Bekas lubang peluru di paha kiri Mbah Waluyo selalu berdenyut setiap habis jalan kaki. Rasa nyeri itu selalu mengingatkannya pada masa-masa bergerilya mempertahankan kemerdekaan saat Agresi Militer Belanda di pertengahan tahun 1947. Saat itulah peluru timah menembus kulit pahanya. Malam ini Mbah Waluyo menyaksikan cucunya pulang dengan mata merah dan jaket almamater yang menyengat bau gas air mata.
Aris menghempaskan bokong ke kursi rotan yang mengerit ringkih, seolah-olah seluruh beban republik ini baru saja ia pikul sendirian di depan gerbang parlemen. Mbah Waluyo tidak bertanya apa-apa. Ia hanya meneguk sisa kopi tubruk yang ampas hitamnya mengendap di dasar gelas kaca.
“Kek, mereka itu bukan manusia. Mereka itu begal yang memegang stempel negara!” Aris memulai ledakannya dengan suara serak. Tangannya gemetar menyulut rokok putih yang aromanya terlalu wangi bagi hidung tua Waluyo.
“Kakek tahu apa yang mereka sahkan tadi siang? Mereka merampas tanah adat untuk memberi kebebasan mesin tambang para cukong yang tidak pernah peduli terhadap adat dan identitas masyarakat adat. Mereka bicara tentang kesejahteraan rakyat, sementara gunung dan hutan yang mereka hancurkan adalah bencana untuk masyarakat. Keadilan di negeri ini sudah jadi barang mewah bernama undang-undang, yang rakyat jelata tak akan pernah sanggup membelinya.
“Waluyo menghisap kreteknya dalam-dalam, membiarkan asap tebal membungkus wajahnya yang keriput seperti kertas peta sejarah yang terlupakan. Ia menatap Aris dengan pandangan mata yang berselaput katarak.
“Setiap habis demo, kamu selalu marah-marah. Selalu kesal. Kamu pikir amarahmu itu bisa mengubah nasib rakyat yang kamu bela, Ris? Kamu datang ke jalanan, membakar ban, lalu pulang menggerutu seolah dunia akan kiamat karena selembar kertas yang ditandatangani orang-orang terhormat itu. Dengar baik-baik, cucuku. Kebenaran itu pahit. Tapi kebenaran tak hanya butuh nyali, tapi juga napas panjang..
Aris menoleh ke arah Mbah Waluyo, merasa tersindir oleh nada bicara kakeknya yang selalu terdengar seperti vonis hakim. “Apa maksudnya mbah? Aku ini berjuang! Aku membela martabat rakyat yang diinjak-injak oleh komplotan maling berseragam dengan pin Garuda. Apa mbah tidak merasa dikhianati? Mbah dulu angkat senjata dan membiarkan kakinya cacat, tapi hasilnya cuma melahirkan penguasa yang lebih rakus dari penjajah! Pejabat yang menindas rakyatnya sendiri. Bukankah perjuangan mbah jadi sia-sia?”
Waluyo terbatuk. Dahaknya terdengar berat seperti mesin diesel tua yang dipaksa menanjak lereng curam. Ia tersenyum. Ia tidak tersinggung. Ia sudah terlalu lama hidup dalam kepahitan. Tak ada alasan untuk merasa sakit hati karena ocehan pemuda yang baru mengenal arti demokrasi dan hak asasi dari buku teks.
“Mari aku ceritakan satu hal yang tidak akan kamu temukan di dalam orasimu, Ris. Tahun empat puluh tujuh, saat tentara Belanda melakukan agresi di hutan jati sekitar Nganjuk, aku dan reguku menyergap satu patroli pasukan musuh. Kami sudah tidak makan selama tiga hari. Perut kami melilit sampai rasanya ingin memakan kulit kayu jati. Di sana, di pinggir parit yang becek, aku membidik dari balik semak-semak dan menembak mati seorang kapten Belanda tepat di jantungnya dengan senapan Arisaka tua peninggalan Jepang.”
Suasana teras rumah itu mendadak sunyi, hanya deru kereta api jarak jauh yang melintas pelan di jalur yang memecah keheningan. Aris terdiam, rokoknya dibiarkan padam begitu saja. Waluyo melanjutkan ceritanya dengan suara datar.
“Kapten itu mati. Dia memakai jam tangan Omega emas yang berkilat di bawah sinar bulan, sepatunya kulit sapi asli yang sangat kokoh, sementara aku berdiri di samping mayatnya dengan kaki telanjang yang kapalan dan penuh luka goresan ranting. Di saku seragamnya yang licin, aku tahu ada tumpukan uang gulden dan mungkin foto keluarganya yang cantik di Amsterdam. Bayangkan, Ris, kami yang kelaparan ini berdiri di depan mayat yang hartanya bisa memberi kami makan mewah selama setahun.”
“Apa yang kakek ambil? Jam emasnya? Sepatunya?” tanya Aris dengan nada yang sudah merendah.
