Buruh jadi Menteri

Aroma kemunafikan selalu lebih menyengat daripada bau limbah cair yang mengalir di selokan pabrik Jababeka pada pukul dua pagi. Di bawah pendar lampu neon warung kopi yang berkedip sekarat, Najamudin menatap layar televisi usang dengan tatapan yang mampu melubangi beton. Di kotak kaca yang sering menyiarkan janji palsu politisi, berdiri seorang lelaki berjas mahal dengan senyum yang sudah disterilkan oleh protokol istana. Itu Bung Marlan. Lelaki yang tiga bulan lalu masih memaki-maki polisi di depan gerbang kawasan industri sambil mengutip ayat-ayat perlawanan. Kini dia berdiri tegak menerima lencana, menjadi bagian dari mesin yang setiap hari menghisap sumsum tulang para buruh.

Najamudin meludah ke tanah. Rasa pahit kopi sachet di lidahnya mendadak berubah menjadi rasa tembaga.

Warung kopi Mang Odon ini adalah saksi bisu bagaimana rencana pemogokan besar-besaran disusun di atas meja kayu yang sudah berlubang dimakan rayap. Cikarang malam itu terasa sangat lembap, udara dipenuhi jelaga knalpot truk kontainer dan bau keringat buruh shift malam yang baru pulang. Najamudin teringat kata-kata Marlan di meja ini, tepat di kursi plastik biru yang sekarang ia duduki.

Marlan pernah berkata bahwa kekuasaan adalah lubang kakus yang hanya akan membuat siapa pun yang menceburkan diri ke dalamnya menjadi tinja. Marlan bilang, “Menjadi oposisi adalah jalan para martir, sementara menjadi menteri adalah pelacuran intelektual yang paling rendah.”

Najamudin memegang erat gelas kopinya, merasakan panas yang merambat ke telapak tangannya. Mencoba mencari sisa-sisa kejujuran dari bayangan Marlan yang dulu.

Dialog itu terngiang kembali seperti kaset rusak yang diputar berulang kali di kepala Najamudin. Saat itu hujan lebat mengguyur atap seng warung, menciptakan kebisingan yang mengisolasi mereka dari dunia luar. Marlan menatap mata Najamudin seperti tatapan seorang nabi palsu dan berkata, “Jangan pernah berkompromi dengan penindas. Jangan pernah mau duduk di meja makan yang sama dengan orang-orang yang mencuri jatah nasi anak-anak kita!”

Najamudin menghisap kreteknya dalam-dalam. Melepaskan dengan desah berat dari bibirnya. Sekarang Marlan bukan hanya duduk di meja makan itu, dia bahkan sedang memegang garpu dan pisau, siap menyantap hidangan yang dimasak dari jatah nasi anak-anak para buruh, kawan-kawannya sendiri. Baginya Marlan adalah pahlawan tapi melihat betapa cepatnya lidah manusia berubah fungsi, dari pedang yang menebas ketidakadilan menjadi kain pel yang membersihkan sepatu penguasa, Najamudin tak bisa berkata-kata. Hanya bisa menghisap kretek berbatang-batang.

Di layar televisi, Marlan pidato tentang harmonisasi hubungan industrial dan pentingnya stabilitas nasional untuk investasi. Kata-kata itu terdengar seperti racun yang dibalut madu. Najamudin tahu betul arti kata stabilitas bagi mereka yang tinggal di kontrakan petak tanpa ventilasi. Stabilitas berarti upah yang ditekan agar investor tidak lari. Stabilitas berarti larangan bersuara saat mandor bertindak semena-mena. Marlan yang dulu membakar semangat massa untuk merobohkan barikade, kini bicara tentang kedamaian sosial dari balik podium yang dijaga ketat. Tidak ada lagi teriakan lantang tentang hak asasi manusia, yang ada hanyalah gumam tentang pertumbuhan ekonomi yang angkanya hanya indah di atas kertas laporan namun busuk di dalam perut rakyat jelata.

