Jazz & Singkong

 

Hujan malam itu menambah dingin rasa di badan. Aku bersama teman-teman baru saja akan memulai sebuah pagelaran. Apakah mereka akan datang sementara hujan makin melebat? Ah, tak kupikirkan. Berapa orang pun yang hadir, acara Jazz & Poem harus tetap berlangsung. Inilah acara yang memadukan musik jazz dan puisi, sebagai persembahan kami atas kebersamaan dan kekeluargaan yang terjalin dengan kisahnya tersendiri.

Rupanya hujan bukan hambatan. Satu persatu sahabat datang, duduk, bercengkrama, ngopi, dan mengunyah singkong dan ubi yang disajikan buat semua. Pertemuan yang terakhir cukup lama terjadi, melewati enam bulan purnama. Atau mungkin lebih. Malam ini semua kembali meluapkan kerinduan.

Dua pedagang siap sedia di bawah tenda. Ini salah satu kebiasaan Idang Rasjidi; mengundang pedagang yg lewat di sekitar rumahnya, sebagai penyedia konsumsi bagi hadirin. Rezeki Tukang Somay dan Sate Ayam rupanya harus melalui acara sederhana ini.

Jazz & Poem kali ini bisa dibilang Edisi #Jazzingkong. Bukan sekedar cemilan utamanya adalah singkong goreng, tetapi ada makna yang bisa kita serap dari singkong. Dalam jazzingkong, semua hadir dalam kesederhanaan dan menginsyafi filosofi singkong sebagai makanan dari bumi yg sederhana namun melegenda, digemari banyak orang tak terbatasi masa.

Inilah acara sederhana para musisi jazz, penyair, pelakon teater, penulis, editor, blogger, jurnalis, dan siapapun yang hidup bersama dalam keberagaman karakter dan gaya, yang membentuk sebuah harmoni. Latar belakang kami semua berbeda, tetapi dapat menyatu karena satu pertautan: sikap sederhana.

Inilah mengapa Idang Rasjidi menyampaikan Senandika di sela konser ala kampung, Rabu malam kemarin (11/7). Beliau berbagi pendapat tentang kesederhanaan, kepongahan, dan kebersamaan. Poin senandikanya dapat kita lihat di MT Channel on Youtube.

Selebihnya, silakan nikmati saja sajian Jazz & Poem #Jazzingkong Edition, melalui Youtube dengan playlist #JazzPoem di MT Channel. Saksikan sendiri bagaimana eksperimen teman-teman tentang ekspresi bermusik dan berpuisi. Ada yang memanfaatkan alat tradisional perkusi asal India, Udu. Bisa dilihat pada video berjudul Indolansia. Ada juga sajian Jazz Bertembang Melayu yang dinyanyikan oleh Yendri Blacan, anak didik Idang Rasjidi. Kita akan terbelalak melihat Joy, seorang bocah usia 9 tahun, yang memainkan Sentimental Rythm. Banyak lagi keunikan lainnya. Silakan pilih sendiri.

Mengenai suasana dan tautan ke video secara spesifik, dapat dilihat pada linimasa dengan hashtag #JazzPoem dan #Jazzingkong

Posted from WordPress for Android