Memilih Gila Biar Selamat

Ujung jemari Saimin bergetar menyentuh permukaan tembok yang catnya mengelupas. Hidup di Rumah Sakit Jiwa membuatnya merasa aman. Di luar terlalu bisaing dan mengancam. Ia memilih hidup di dalam bangsal dan menemukan perlindungan dalam label “orang gila”.

Takdir membuangnya ke tempat sampah peradaban ini, namun ingatan Saimin tetap sekeras cadas. Ketika muda dulu, ia hanya seorang penjaja koran yang lincah melompat di trotoar Menteng, menawarkan koran pagi di rumah-rumah megah. Sisanya ia jual di beberapa lampu merah bilangan Menteng hingga Bendungan Hilir.

Tahun 1965, Saimin hari-harinya hanya berjuang agar tumpukan koran laku dijual. Ia tidak peduli pada puluhan simbol partai yang bertebaran seperti laron di musim penghujan. Ia juga tidak mengerti mengapa para pembesar negara saling gertak saling tuding. Bagi Saimin, politik adalah urusan perut orang-orang yang kenyang, bukan urusan pemuda kerempeng yang menghitung recehan sekadar untuk makan. Kadang nasib punya selera humor yang gelap. Sebuah tuduhan tanpa bukti, sebuah label yang dilekatkan secara semena-mena, menyeretnya ke dalam kegelapan penjara tanpa pernah tahu apa kesalahannya.

Di dalam sel yang lembap, di mana lantai semennya selalu terasa dingin hingga menusuk tulang, Saimin mencicipi kehinaan yang paling kejam. Ia dipaksa memunguti butiran jagung rebus yang disebar di atas lantai yang kotor, memakannya satu per satu dengan tangan gemetar karena rasa lapar menghancurkan martabatnya sebagai manusia. Tidak ada persidangan, tidak ada pembelaan, hanya ada hantaman pertanyaan yang dibalas dengan hantaman di kepala jika ia tak bisa menjawab. Petugas memaksanya mengaku sebagai bagian dari partai yang sama sekali tak pernah membuatnya berminat untuk bergabung. Di tengah hari-hari dalam keputusasaan itu, ia bertemu dengan sosok-sosok narapidana lainnya. Di antaranya adalah mantan tentara yang kehormatannya telah tercoreng. Salah satunya adalah seorang lelaki tegap yang matanya menyimpan bara rahasia. Yang semakin hari makin kerempeng.

Dari lelaki itulah Saimin sering mencuri dengar tentang malam yang mengubah arah republik ini. Lelaki itu sesekali bercerita pada sesamanya, bahwa ia adalah mantan pengawal presiden. Ia sering membisikkan kenyataan yang membuat bulu kuduk Saimin berdiri di tengah keheningan penjara. Di bawah temaram lampu sel yang redup, lelaki itu bercerita tentang sore di penghujung September, di mana ia menyaksikan pertemuan antara komandannya dengan seorang pria kuat yang tengah menjaga putranya di Rumah Sakit.

Cerita yang paling menakutkan dan terus bergema di kepala Saimin adalah saat lelaki itu bilang kalau atasannya pamitan dengan sosok kuat itu untuk menculik para jenderal. Cerita kekejaman itu menjadi beban yang lebih berat daripada rantai besi yang pernah melilit kakinya. Ia menyimpulkan sendiri bahwa persaingan politik ternyata harus memakan korban. Saimin, penjaja koran yang lugu, menyadari bahwa dirinya hanyalah debu yang tersapu oleh mesin pembunuh raksasa bernama politik, sebuah jaring di mana orang-orang kecil dikorbankan untuk melapangkan jalan bagi penguasa baru.

Ujung jemari Saimin yang bergetar menyentuh permukaan sprei katun yang kaku dan tajam karena terlalu banyak kanji. Di ruangan ini, segalanya berbau kapur tohor dan uap fenol yang menusuk pangkal hidung, sebuah aroma yang anehnya justru memberinya rasa aman. Di luar sana, dunia adalah hamparan kebisingan yang mengancam, namun di dalam bangsal dengan kisi-kisi kuningan yang mulai menghijau ini, ia menemukan perlindungan dalam label kegilaan. Sejarah telah lama membuangnya ke tempat sampah peradaban, namun ingatan Saimin tetap sekeras batu uji yang digosok asam cuka untuk membuktikan kadar emas. Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang penjaja koran yang dulu lincah melompat di trotoar Menteng, menawarkan lembaran serat selulosa yang menguning sebelum sempat dibaca habis oleh pemilik rumah megah.

Tahun 1965 bagi Saimin hanyalah soal bagaimana menjaga agar tumpukan koran tidak basah oleh rintik hujan atau keringat telapak tangannya sendiri. Ia tidak peduli pada ratusan simbol partai yang bertebaran seperti laron di musim penghujan, juga tidak mengerti mengapa para pembesar di atas sana saling gertak melalui corong pengeras suara. Baginya, politik adalah urusan perut orang-orang yang sudah kenyang, bukan urusan pemuda kusam yang menghitung kepingan logam untuk sekadar membeli nasi bungkus. Namun, nasib memiliki selera humor yang gelap. Sebuah tuduhan tanpa bukti, sebuah label yang dilekatkan secara semena-mena seperti cap pada hewan ternak, menyeretnya ke dalam kegelapan jeruji besi Cipinang tanpa pernah tahu apa kesalahannya yang sebenarnya.