Seorang buruh muda di sebelah Najamudin ikut menonton dengan mulut menganga. Dia baru setahun bekerja di pabrik otomotif dan masih menganggap Marlan sebagai role model yang membawa mereka ke gerbang kesejahteraan. Kasihan sekali anak ini, pikir Najamudin. Dia belum tahu bahwa dalam politik, kaum buruh hanyalah angka yang bisa dinegosiasikan untuk mendapatkan posisi di kabinet.

Najamudin ingin berteriak pada anak itu agar mematikan televisinya, agar jangan percaya pada wajah-wajah yang bersinar karena bedak studio. Martabat kaum tertindas tidak pernah ditemukan di dalam gedung kementerian. Martabat itu ada di sini, di kepalan tangan yang tetap kokoh meski tidak ada kamera yang menyorot, di dalam kesetiaan pada kawan yang tidak bisa dibeli dengan jabatan komisaris atau jabatan lain pendukung rezim.

Najamudin mengeluarkan sebatang kretek lagi dari sakunya, menyulutnya dengan korek api gas yang hampir habis. Asap tebal memenuhi paru-parunya, memberikan sedikit ketenangan di tengah badai kemarahan yang berkecamuk.

Dia teringat saat mereka dikejar-kejar aparat di gerbang tol dua tahun lalu. Saat itu Marlan berjanji akan terus bersama mereka sampai titik darah penghabisan. Ternyata titik itu sudah habis, bukan karena darah, melainkan karena kucuran dana taktis dan fasilitas mobil dinas yang mengkilap.

Najamudin menyadari bahwa pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh yang kita kenal, melainkan dari idola yang kita bangun di dalam sanubari sendiri. Dia melihat tangannya yang hitam karena oli mesin. Tangan yang tidak akan pernah sudi bersalaman dengan tangan Marlan yang kini sudah wangi parfum khas para pembesar.

Malam semakin larut di Cikarang. Suara mesin pabrik dari kejauhan terdengar seperti erangan raksasa yang sedang sekarat. Najamudin berdiri, membayar kopinya dengan uang koin yang ia kumpulkan dari saku celana kerjanya. Dia tidak butuh kemewahan kabinet untuk merasa menjadi manusia. Baginya, berdiri tegak di atas prinsip jauh lebih terhormat daripada berlutut di bawah meja kekuasaan daripada menhisap sumsum dari sisa-sisa tulang kaum buruh.

Dia berjalan keluar menuju kegelapan jalanan di kawasan industri yang dingin. Di belakangnya, suara pidato Marlan di televisi perlahan memudar, tenggelam oleh deru mesin dan bisingnya dunia yang tidak pernah peduli pada hati yang patah karena idealisme yang dijual murah. Najamudin melangkah pasti, membiarkan debu aspal mengotori sepatunya, karena dia tahu bahwa di jalanan inilah kebenaran yang sesungguhnya bersemayam, jauh dari lampu-lampu Jakarta yang menipu.

Besok dia akan kembali ke pabrik, memimpin barisan buruh yang tersisa untuk menuntut apa yang menjadi hak mereka. Tanpa Marlan, tanpa pahlawan karbitan, tanpa janji-janji manis dari atas podium.

Najamudin paham bahwa perjuangan kelas tidak membutuhkan nakhoda yang mudah mabuk laut saat mencium aroma kekuasaan. Perjuangan ini membutuhkan keteguhan hati sekeras baja. Dia tidak akan mengemis iba pada menteri baru itu. Dia akan terus melawan, karena baginya, lebih baik mati sebagai buruh yang tertindas tapi merdeka jiwa daripada hidup sebagai pejabat yang jiwanya digadaikan pada setan birokrasi.

Cikarang mungkin gelap, tapi di dalam dada Najamudin, ada api yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh air dingin dari botol mineral di atas meja rapat kabinet. Idealisme adalah satu-satunya harta yang tidak bisa disita oleh penguasa, selama kau tidak menukarnya dengan kursi empuk kekuasaan.

Cibitung, 2026

Mataharitimoer

📖 Lanjut Membaca Tanpa ke Beranda

Indeks Bab & Opini Lainnya