Selama ini kita dipaksa percaya bahwa kementerian maupun lembaga negara bersaing ketat memberantas korupsi demi menyelamatkan uang rakyat. Hari ini kamu boleh melupakan ilusi naif itu. Peristiwa yang terjadi di de’Clan Resto Cipete kemarin, bukan rivalitas kinerja, melainkan perang antar gank mafia yang saling sandera menggunakan kartu truf kekuasaan.
Logikanya kayak di film-film mafia. Ketika satu gank mulai mengusik gank lain, entah itu nyolek anggotanya, bikin onar di area kekuasaannya, pasti akan dibalas dengan dendam membara. Gank yang diserang pun gak akan menyerah. Mereka akan melawan atau membuka borok lawannya, melalui akses kekuasaan masing-masing. Kebayang kan?
Kejaksaan Agung melalui Jampidsus pernah nyolek gank kepolisian dari proyek strategis nasional, yakni dengan menciduk para pensiunan dan jenderal aktif Polri atas tuduhan korupsi pengadaan ompreng di Program Makan Bergizi Gratis. Penangkapan yang bahkan sengaja dirilis tepat pada Hari Bhayangkara itu jelas dibaca sebagai penghinaan atas martabat gank kelembagaan.
Mabes Polri tentu tidak tinggal diam melihat wilayahnya diobok-obok. Melalui satuan antikorupsi, mereka langsung meluncurkan serangan balik dengan membuka kartu truf terbesar mafia korupsi kejaksaan, yaitu dugaan manipulasi di balik kasus batu bara, Asabri, hingga Jiwasraya. Sasaran tembaknya tidak main-main, sebuah kafe mewah di Cipete digeledah untuk mengirimkan pesan tegas bahwa “jalur aliran uang haram lo udah petakan”.
Cukup soal drama mafia tadi. Tapi dari peristiwa ini, kita bisa melihat tanpa membelalakkan mata, bahwa hukum di negeri ini telah kehilangan kesuciannya dan berubah menjadi komoditas transaksional. Berkas perkara disimpan rapat di brankas, baru akan dikeluarkan sebagai senjata balas dendam jika ada gank yang berani mengganggu rutinitas korupsi.
Komedi tata negara ini makin koplak ketika institusi militer ikut terseret ke dalam pusaran konflik mafia sipil. Alih-alih fokus pada pertahanan negara, puluhan prajurit tempur malah dikerahkan untuk membarikade rumah dinas pejabat kejaksaan dari potensi jemputan paksa polisi. Puncaknya, puluhan prajurit berseragam tempur mendatangi Markas Polda Metro Jaya dini hari dengan manuver kendaraan taktis, diduga kuat demi mengamankan saksi sipil yang ditahan.
Buat orang yang pernah nonton film Godfather pasti ngakan melihat cara main mereka yang nggak kelas banget.
Mengerahkan pasukan tempur untuk membentengi birokrat yang rumahnya terbukti menyimpan kapital gelap adalah sebuah kesesatan yang nyata. Ketika militer direduksi menjadi pasukan beking pembela gank mafia yang sedang bermasalah dengan hukum, maka supremasi sipil warisan Reformasi resmi sakratulmaut.
Ada yang komentar, “wah keren nih, biang korupsi udah ketangkep. Pasti akan lebih baik lembaganya.” Sejujurnya menurut saya, jangan mikir kayak gitu, nanti frustasi.
Kenapa saya yakin, menangkap satu atau dua pejabat bangsat tidak berarti menyelesaikan masalah korupsi di negeri ini? Jawabannya bisa dijelaskan melalui analogi kakus. Sistem birokrasi dan lembaga penegak hukum kita sudah telanjur berubah menjadi kakus yang sangat kotor dan berbau busuk.
Ketika ada orang baru yang bersih masuk ke dalam sistem tersebut, dia pasti akan merasa mual dan menolak aroma suap. Namun setelah bertahun-tahun berada di dalam, indra penciumannya beradaptasi. Bau busuk itu tidak pernah hilang, melainkan sensitivitas moral aparat itulah yang telah mati rasa karena jadi terbiasa. Penyimpangan telah dinormalisasi secara sistemik. Siapa pun figur baru yang dimasukkan ke dalam posisi basah tersebut, hanya tinggal menunggu waktu sistem berhasil merusak moral mereka.
Mengharapkan perbaikan dari dalam sistem yang dihuni oleh bangsat-bangsat koruptor yang saling mengunci kartu as adalah kebebalan bersama. Keberanian politik tertinggi hari ini sedang diuji, bukan sekadar untuk mendamaikan pertengkaran antar-bawahan, konflik mafia kelembagaan, melainkan untuk menghancurkan kakus kelembagaan tersebut sebelum bau busuknya menenggelamkan sisa-sisa harapan bangsa ini.
Kenapa lembaga negara lainnya diam tak merespon? Ya, bisa jadi takut kartu trufnya dibongkar juga. Daripada terbongkar lebih baik diam. Sebab diam itu emas. Mungkin lebih dari 74 kilogram.


Leave a Reply