Getaran roda baja KRL menghantam telapak kaki Sugiran sekeras hantaman popor senapan yang pernah mencium rusuknya saat kerusuhan 98. Suara logam beradu logam itu membelah udara pengap Bukit Duri setiap sepuluh menit sekali. Menyisakan jelaga yang menetap permanen di pori-pori kulit serta dinding bedeng yang rapuh.
Bagi Sugiran, kebisingan mesin ini jauh lebih jujur dan jernih ketimbang kesunyian kabin sedan hitam yang belasan tahun ia kemudikan menembus kemacetan Jakarta. Di sana, di balik jok kulit yang dingin dan kedap suara, hanya ada bisikan-bisikan licin yang dibungkus wangi gaharu mahal. Aroma itu seolah mencuci amis muslihat yang merembes dari mulut para pembesar yang duduk di kursi belakang.
Di bantaran rel ini, bau sampah yang membusuk dan minyak jelantah dari warung gorengan tidak pernah berpura-pura menjadi wangi surga. Semuanya telanjang, kasar, dan tidak punya waktu untuk basa-basi diplomasi yang memuakkan.
Sugiran menyesap kopi sachet yang mendingin di gelas plastiknya. Membiarkan rasa manis yang berlebihan itu melapisi lidahnya yang pahit. Di depannya, dua orang perempuan paruh baya sedang saling hardik karena urusan iuran sampah yang macet selama tiga bulan. Mereka menggunakan kosakata pasar yang tajam, menuding hidung satu sama lain dengan jari yang masih berlepotan bumbu dapur.
Konflik itu riuh namun pendek, meledak seketika lalu reda tanpa ada dendam yang disimpan dalam brankas. Begitu urusan selesai, mereka kembali duduk bersandingan sambil mengeluh soal harga beras yang terus meroket. Tidak ada yang menyimpan belati di balik lipatan sarung atau merancang skenario penghancuran karakter.
Hal itu sangat kontras dengan pemandangan di layar televisi tabung empat belas inci yang bertengger di atas rak kayu lapuk warung sebelah. Di sana, wajah mantan majikannya terpampang jelas dengan pin Garuda emas yang berkilat di kerah jas mahalnya. Pria itu sedang berpelukan hangat dengan lawan politiknya, menampilkan tawa yang sudah diatur sedemikian rupa agar terlihat tulus di depan puluhan lensa kamera.
Politik itu seperti kaca spion, Sugiran, suara itu kembali bergaung di kepalanya dengan nada bersih dan dingin. Selama belasan tahun, cermin kecil di tengah mobil mewah itu adalah lubang intip bagi Sugiran untuk merekam perilaku busuk dari jarak dekat. Dari pantulan kaca itu, ia melihat bagaimana wajah majikannya berubah rupa secara dramatis. Dari wajah malaikat pemurah di depan panggung publik menjadi pemangsa yang tak kenal kenyang di kursi belakang mobil.
Ia merekam bagaimana jemari majikannya dengan santai menekan nomor telepon seorang jaksa guna mengunci perkara korupsi pupuk subsidi, sementara tangan kirinya sibuk meraba paha perempuan muda yang baru mengikat perjanjian sebagai anak asuhnya. Di sana pula, dalam kabin yang selalu wangi gaharu itu, dirancang berbagai siasat hibah fiktif untuk menjerat rekan separtai yang dianggap terlalu naif. Majikannya selalu memiliki keyakinan bahwa kawan hanyalah anak tangga yang harus dipijak sampai hancur agar ia bisa naik lebih tinggi menuju puncak kekuasaan.
“Dia harus jatuh tanpa merasa didorong,” kata sang majikan suatu sore sembari membuka segel air mineral impor yang harganya setara dengan upah harian kuli pelabuhan di Tanjung Priok.
“Berikan dia semua dokumen proyek itu dan biarkan dia menandatanganinya dengan penuh kebanggaan seolah dia pahlawan pembangunan.” tambahnya, bersemangat. “Biarkan orang-orang dari Lembaga Anti Rasuah yang nanti menemukannya sebagai bangkai paling wangi di halaman media online.”
Sugiran hanya sanggup menatap jalanan di depan. Tangannya mencengkram kemudi, menahan gejolak di perutnya. Saat itu, ia merasa nuraninya telah dibayar lunas dengan gaji rutin dan bonus setiap awal bulan. Ia telah setuju menjadi saksi bisu, menjadi seolah sebuah perkakas hidup yang hanya berfungsi untuk mengantar kejahatan dari satu hotel ke gedung pemerintahan lainnya.
Kehancuran Sugiran datang bukan karena ia melakukan pencurian atau pengkhianatan besar, melainkan karena ia keceplosan.
Suatu petang di tengah kemacetan yang mengular panjang, saat aroma gaharu terasa begitu mencekik di tengah perbincangan telepon soal pembebasan lahan proyek strategis nasional, sebuah ingatan tentang sawah kakeknya mendadak meledak di kepala Sugiran. Sawah di lereng bukit itu dulu diratakan buldoser atas nama kemajuan. Meninggalkan kakeknya yang mati dalam kesedihan mendalam tanpa pernah diberikan ganti rugi. Sebuah pertanyaan yang dianggap lancang, lolos begitu saja dari mulut Sugiran, “Apakah orang-orang di desa itu tidak akan kelaparan jika semua sawah mereka ditutup semen dan beton, Pak?” Kabin mobil mendadak senyap seketika, lebih senyap dari kuburan para petani yang kehilangan tanah garapannya demi kepentingan investasi asing dan komisi pejabat pusat.
Dari kaca spion tengah, Sugiran melihat mata majikannya menyipit lambat-lambat dengan sorot yang mematikan. Tatapan itu bukan lagi menatap seorang manusia atau pelayan setia, melainkan menatap sepotong onderdil yang sudah aus dan mulai mengganggu kelancaran putaran mesin kekuasaan. “Kau dibayar untuk menyetir, Sugiran, bukan untuk berpikir apalagi mengurusi urusan negara!”
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sangat datar, seolah sedang membaca spesifikasi teknis sebuah mesin yang gagal fungsi. “Kau cuma perkakas, sama seperti pedal rem atau gas yang kau injak setiap hari untuk sampai ke tujuan. Kalau rem blong, saya tinggal ganti dengan yang baru. Kalau sopir mulai punya otak dan berani bertanduk, saya akan buang.”
Keesokan harinya, sebuah amplop cokelat berisi sisa gaji terakhir dan surat pemecatan sepihak sudah menunggu di pos satpam rumah megah majikan. Tanpa pesangon, tanpa jabat tangan, dan tanpa ada ruang sedikit pun untuk membela diri. Sugiran dibuang layaknya ban bekas yang kembangnya sudah habis digerus aspal panas Jakarta.
Sugiran bangkit dari kursi plastiknya dan merapikan lipatan sarungnya yang pudar warnanya. Di televisi warung, mantan majikannya itu berkhotbah dengan nada tinggi tentang etika berbangsa dan pentingnya keteladanan pemimpin di tengah krisis moral yang melanda negeri. Sugiran membuang muka ke arah rel kereta yang membentang. Ia melihat rangkaian gerbong KRL yang melesat cepat ke arah selatan, membawa ribuan kepala manusia yang letih namun tetap bergerak lurus di atas sepasang rel baja yang konsisten. Mereka adalah orang-orang yang tidak punya kemewahan untuk bersandiwara di belakang jok mobil mewah atau menjual derita rakyat demi proposal yayasan asing.
Di kursi belakang mobil itu, kata-kata adalah belati tajam yang disarungkan dengan senyuman maut. Di kursi kemudi, sepatah kata jujur yang muncul dari hati nurani adalah alasan yang cukup untuk dimusnahkan.
Malam merayap pelan di bantaran rel Bukit Duri yang pengap oleh uap selokan dan asap knalpot. Sugiran duduk di bibir beranda sempitnya beralaskan semen kasar, menyimak lengang yang perlahan turun saat celoteh para tetangga mulai surut, berganti suara jangkrik.
Deru kereta yang lewat kembali menggetarkan seluruh lantai bedengnya, namun kali ini Sugiran benar-benar menikmatinya sebagai sebuah musik kejujuran. Mesin kereta itu tidak pernah menipu arah jalannya sendiri. Ia bergerak pasti di atas rel yang nyata, bukan di atas tumpukan janji palsu yang menguap bersama asap knalpot mobil dinas. Di menara-menara kaca di pusat kota, para politisi mungkin masih saling berangkulan, sambil mencari celah untuk menusukkan belati ke punggung kawan sendiri.
Kini Sugiran sudah meletakkan kemudinya untuk selamanya. Ia menolak menjadi mur dan baut dari roda besar yang diciptakan hanya untuk melindas hidup rakyat jelata.
Ia membakar kretek terakhirnya, membiarkan asapnya yang tajam memenuhi rongga paru-paru dan terbang ke udara malam yang gelap. Di sini, di antara bau got dan bising kereta yang memekikkan telinga, ia menemukan kembali martabatnya yang sempat tergadai selama belasan tahun di balik kemudi sedan hitam.
Menjadi orang kecil yang hidup apa adanya jauh lebih damai daripada menjadi bagian dari mesin kekuasaan yang hanya tahu cara mengunyah sesama manusia demi angka-angka di rekening bank.
Biarlah mereka hidup dengan wangi gaharu dan pengkhianatannya yang mewah, sementara Sugiran tetap di sini, berdiri tegak di atas tanah yang tak pernah ia curi dari siapa pun. Keadilan tidak selalu datang dalam bentuk vonis hakim di pengadilan yang bisa dibeli dengan harga tertentu, tapi ia hadir dalam bentuk tidur yang lelap tanpa perlu takut akan pantulan wajah sendiri yang penuh dosa di kaca spion tengah. Keadilan tak datang dari palu hakim yang bisa dibeli, melainkan dari keberanian seorang sopir untuk berhenti menjadi baut dalam mesin penindas bangsanya sendiri.
Bukit Duri, 2 September 2026
Mataharitimoer
Indeks Bab & Opini Lainnya
- Onlife Paradox: Dekat di Jari, Jauh di Hati15 Oct 2026 →
- Memilih Gila Biar Selamat13 Oct 2026 →
- Mbah Bukan Begal6 Oct 2026 →
- Buruh jadi Menteri4 Oct 2026 →
- Berhala Pancasila1 Oct 2026 →
- de’Clan: Perang Para Bangsat10 Jul 2026 →
- Algoritma Revolusi11 Jun 2026 →
- GOTHAM: Arkham Moves to City Hall7 Jun 2026 →