Di dalam sel yang lembap, di mana lantai semennya selalu terasa dingin hingga menusuk sumsum tulang, Saimin pertama kali mencicipi kehinaan yang paling murni. Ia dipaksa memunguti butiran jagung rebus yang disebar di atas lantai yang kotor, memakannya satu per satu dengan tangan terikat sementara rasa lapar menghancurkan martabatnya sebagai manusia. Tidak ada persidangan, tidak ada pembelaan, hanya ada hantaman pertanyaan yang tidak pernah ia mengerti jawabannya. Petugas memaksanya mengaku sebagai bagian dari organisasi yang bahkan namanya saja ia sulit mengeja. Di tengah keputusasaan itu, ia bertemu dengan sosok-sosok yang mengenakan seragam kebanggaan yang telah tercoreng, salah satunya adalah seorang pria tua yang matanya menyimpan bara rahasia, Ishak Bahar.

Ishak Bahar bukan sekadar kawan senasib, ia adalah perpustakaan berjalan tentang malam yang mengubah arah angin republik ini. Pria itu, mantan Sersan Mayor pengawal presiden, sering membisikkan narasi yang membuat bulu kuduk Saimin berdiri di tengah keheningan malam Salemba setelah mereka dipindahkan. Di bawah temaram lampu sel yang redup, Ishak bercerita tentang sore di penghujung September saat perintah Letkol Untung membatalkan jadwal pengawalannya kepada sang pemimpin besar. Ishak adalah saksi yang berdiri di bayang-bayang saat kendaraan meluncur menuju Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Ia menyaksikan pertemuan yang tidak pernah tertulis dalam buku sejarah sekolah, sebuah persinggungan antara Untung, Abdul Latief, dan seorang pria kuat yang tengah menjaga putranya yang sakit.

Kalimat Ishak terus bergema di kepala Saimin melampaui dekade yang hilang: Baik Pak Untung dan Pak Latief itu pamitan dengan sosok kuat itu untuk mengambil para jenderal. Kesaksian itu menjadi beban yang lebih berat daripada rantai besi yang pernah melilit kakinya. Saimin, si penjaja koran yang lugu, tiba-tiba memegang kunci dari sebuah pintu rahasia yang tidak boleh dibuka oleh siapa pun. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah debu yang tersapu oleh mesin pembunuh raksasa bernama politik, sebuah labirin di mana orang-orang kecil dikorbankan untuk melapangkan jalan bagi penguasa baru. Kebenaran yang ia dengar dari Ishak adalah racun yang sekaligus menjadi penawar bagi kewarasannya.

Setelah belasan tahun diisolasi dan kemudian dilepaskan ke dunia yang sudah tidak lagi mengenalinya, Saimin merasakan bahwa label eks-tapol lebih menyiksa daripada peluru. Ia bekerja serabutan, memikul dedak, memanjat pohon kelapa dengan otot-ototnya yang mulai kendur, hingga akhirnya ia memilih untuk masuk ke rumah sakit jiwa ini. Di sini, ia bebas bicara apa saja tanpa takut ditangkap kembali. Para perawat hanya menganggapnya meracau saat ia menceritakan peristiwa di Lubang Buaya. Di Rumah Sakit Jiwa ini, tidak ada yang akan menyiksanya lantaran tahu banyak hal. Karena di sini, pengetahuan yang paling berharga dianggap halusinasi.

Saimin memejamkan mata. Ia masih bisa mencium bau debu yang menempel di pakaian para tahanan yang tewas karena kurang makan dan ia masih bisa merasakan getirnya dikhianati oleh negara yang ia cintai. Baginya politik adalah binatang buas yang memangsa anak-anaknya sendiri. Ia merasa seperti sisa makanan yang terbuang. Dalam kesunyian bangsal ini, Saimin tetap tegak dengan martabatnya. Ia tidak gila, ia hanya menyimpan kebenaran di tempat yang paling aman, yaitu di sebuah ruang yang oleh dunia luar disebut sebagai kegilaan. Ia lebih suka dianggap kehilangan akal daripada harus hidup dalam drama politik yang dibangun di atas tumpukan mayat dan kebohongan presisi.

Malam semakin larut dan sinar bulan masuk melalui celah ventilasi. Saimin tahu bahwa waktunya tidak lama lagi, namun ia tidak takut. Ia telah melampaui neraka Cipinang dan Salemba, ia telah selamat dari penghakiman massa yang buta. Di akhir hayatnya, ia hanya ingin diingat sebagai orang gila, bukan sebagai orang yang menyaksikan kebiadaban yang dipaksa menjadi kebenaran.

Cikini, 13 Oktober 2026

Mataharitimoer

📖 Lanjut Membaca Tanpa ke Beranda

Indeks Bab & Opini Lainnya