Membuang Diri

Terpaan matahari pagi di Halmahera Selatan menguliti tengkuk Purnomo yang legam. Ia meraba permukaan batang kelapa yang kasar. Tiba-tiba ia menggeleng-gelengkan kepalanya saat teringat masa lalunya. Dulu ia kerap meraba bekas luka di punggung kawan-kawannya sehabis disiksa antek-antek penguasa Orde Baru. Padahal ia sudah begitu jauh meninggalkan Jakarta. Hidup di kampung, di sela-sela hutan kelapa yang berbatasan langsung dengan lidah ombak Pasifik. Ia membutuhkan kesunyian agar dapat melupakan kenangannya kala hidup bersama para aktivis di era represif. Ia berharap udara kampung yang ia hirup saat ini, dapat menjauhkannya dari aroma busuk kemunafikan yang menyelimuti ibu kota.

Saat rebahan di dipan kayu di rumahnya yang kecil, ingatannya sering kali melompat ke lantai semen yang dingin dan basah, tempat ia pernah dipaksa meringkuk dalam kegelapan penjara. Ia ingat suara detak sepatu petugas yang mendekat, suara kunci logam yang berputar, dan kemudian kesunyian yang mengerikan, kesunyian yang dipecahkan oleh teriakan aktivis yang bungkam saat diinterogasi.

Teman-temannya raib satu per satu. Ada yang dijemput paksa di tengah malam, lalu hanya berpulang nama. Ada juga yang hanya meninggalkan foto kusam di tangan ibunya yang renta. Tiga kata yang menjadi momok saat itu masih terngiang jelas di telinganya. Sebuah tagline yang disingkat menjadi tiga kata yang menghancurkan satu generasi: 3B, Bunuh, Bui, Buang.

Purnomo beruntung hanya sempat mencicipi yang kedua sebelum akhirnya memilih untuk membuang dirinya sendiri ke ujung timur nusantara. Baginya, dibuang oleh sistem adalah jalan akhir menjadi pahlawan. Seperti mereka yang setiap tahun namanya dikenang sebagai simbol perlawanan aktivis. Ia tidak ingin dibui dalam kenyamanan, seperti teman-temannya yang kini duduk di pemerintahan. Ia memilih membuang dirinya sendiri ke daerah 3T ini demi akhir hidup tanpa ada satu orang pun mengenalnya. Ia ingin mati bukan sebagai siapa-siapa.

Dulu ia percaya bahwa darah yang tumpah di aspal panas Jakarta akan menjadi tinta bagi hukum yang adil. Dulu ia meyakini, teriakan para aktivis dapat mengubah nasib rakyat jelata yang menggantungkan harapannya pada mereka. Dulu ia percaya partai politik dapat mengubah sistem yang mengabdi pada oligarki menjadi sistem yang berpihak kepada rakyat semesta. Dulu, ia pernah seyakin itu akan heroisme aktivis hingga Pemilu demi Pemilu menyadarkan kedunguannya.

Ia sadar atas kedunguannya mempercayai partai politik dan aktivisme adalah cara paling benar mengubah status quo. Ia sadar atas kedunguannya meyakini bahwa teman-temannya yang berpolitik akan menuliskan sejarah baru Indonesia. Ia sadar, bahwa kedunguan yang paling sempurna adalah saat melihat sistem politik dapat mengubah teman-temannya yang idealis menjadi boneka di panggung demokrasi Pancasila.

Setelah Pemilu selesai dan tak ada perubahan sedikitpun atas nasib rakyat jelata, setelah Pemilu selesai dan hanya mengubah nasib teman-temannya menjadi borjuis baru, ia pun memutuskan pergi dari Jakarta. Sesaat sebelum ia membuang ponsel pintarnya ke lautan dan memutuskan untuk hidup tanpa sinyal, ia melihat wajah-wajah yang sangat ia kenal di layar kaca. Mereka adalah kawan seperjuangannya, orang-orang yang dulu bersama-sama mencium gas air mata dan berbagi sepotong roti di markas pergerakan yang sempit. Kini mereka berdiri tegap dengan jas mahal, menyeringai di samping sosok yang dulu memerintahkan penculikan kawan-kawan mereka sendiri. Purnomo merasakan mual yang hebat. Sebuah rasa mual yang melampaui rasa lapar saat di penjara. Mereka bicara tentang stabilitas dan rekonsiliasi, sebuah eufemisme menjijikkan untuk melupakan darah perjuangan demi kursi empuk di singgasana kekuasaan.

Kini Purnomo hidup dalam kebersahajaan. Ia tidak membutuhkan listrik untuk melihat kegelapan, karena ia sudah cukup lama tinggal di dalamnya. Ia tidak membutuhkan ponsel untuk melengkapi kebutuhan hidupnya, karena cukup menikmati makanan apa adanya dari sesama warga kampung kelapa. Ia memang berniat hidup tanpa ponsel agar tidak mengetahui perkembangan politik, khususnya perkembangan teman-temannya. Tetapi ternyata tanpa ponsel pun ia tetap saja mendapatkan slentingan dari tetangganya.

Salihin, anak muda di kampung ini sering mengabarkan apapun yang ia dapat melalui ponselnya, saat ia ikut juragan kelapa ke pasar kabupaten. Di sana ia mendapatkan sinyal untuk mengupdate akun tiktok dan instagramnya. Pulangnya selalu ada saja kabar baru yang ia bawa.

“Mas Pur, tadi saya lihat demo di Jakarta. Anggota DPR bisa saja memakzulkan Wapres.” Cerita Salihin, selalu semangat.

“Oh, gitu ya? Eh, titipan saya, tempe pasar ada?” Purnomo balas bertanya sambil menyeka keringat di dahinya.

“Ada dong, mas. Tempe itu tinggal satu-satunya tadi. Untung saya sudah pesan tadi, pas ada sinyal di luar kampung. Kalau nggak saya WA, bisa jadi kehabisan lagi seperti minggu lalu.”

“Terima kasih, ya Salihin. Kamu memang dapat diandalkan.” Puji Purnomo dengan senyum dan tatapan damai ke wajah Salihin yang gembira.

“Mas Pur…,” Salihin memonyongkan bibirnya. Biasanya kalau sudah begitu, anak muda itu akan bertanya tentang politik.

“Ya?” Purnomo menatap penuh perhatian namun di kepalanya terbersit, “Yaelah, apa lagi yang mau dia bahas.”

“Dulu, waktu di Jakarta, pernah ikut demo nggak? Kayaknya seru banget kalau ikut demo, jadi aktivis, lalu masuk partai, lalu jadi orang terkenal, jadi kaya.”

“Waduh, Sal. Dulu saya di Jakarta cuma kerja serabutan. Nggak pernah ngerti politik-politikan.” Purnomo sadar kalau ia berbohong, tapi ia terpaksa melakukannya karena perbincangan itu selalu mengingatkannya pada masa lalunya. Ia lanjut mengupas sabut kelapa dengan linggis besi. Saat ia melakukan itu pun, terbayang kebohongan-kebohongan mereka yang menyebut diri sebagai reformis namun sebenarnya adalah pelestari tirani.

Malam di hutan kelapa sesekali ia isi dengan percakapan imajiner bersama kawan-kawannya yang telah berpulang nama. Ia merasa lebih dekat dengan mereka yang terkubur di tempat rahasia daripada dengan mereka yang kini menjadi pejabat negara. Purnomo sering duduk di teras pondoknya, memandang ke arah laut yang gelap, membayangkan arwah kawan-kawannya berenang di antara ombak, bebas dari pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka yang masih hidup. Ia menyadari bahwa penderitaan fisik akibat penculikan dan siksaan masa lalu ternyata tidak lebih perih dibandingkan menyaksikan teman-temannya kehilangan hati. Baginya kesunyian di daerah 3T ini adalah jalan untuk akhir hayatnya, jalan di mana ia tidak bisa dibeli dengan uang atau jabatan yang juga pernah ditawarkan teman-temannya.

Pondok Kopi, 18 Oktober 2026

Mataharitiomer

📖 Lanjut Membaca Tanpa ke Beranda

Indeks Bab & Opini Lainnya