Waluyo tersenyum pahit, sebuah seringai yang memperlihatkan sisa-sisa giginya yang menghitam.
“Tidak satu pun, Ris. Kami tinggalkan mayat itu utuh dengan segala hartanya. Komandan kami, seorang sersan yang mantan guru madrasah, bilang, ‘Kita pejuang, bukan begal!’ Jika terhadap musuh yang sudah mati saja kita menjarah hak pribadinya, apa bedanya kita dengan binatang? Kami menghormati kematian karena kami menghargai kehidupan. Itulah didikan revolusi yang sesungguhnya. Kami punya moral, punya batas yang tidak boleh dilampaui meski nyawa di ujung tanduk.”
Aris menyulut sebatang rokoknya lagi. Menyaksikan Mbahnya bercerita, seperti malam-malam sebelumnya, seperti biasa.
“Sekarang kita lihat orang-orang di gedung Parlemen itu,” jari Waluyo menunjuk ke arah atap teras rumah. “Mereka lebih rendah dari penjajah yang dulu kami hadapi di hutan jati. Penjajah itu datang dari jauh untuk merampas, itu sudah sifat alami mereka sebagai penjajah. Tapi para mereka adalah orang-orang yang lahir dari rahim tanah ini, makan nasi dari sawah ini, tapi tega menjarah rakyatnya sendiri yang masih hidup. Mereka tidak menunggu kita mati untuk merampas harta kita. Mereka memajaki napasmu, menguasai tanah tempat kamu berdiri, dan memonopoli air yang kamu minum. Mereka itu perampok. Mereka tidak punya rasa malu untuk mengambil sisa nasi di piring orang miskin.”
Aris menunduk, setuju dengan apa yang dikatakan kakeknya. “Tapi sebagian dari mereka dulunya adalah aktivis dan pembela HAM, mbah. Itu yang aku kesal.” Ia menyadari bahwa aktivismenya selama ini mungkin baru sebatas kulit, sebuah kemarahan yang belum diuji oleh godaan yang sesungguhnya. Mbah Waluyo benar, ketamakan para penguasa saat ini telah melampaui batas kewarasan manusia. Mereka tidak hanya merampas materi, tapi juga merampas harapan generasi demi generasi.
“Jangankan seorang aktivis. Seorang yang dididik dengan moralitas agama sekalipun, seorang yang berpendidikan tinggi sekalipun, bisa berubah menjadi iblis berseragam, Ris.” ucap Mbah Waluyo pelan namun tajam. “Jika nanti kamu duduk di kursi kekuasaan karena teriakanmu hari ini berhasil, ingatlah mayat kapten Belanda di hutan jati itu. Jika kami yang lapar saja mampu menahan diri untuk tidak mencuri dari mayat, maka kamu yang kenyang jangan sampai punya pikiran untuk mencuri dari rakyat hidupnya sekarat.”
“Insya Allah, aku nggak akan mau duduk di pemerintahan. Aku akan selamanya hidup bersama rakyat jelata di desa-desa, bukan di tengah Jakarta seperti saat ini.” Aris mengangguk-anggukan kepala.
“Mbahmu ini, berharap ucapamu bukan ucapan murahan, Ris. Tegas saat di luar, lalu lembek dan berkhianat saat mengetuk pintu sistem. Pamit sama teman-teman dengan alasan mengubah dari dalam, tapi malah dirinya yang diubah di dalam. Jangan ya, Ris!”
Gerimis baru saja turun, memulai ketukan nada ritmis di atas kanopi seng teras rumah Mbah Waluyo. Ia kembali menyulut kretek barunya, asapnya membumbung tinggi seolah ingin menyampaikan pesan kepada para kawan seperjuangan yang sudah lebih dulu meninggalkannya, bahwa di negara yang dulu mereka bela, kini makin gila. Banyak begal yang duduk di parlemen, kementerian dan lembaga. Dalam hati kecilnya, ia protes kenapa dibiarkan hidup lama sehingga menyaksikan perjuangannya dicabik-cabik preman dan begal berseragam. Ingin sekali ia menyusul kawan seperjuangannya dan menceritakan kepahitan negeri yang dulu mereka perjuangkan. Yang lebih pahit, ia harus berpura-pura legowo di hadapan cucunya demi mendidiknya menjadi lelaki yang tak cuma berjuang tapi juga bermoral.
Tebet, 6 Oktober 2026
Mataharitimoer
Indeks Bab & Opini Lainnya
- Membuang Diri18 Oct 2026 →
- Onlife Paradox: Dekat di Jari, Jauh di Hati15 Oct 2026 →
- Memilih Gila Biar Selamat13 Oct 2026 →
- Buruh jadi Menteri4 Oct 2026 →
- Sugiran dan Kursinya2 Oct 2026 →
- Berhala Pancasila1 Oct 2026 →
- de’Clan: Perang Para Bangsat10 Jul 2026 →
- Algoritma Revolusi11 Jun 2026 →