Site Overlay

Tabiat Netizen (Eksperimen Konten)

Isu PPKM Darurat viral sejak pertamakali diumumkan Jokowi sampai tulisan ini saya buat. Persoalannya, kebijakannya darurat tetapi kompensasinya santuy. Ada yang tak seimbang. Wajar kalau rakyat Indonesia yang gampang ngegas langsung melawan dengan petisi kenyinyiran.

Kesantuyan terlihat dari persoalan Bantuan Sosial Tunai yang lebih biasa disebut Bansos. Tidak sedikit rakyat yang kecewa karena namanya tak terdaftar di cekbansos.kemensos.go.id lalu solusinya pun tak dijelaskan di situs tersebut. Rakyat yang rada rajin mencari akhirnya dapat solusi. Ternyata harus daftar dulu dengan cara yang ribet sebab tak bisa online.

Ini salah satu poin yang saya sampaikan pada video berdurasi 10 menit. PPKM Darurat mengharuskan kita memenuhi kebutuhan sehari-hari secara online, tapi untuk daftar bansos tak bisa online alias harus urus sendiri, hadapi sendiri birokrasi yang biasanya ribet belibet.

Saat mau merekam video tersebut, tercetus ide. Saya mau coba menampilkan cuplikan yang menarik minat netizen. Ingin mendapatkan temuan apakah netizen bakal nonton full atau hanya 20 detik awal saja. Maka saya buatlah vloguĂ© “Cara Mendaftar Biar Dapat Bansos”.

Sengaja saya unggah duluan di Helo, platform media sosial baru buatan Bytedance yang punya Tiktok. Kenapa di Helo? Karena saya baru buat akun dan followernya cuma sedikit dibanding akun medsos lainnya. Jadi dengan follower yang sedikit tentu konten ini dilihat orang netizen yang tidak saya kenal.

Karena video tersebut saya sematkan tagar #PPKMDarurat maka viewnya pun tinggi, 27.8K sebab memang isunya lagi jalan.

Yang seru adalah komentarnya. Ini yang saya targetkan. Saya pun membaca semua komentar yang masuk dan saya simpulkan sebagai berikut:

  • Dari 79 komentar, lebih dari 90% saya duga tidak menonton konten sampai tamat.
  • Mereka terpicu pada intro video di 10-20 detik saja dan langsung komentar.
  • Isi komentar bukan bagaimana cara mendaftar bansos tetapi meluapkan kekecewaan terhadap pemerintahan Jokowi dengan makian yang khas.
  • Ada juga pendukung Jokowi yang ngegas karena hanya nonton 10 detik intronya saja dan langsung mencap saya Kadrun. Andai mereka nonton sampai habis, pasti malu menuduh saya Kadrun (Meskipun biasanya mereka gak punya malu, sih)
  • Yang merepost konten tersebut sebagian pun saya duga tidak menonton full. Begitupun 50 orang yang share, sama saja.

Begitulah eksperimen konten yang saya buat. Ternyata kesimpulannya tak jauh dari survey para ahli dan akademia tentang kenapa orang gampang banget terpancing menyebar kabar padahal mereka tidak membaca sampai kelar.

Menyedihkan memang melihat tabiat netizen kita. Mereka hanya lihat judul, hanya nonton intro –enggan membaca, menonton, mendengar, sampai selesai–, langsung sebar. Yang penting sesuai dengan selera dan napas kebencian. Ancur mina…

Apakah tabiat ini bisa diperbaiki? Saya yakin bisa meskipun kita harus sabar dan sadar bahwa mungkin kita bisa mengubah kebodohan namun amat sulit mengubah kebebalan.

Menurutmu?

%d bloggers like this: