Kelas Perubahan

Pada penyelenggaraan Akber Bogor kelas kelima kemarin, ada satu hal yang menjadi perhatianku. Perhatian tersebut tentu berkaitan dengan kelas-kelas sebelumnya, yaitu membludaknya peserta yang hadir untuk belajar. Tercatat sekitar 200 peserta memenuhi Aula Kampus Bogor Educare, yang bersih dan luas. Banyaknya peserta yang hadir tentunya berkaitan dengan apa topik yang dipelajari.

Kelas kelima Akber Bogor (8/9/12) menghadirkan guru, seorang blogpreneur dari Gunung Kelir, Purworejo, Mas Sugiharto. Mas Toto (begitu biasa ia disapa) memberikan materi tentang mengelola usaha melalui blog. Sebagaimana karakteristik kelas Akademi Berbagi, tentunya sang pengajar adalah seorang praktisi atas apa yang ia ajarkan. Pada kelas kelima kemarin, Mas Toto – yang bisa disapa di twitter dengan akun @gunungkelir – membeberkan berbagai rahasia keberhasilannya dalam mengelola usaha peternakan kambing etawa melalui optimasi blog. Di Bogor, topik yang berkaitan dengan blog, menulis, dan usaha, memiliki daya pikat lebih dibandingkan topik lainnya.

Ketika Akber Bogor membuka kelas pertama tentang Dari Blog Menjadi Buku, peserta yang hadir mencapai 100 orang. Begitu pula ketika kelas Bawel Menulis Novel, yang menghadirkan novelis Sepatu Dahlan, Khrisna Pabichara, ruangan kelas dipadati sekitar 200 orang lebih. Padahal setiap membuka kelas, Akber Bogor hanya membatasi sampai 20 peserta saja. Ini merupakan kebanggaan sekaligus masalah. Lho?

Menjadi sebuah kebanggaan saat melihat betapa banyak orang yang ingin belajar bersama, membekali diri mereka untuk melakukan perubahan maupun peningkatan kualitas hidupnya. Siapa yang tak bangga menyaksikan masih banyaknya pembelajar, di tengah hiruk pikuk kaum muda yang hanyut dalam hedonisme.

Menjadi masalah apabila, para penggerak Akber Bogor – yang semuanya adalah blogger Bogor –  tak bisa menyediakan tempat belajar yang cukup luas untuk menampung banyaknya peserta yang hadir. Karena itu jalinan kerja sama antara Akber Bogor dengan pengelola kampus yang ada di Bogor harus selalu terjaga. Karena sampai hari ini hanya kampus yang bersedia memberikan ruang gratis buat kegiatan Akber Bogor. Di awali dengan kesediaan Kampus Universitas Pakuan, Universitas STIE Triguna, Kampus Bogor Educare, dan untuk kelas keenam (Oktober) adalah Kampus Pesantren Daarul Uluum.

Cukupkah sampai di situ? Jelas tidak. Menurutku sedikit dan banyaknya peserta dalam kelas Akber bukanlah ukuran keberhasilan. Sebab jika hanya sampai di kelas saja, apa yang kita berikan belum mengubah keadaan. Sang pembelajar boleh jadi masih mengendapkan apa yang mereka dapatkan di kelas Akber dalam pikirannya. Lalu dimanakah ukuran keberhasilan Akber Bogor?

Menurutku, ukuran keberhasilan Akber Bogor adalah ketika ada peserta yang langsung menerapakan apa yang mereka dapatkan. Jadi tidak sekadar menjadi pemenuh memori kepala. Tidak sekadar menjadi impian semu. Apa yang didapatkan dalam kelas Akber sepantasnya menjadi pemicu untuk melakukan apapun yang menjadi nilai tambah bagi kehidupannya. Tetapi dari mana mengukurnya?

Inilah pentingnya tindak lanjut sebuah kegiatan. Gampangnya, para peserta kelas Akber harus tetap terkoneksi dengan jaringan komunikasi Akber dan atau Blogger Bogor. Dengan begitu, kita bisa melihat dan mendapatkan informasi tentang perubahan penting yang mereka lakukan setelah mengikuti Kelas Akber. Begitu pula dengan para guru.

Karena itu para penggerak Akber, Blogger, dan para Guru terbiasa mempersiapkan kelas dan tindaklanjutnya seusai acara. Seperti yang sering dilakukan di Kandang Kambing.

Begitu pun saat menjadi pewara di kelas Mas Toto kemarin, aku menyampaikan kepada para peserta untuk menindaklanjuti kelas ini dengan komunikasi langsung kepada sang Guru melalui akun media sosial seperti facebook dan twitter. Komunikasi ini tentunya menjadi tanggung jawab moral bagi sang guru atas “pembakaran” semangat perubahan kepada para peserta. Dengan begitu tak berlebihan jika kusebut, kelas yang diselenggarakan oleh Akademi Berbagi adalah Kelas Perubahan. Kelas yang tidak berhenti pada tataran kognitif saja, tetapi menjadi pemicu untuk memacu perubahan kualitas hidup peserta.

sumber foto: akberbogor/wkf