Site Overlay

Nocturno, Kuingkari Misi

Melihat mereka berdua menggigil kedinginan. Kubiarkan mereka bertahan di gubuk yang seharusnya kubongkar. Kenapa kuingkari misiku?

Pak tua dan ponakannya yang dianggap gila oleh keluarganya sendiri. Untuk hidup mereka memulung sampah.

Siang itu gerimis makin lebat. Aku tetap mendatangi gubuk yang mesti kubongkar karena dibangun bukan di tanah yang sah. Tanah orang lain. Tanah orang yang membayarku agar aku mengusir mereka.

Pada situasi demikian aku teringat pekerjaan seperti Satpol PP yang kerap ditugaskan menggusur rumah. Aku yakin petugas itu punya perasaan tak tega. Apakah aku tetap akan mengusir kedua orang di depanku ini? Binatangkah aku jika tega mengusir mereka di tengah gerimis yang berubah menjadi hujan lebat?

Sebulan sebelumnya pihak keluarga mereka bilang, bahwa kedua orang gila ini susah diusir. Aku percaya begitu saja dengan penuturan orang desa yang kuanggap jujur. Mereka kesulitan membongkar gubuk karena ada dua orang gila yang susah diusir di gubuk tersebut. Pada hari yang kami sepakati mestinya gubuk itu sudah tak ada lagi di tanah itu. Tugasku adalah mengusir mereka.

Kutemui mereka dan berbincang. Ternyata mereka bisa berkomunikasi dengan baik. Mereka paham dengan apa yang kusampaikan. Pak tua itu payah sekali kondisinya. Napasnya berbunyi. Sedangkan sang keponakan yang juga dianggap gila itulah yang sehari-hari merawat sang paman. Tunggu keponakan? Anak siapa dia?

Kudalami perbincangan yang akhirnya membuatku bersikap tegas. Ternyata anak muda itu, keponakannya itu adalah anak kandung dari pihak keluarga yang kutemui sebulan sebelumnya. Ia memang terkesan idiot, tapi tetap bisa diajak bicara dengan baik. Ia menuturkan bahwa orang tuanya menjual tanah pamannya itu lalu sang paman tak punya tempat tinggal dan dibangunlah gubuk di tanah kosong ini.

Aku terhentak. Syair lagu Nocturno menggema di kepalaku.

Aku dengar hidup tanpa jiwa, orang yang miskin ataupun kaya. Sama ganasnya terhadap harta. Bagai binatang di dalam rimba…

Nocturno ~ Kantatatakwa

Aku bilang pada pak tua dan keponakannya. “Bapak, sekarang tetaplah tinggal di sini. Nanti saya akan bilang ke keluarga di atas, bapak dan kamu, dek. Harus pindah ke rumah mereka. Tinggal di sini gak bagus. Gak sehat. Tikar aja nggak ada.”

Ya, kutinggalkan mereka. Kubiarkan mereka menetap.

“Gimana nanti sama bos? Gak jadi dibongkar?” Tanya temanku semisi.

“Kamu tega nggak liat mereka begitu?”

“Ya nggak tega sih… tapi nanti gimana bilang sama bos?”

“Biar gue yang laporan nanti. Masa sih bos gak punya perasaan. Lu yakin kan dia masih manusia?”

Kami langsung menemui keluarga Pak Tua dan Keponakannya, alias ibu si anak muda yang dianggap didong atau idiot itu. Kuajak temanku, seorang Polisi yang baik hati untuk menjadi saksi dan menekan kebiadaban sang ibu. Kuajak juga pak RT yang membenarkan kisah yang diceritakan anak muda itu.

Setelah melewati perdebatan alot akhirnya Ibu dan kakak dari anak muda itu tak bisa mengelak. Mereka bersedia menyediakan kamar yang tadinya kosong sebagai tempat tinggal paman dan ponakannya.

Kuberi waktu seminggu untuk itu. Saat aku kembali aku tak ingin gubuk itu masih berdiri dan pak tua serta anak muda itu pun sudah harus tinggal di rumah mereka, yang tentunya lebih baik.

Begitulah kisah nyata yang kutemukan dalam perseliweranku. Ternyata bukan cuma orang kaya yang ganas terhadap harta. Orang miskin pun bisa sama binatangnya dengan para serakah di kota-kota.

Menurutmu?

%d bloggers like this: