Rencana membawa penjara ke Car Free Day di sekitaran Hotel Mandarin akhirnya kesampaian juga. Minggu, 9 November 2014 kemarin merupakan pertama kalinya ada R #PenjaraNETIZEN di CFD Jakarta. Penjara ini dibuat oleh teman-teman ICT Watch untuk dipakai oleh siapa saja yang merasa perlu. Indonesian Corruption Watch adalah organisasi yang pertama kali memajang Penjara Netizen yang diopreg oleh DBU, Frenavit, Almas, dan aku.

Buat apa sih bikin penjara-penjaraan?

Penjara Netizen dibuat karena terpicu oleh permasalahan semakin tingginya korban kriminalisasi UU ITE, pasal 27 ayat 3. Berdasarkan data terupdate dari SAFENET, sejak 2008 hingga kini pasal 27 ayat 3 UU ITE telah menjerat setidaknya 71 netizen. ada pun 49 di antaranya terjadi hanya pada tahun 2014. Ini menandakan pada tahun di mana Presiden SBY berakhir jabatan, dan Jokowi mulai menjabat, sudah banyak makan korban. Picuan kasus-kasus UU ITE, ditambah dengan kenangan Penjara Blogger yang pernah dipajang ICT Watch pada acara Pesta Blogger 2009, akhirnya Penjara Netizen dibangun.

Ini seperti sebuah mimpi buruk yang sengaja dibangunkan kembali. Mimpi buruk yang mengancam netizen di Indonesia jika tak belajar dari banyak kasus yang ada. Mimpi buruk yang gentayangan di ajang Car Free Day, dengan harapan masyarakat juga semakin cerdas dan bijaksana dalam berinternet dan bermedia-sosial. Tidak asal nyerocos seperti rentetan petasan yang disundut dan buyar ke mana-mana. Penjara netizen mengajak semua pihak untuk peduli agar UU ITE dibenahi.

Bagaimana respon masyarakat?

Sejak jam 6 hingga jam 10 pagi banyak warga Jakarta berfoto di penjara netizen. Mereka bebas selfie. Ada yang sendiri, berdua, dan berjubal di dalam penjara. Beberapa orang yang kutanya kenapa mau berfoto di Penjara Netizen, umumnya baru “ngeh” tentang risiko bermediasosial sejak kasus Flo muncul hingga bombastis berita kasus MA terkait Jokowi. Kasus lainnya, banyak yang belum tahu. Seorang warga usai motret sempat berkelakar, “ini sebenarnya gara-gara Facebook! Gara-gara Twitter!” Kutimpali, “nggak cuma dua itu pak. Path, BBM, bahkan SMS aja bisa bikin kita masuk penjara.” Mendengar tanggapanku, ia mengerutkan dahinya, “Masa, sih? Wah negara apa kita ini?” umpatnya.

Makin siang, makin beragam orang mampir dan berfoto di Penjara Netizen. Pakar IT Onno W. Purbo bahkan sempat wawancara video dari dalam penjara netizen. “Ini ide bagus banget!” Ungkap Kang Onno. Teman-teman pegiat TIK dan keamanan internet yang sedang berkampanye Kedaulatan di Dunia Maya, juga bergantian selfie di Penjara Netizen.

Satu orang lain yang tiba-tiba mampir adalah Menkominfo yang baru, Bapak Rudiantara. Ia menyampaikan bahwa penjara ini amat menarik perhatian, saat ia sedang jogging di CFD. Aku sempat mikir sih, kalau tadi seorang Dirjen dari Kemkominfo tak berani berfoto di Penjara Netizen, bagaimana dengan Menterinya. Saat kuajak, rupanya ia tak menolak. Ia pun berfoto di Penjara Netizen. Usai berbincang tentang poster-poster yang dipajang di dinding penjara, pak Menteri pun melanjutkan jalan kakinya.

Kapan dan Dimana lagi?

Rencananya Penjara Netizen akan dikelilingkan ke mana saja teman-teman meminta. Jika waktunya pas, tak bentrok dengan jadwal dan daftar peminjaman, boleh saja meminjam penjara netizen. Babeh Helmi berencana mengusulkan pemajangan Penjara Netizen ini pada acara Kompasianival 2014. Fajar Eri juga berencana memajang penjara ini di CFD Bandung. Bukan cuma untuk foto-foto, tetapi sekadar melakukan cara lain yang tak membosankan untuk mengajak masyarakat agar mengerti dan peduli tentang pentingnya Revisi UU ITE, agar kebebasan berekspresi di negara ini tak dibungkam dan tak dipendam.
Error 100: Your album id doesn’t appear to be accessible.