Stigma Rambut Gondrong

Reva Juliany, ibu yang video protesnya viral karena anaknya syok dicukur-paksa rambutnya oleh guru SD, mengaku anaknya sudah pindah sekolah. Itu ia lakukan agar mental anaknya pulih. Bukan cuma itu, ibu Reva juga melaporkan kejadian tersebut ke Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Bandung. 

Yang bikin ibu Reva mangkel adalah alasan guru mencukur paksa anaknya, yaitu karena murid-murid lainnya protes soal rambut yang dianggap panjang. Bu guru juga bilang kalau ada peraturan sekolah tentang potongan rambut namun ibu Reva menanyakan kenapa orang tua tak diberitahu padahal pihak sekolah tahu nomor kontak orang tua murid.

Kenapa rambut pelajar tak boleh panjang (gondrong)?

Jawabannya sebuah pertanyaan, apakah ada pelarangan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk pelajar berambut gondrong? Sepertinya tak ada.

Peraturan tentang rambut biasanya bersifat lokal atau menjadi kebijakan sekolah. Dari beberapa bacaan, aku menangkap tujuannya, yaitu untuk melatih kedisiplinan dan kenyamanan.

Apa hubungannya kedisiplinan dengan rambut? Apakah rambut panjang atau gondrong terkesan tidak disiplin dan rambut stik atau cepak dianggap disiplin?

Itu stigmatik, sih. Pandangan seperti ini melembaga sejak zaman Orde Batu Baru. Zaman itu orang gondrong dianggap urakan, bandel, dan kesan negatif lainnya yang inheren dengan kriminal. Di zaman kekuasaan militer saat itu, rambut cepak adalah kesan terbaik.

Lihatlah tentara yang kedisiplinannya paling tinggi. Apakah ada tentara yang rambutnya gondrong? Tentu tak ada, dari ujung Barat sampai ujung Timur, tentara berpenampilan seragam: Cepak.

Kesan negatif terhadap rambut gondrong juga ditanamkan dalam film-film pada zamannya. Zaman dulu amat jarang ada tokoh jahat yang berpenampilan necis. Rerata urakan dengan rambut yang seolah tak terawat. Bukan cuma kutu yang hidup di rambut itu, mungkin kelompok mafia juga sembunyi di situ.

Anak generasi Z mana tahu stigmatisasi seperti itu. Mereka hidup di zaman yang lebih terbuka. Open minded. Pada zamannya rambut gondrong, bahkan bertatto tak mencirikan kriminal melainkan ekspresi pribadi yang harus dihargai. Beda zaman memang beda mindset.

Guru yang mencukur paksa anaknya ibu Reva mungkin memiliki mindset peninggalan Orde Baju Baru. Jika gurunya lebih terbuka terhadap perkembangan zaman boleh jadi malah akan menyarankan untuk menerapkan mode rambut yang menarik buat murid-muridnya. Apa lagi jika muridnya masih kelas pertama, masih berusia 7 tahun, tentu mentalnya mudah rapuh jika “dipaksa” rapih.

Lihat juga kecenderungan orang tua muda saat ini. Beberapa di antara mereka senang melihat anak lelakinya berambut gondrong. Kesannya lucu dan menggemaskan. Tidak semua, namun tren itu sebaiknya dipahami juga oleh guru.

Sudah saatnya kita memerdekakan diri dari stigma. Satu-persatu anggapan di zaman boomer akan luruh di zaman gamer. Dulu boomer anggap anak yang main hape malas belajar dan khawatir lihat konten porno. Ternyata generasi gamer bisa melakukan apapun untuk kebaikan hidupnya melalui hape. Mereka bisa belajar, berinteraksi, meneliti, dan memonetise keahliannya melalui hape.

“Tapi, konten porno, pedofil, dan bermacam kejahatan siber bisa mengancam anak kita!” kata orang tua boomer.

Lihatlah, mereka masih terpenjara dengan ketakutan-ketakutan siber yang bisa ditangkal jika memiliki literasi digital yang baik.

Aku berharap guru dan orang tua murid di Kab. Bandung bisa saling memaafkan dan memerdekakan hidup dari stigma.

2 thoughts on “Stigma Rambut Gondrong

  1. namanya juga sekolah. murid diajarkan untuk taat pada aturan, baik tertulis atau tidak. bukankah sejak dulu ada namanya norma? kalau selepas pendidikan, dia merasa nyaman dengan rambut gondrongnya, ya silakan saja. namun sebaiknya tetap rapi dan bersih karena itu sebagian dari iman (katanya)

    1. tinggal bagaimana komunikasi guru dan orang tua lebih baik terutama untuk ananak usia kelas kecil 1-3 SD ya

Menurutmu?

%d bloggers like this: