Algoritma Revolusi

Di sudut sebuah warung kopi dekat stasiun, saya memperhatikan seorang lelaki berjaket hijau pudar. Matanya tak lepas dari layar gawai yang tepian casingnya agak rompal karena sering dijepit di setang motornya. Jarinya bergetar pelan saat sebuah notifikasi pesanan masuk. Di layar itu, pilihan hidupnya cuma ada dua: kerjakan atau cancel.

Sama seperti pekerja ojol lainnya, dia paham konsekuensinya. Mengabaikan atau membatalkan pesanan berarti ratingnya anjlok. Sebagai buruh digital, rating yang anjlok adalah lonceng kematian bagi rezeki hari ini. Akunnya akan “diistirahatkan” oleh sistem, anyep tanpa orderan. Sementara kebutuhan hidup tidak bisa di-cancel. Anak istrinya di rumah tidak bisa menunggu rating pulih, baru bisa makan.

Ia, dan jutaan pekerja jasa pengantaran, kurir digital, hingga afiliator hari ini, hidup dalam sebuah perbudakan modern yang dipoles rapi. Mereka bekerja di bawah kendali absolut algoritma platform yang dingin, tak bisa diprotes, dan mutlak antikritik.

Ironisnya, kepatuhan buta pada mesin ini terjadi di tengah situasi hidup yang makin mencekik leher. Harga BBM terus merayap naik, harga sembako kian tak masuk akal, pajak ditarik secara agresif, sementara nilai rupiah kian terpuruk, diinjak-injak oleh kedigdayaan dolar yang membuat harga-harga barang melambung. Rakyat dipaksa memeras keringat lebih keras hanya untuk mempertahankan isi piring yang makin menyusut. Sementara presidennya mbacot, “rakyat di desa kan gak pakai dolar.” Sungguh somplak!

Hari ini kita telah bertransisi penuh ke era onlife. Sebuah ruang di mana kehidupan fisik di atas aspal dan kehidupan digital di dalam layar telah melebur tanpa batas. Bukan hanya pengemudi ojek daring, kita semua, tanpa memandang latar belakang ekonomi, sosial, maupun pendidikan, kini sangat bergantung pada platform digital untuk menyambung hidup, mencari informasi, dan menyuarakan isi kepala.

Akan tetapi sodara-sodara, begitu ruang onlife ini kita gunakan untuk memprotes kebijakan penguasa yang tidak berpihak pada rakyatnya, wajah ramah teknologi itu langsung berganti rupa menjadi monster yang menakutkan. Kritik di media sosial direspons reaktif dengan pemblokiran, suspensi akun, hingga intimidasi digital. Belum lagi teror feed medsos, ruang digital kita yang dipenuhi kabar mengerikan tentang represi dan intimidasi. Ada aktivis yang wajahnya rusak disiram air keras karena lantang bersuara, atau warga yang diintimidasi secara brutal oleh tentara hanya karena mempertahankan tanah mereka dari sengketa lahan. Ketakutan itu nyata, mengintai di balik layar telepon genggam kita setiap hari.

Kita adalah titik data yang dieksploitasi korporasi sekaligus dibungkam oleh negara. Di sinilah kesadaran baru harus tumbuh: Algoritma Revolusi.

Algoritma Revolusi bukan sekadar wacana akademis, melainkan manifesto perlawanan taktis. Ketika sistem digital digunakan untuk menindas, maka satu-satunya jalan hidup yang tersisa adalah membajak sistem tersebut dan menjadikannya senjata perlawanan massal.

Rakyat harus bergerak. Bergerak dalam semangat Algoritma Revolusi. Artinya, mulai berani menolak menjadi konsumen pasif yang tunduk pada isi beranda. Mulai melek taktik digital (algorithmic literacy). Kita harus mempelajari bagaimana sistem For Your Page (FYP) bekerja, bagaimana sebuah tagar bisa meledak menjadi trending topic, dan bagaimana menyiasati algoritma SEO. Tujuannya satu: memastikan jeritan kurir yang ditindas platform, tangisan warga yang tanahnya dirampas, dan kritik atas pajak yang mencekik, tidak tenggelam oleh algoritma joged gemoy dan goyangan seksis yang menjadi FYP untuk menidurkan kesadaran kita. Konten-konten kritik dan perlawanan rakyat jelata harus menggantikannya.

Ketika mesin sensor yang mahal menyaring keyword kritis, Algoritma Revolusi bergerak secara gerilya. Rakyat dengan kecerdasan organiknya akan melahirkan bahasa sandi, metafora, dan meme-meme satir yang gagal dibaca oleh kecerdasan buatan (AI) milik komdigi, BIN, Angkatan Siber, bahkan Buzzer dan aktivis penjilat (para pengkhianat revolusi). Kita merebut kembali narasi. Kita memaksa mesin untuk mengamplifikasi solidaritas, mengoordinasikan gerakan demo di aspal melalui jaringan chat terenkripsi, dan meledakkannya di ruang digital hingga menjadi tekanan publik yang meruntuhkan keangkuhan korporasi maupun negara.

Saya masih memperhatikan lelaki berjaket hijau lapuk di sudut warung kopi. Akhirnya ia menekan tombol accept, lalu menghidupkan mesin motornya dan melesat membelah kemacetan jalanan. Ada yang unik dari sorot matanya yang lelah. Di balik helm tanpa kaca, saya melihat sebuah tekad yang menyala. Gawai yang menjepit hidupnya setiap hari itu bukan lagi sekadar alat pencari nafkah yang mendikte nasibnya. Di tangannya, gawai itu kini bertransformasi menjadi sebuah pemantik.

Ia, bersama jutaan manusia lain yang bergerak di atas aspal dan di balik layar, tampaknya mulai sadar: situasi yang sangat menindas ini tidak akan berubah hanya dengan mengeluh tapi harus melenguh. Di era onlife ini, sebuah revolusi harus diledakkan. Bukan dengan bubukmesiu, melainkan dengan jari kita yang menolak untuk menyerah pada algoritma kekuasaan yang serakah.


Discover more from #blogMT

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply