Allah dan agamanya dihina, lo diem aja? Lo muslim?” Banyak sekali kita temukan komentar netizen yang seperti ini. Seolah jika kita tidak membalas hinaan seseorang, maka kita dituduh tak beriman. Autokafir.

Aku punya alasan kenapa kita tak perlu membalas apa yang disebut hinaan ataupun penistaan agama.

1. Bukan sikap beragama

Aku yakin tidak ada agama yang memandu umatnya untuk melakukan penghinaan. Terhadap siapapun itu. Allah menciptakan kita berbeda-beda agar saling mengenal dan menghormati. Jika ada orang yang mengajak membela agama Allah dengan cara yang mengandung penghinaan dan kebencian, mending mikir dulu deh sebelum kamu ikutan. Jika kita mau mengaktifkan nalar, tentu bisa membedakan mana kebencian dan mana ketegasan.

2. Merendahkan diri sendiri

Mereka (para penghina) mungkin merasa, dengan menghina, maka yang dihina akan ambruk derajatnya, akan rusak reputasinya, akan hancur kehidupannya.

Padahal andaipun hinaan itu viral, orang yang dihina akan biasa-biasa saja. Tidak sehancur yang kamu bayangkan. Ini berarti apa yang kamu lakukan gak ngefek. Sia-sia. Yang kena mental bukannya target, tapi kamu sendiri yang semakin hari semakin berapi-api menghina orang yang tetap enak hidupnya dibanding para penghinanya.

Sampai sini, mikir? Berarti membela agama Allah, membela keyakinan, dengan cara menghina hanya merendahkan dirimu sendiri. Merendahkan martabatmu, brader, bukan orang yang kamu hina.

3. Nggak Ngaruh

Mau dihina dengan hinaan apapun, Tuhanku tidak akan berubah menjadi cebong maupun kampret. Kitab suciku tak akan berubah jadi stensilan. Tuhan, agama, nabi, kitab, dan segala unsur keyakinan kita tak akan mempan dihina. Hinaan yang mereka serukan, tak mengubah apa-apa. Bahkan tak mengubah keyakinanku terhadap apa yang kuimani.

Ambil contoh, ketika Nabi Muhammad SAW dihina sebagai pedofil dan doyan kawin, bagiku dia tetap nabi yang kuimani. Hinaan itu tak menggeser semilipun keimananku terhadap nabi. Kenapa aku gak terpengaruh? apa aku gak punya perasaan? nggak punya semangat membela agama? Berikut penjelasannya…

4. Target mereka cuma kita, bukan Allah dan Nabi

Merenungkan ketiga alasan sebelumnya, sadarlah bahwa yang menjadi target hinaan atau penistaan adalah kita. Elu dan gue! Bukan Allah dan Nabi-Nya. Bukan Allah dan Agama-Nya.

Pernah main bilyar kan? Atau setidaknya pernah main karambol, deh. Nah, ketika mereka memukul bola yang satu, targetnya bukan bola tersebut, tetapi bola lain yang kena pantulan dari bola yang dipukul. Jadi jika kita, elu dan gue terpancing untuk marah dan membalas hinaan dengan hinaan juga, berarti kita sama kayak bola bilyar atau biji karambol.

Jadi sadarilah mulai hari ini. Tuhan, Nabi, dan Kitab Suci kita nggak kenapa-napa. Kita yang memang ditarget biar kena mental. Mereka memang memancing emosi kita, bukan logika kita. Jadi, ya gitu deh, kamu pasti tahu apa yang sebaiknya dilakukan ketika emosimu dipancing. Yap! Jangan baperan sebab lu bukan biji karambol tak bisa menahan emosi saat disenggol.

Begitulah mereka para penghina agama (apapun agamanya) adalah sekelompok orang yang sama. Mereka berada dalam satu sirkel, yaitu sirkel troll, orang-orang yang pekerjaannya memang memancing kemarahan target. Seperti provokator di tengah gejolak demo masak tanpa minyak. Misi mereka berhasil jika kita terpancing dengan umpan yang mereka sebar. Lalu kita terjerat jala (jaringan) kebencian dan hari-hari kita akan dipenuhi dengan caci maki berbalut jihad membela agama Allah. Padahal kita bukan mujahid, tapi cuma KORBAN TROLL.

Menurutmu?

%d bloggers like this: