Yang Paling Menarik dari Batu Akik

Belakangan ini sering banget kutemukan sekelompok orang berkumpul dan berbincang tentang batu akik. di pangkalan angkot dekat rumahku saja, kini ada 4 sentra batu. ada yang hanya jual-beli batu, ada pula yang sekaligus menerima pesanan memotong dan menggerinda batu.

Dalam perjalanan pun beberapakali kutemukan orang yang berbincang tentang batu. Masing-masing memamerkan dan meninggikan koleksinya. Ada yang punya Bacan, Kalimaya, Merah Delima, dan lainnya yang tak kumengerti bagaimana membedakannya. Buatku yang awam soal batu, hanya melihat beda warna dan bentuk saja.

Semalam dalam perjalanan pulang di Omprengan, aku menyimak perbincangan dua orang yang duduk di sebelahku. Mereka saling menjagokan batu miliknya masing-masing. Yang satu bilang sudah ada yang menawar sampai 20 juta tapi belum berani ia lepas. Yang satunya lagi tak mau kalah, ia menceritakan batu koleksinya yang dipamerkan di sebuah pameran batu di salah satu Mall di Bogor, ditawar hingga 50 juta. Juga tak ia lepas lantaran masih yakin akan ada orang lain yang menawar lebih tinggi.

image

Waktu aku ke Ambon, Sopir yang menjemputku di Bandara juga memamerkan koleksi batunya. Ia bahkan memaksaku mengenakan batu cincinnya. Setiap kali kupakai, ia selalu mengomentari “pas banget! cocok buat meningkatkan penampilanmu, Dik!” Serunya, semangat. Ia pun memintaku untuk memotret dan memajang koleksinya di Facebook. “Pajang di Facebook-mu. Kalau teman-temanmu suka, kasih nomor telepon saya. Bacan di sini kualitasnya lebih bagus dibanding kota mana pun.” tambahnya.

image

Aku pamerkanlah di Facebook. Mencoba menunggu respons teman-temanku yang juga keranjingan Batu. Sebenarnya aku tak habis pikir bagaimana bisa temanku, Manov, Abahzoer, dan Bang Iman, jadi keranjingan Batu. Saking gilanya mereka pada batu, saat aku ke Raja Ampat dan menampilkan foto-foto Kepulauan Raja Ampat, mereka berseloroh, “Bawa, Te ke Bogor, pasti laku dijual!”

Tapi kegilaan serius dialami Manov. Ia sampai melakukan ekspedisi pengumpulan batu di Garut. Sudah lebih dari 3 Truk batu dia beli dari Garut dan dipasarkan di Bogor. Laku?

Ternyata ada saja yang membeli bebatuan koleksi Manov. Mendadak ia menjadi juragan batu. “Dibandingkan royalti menulis, keuntungan menjual batu lebih cepat didapat, Te!” koarnya dan aku pun diajaknya terlibat dalam pemasaran batu paketan. Katanya sepaket bisa dijual 100 ribuan. Untungnya lumayan.

Apa yang paling menarik dan paling hebat dari batu akik? Lesatan pikiran itu muncul di kepalaku. Setelah kuperhatikan berbagai perbincangan para penyuka batu, aku menyimpulkan. Rupanya yang paling menarik dari batu-batu itu adalah omongan para penjualnya. Semakin tinggi omongan mereka tentang batu koleksinya, semakin tinggi juga kesan orang terhadap batunya. Menurutku bagaimana para penyuka batu itu mempromosikan batunya, itu yang paling menarik dan kadang menggelikan. Tapi sejujurnya, aku salut juga pada kemampuan ocehan mereka.

Bahkan ada yang berlebihan. Di satu sudut kota, ada yang menceritakan kalau batunya berisi kekuatan magis. Itu pula yang diceritakan oleh pak Sopir yang menjemputku di Ambon. Ia mengisahkan kalau batu Jahanam yang berwarna hitam memiliki khasiat menguatkan lelaki saat melakukan hubungan seks. Ia pun mengajarkan cara menggunakan Batu Jahanam itu agar khasiatnya terasa. Kutanya kepadanya, berapa banyak orang yang memesan Batu Jahanam darinya? “Banyak.” jawabnya.

Aku percaya? Aku tertawa saja 😀

Begitulah realitas penyuka batu yang kutemui dalam persliweranku. Batu perlambang kemewahan, kharisma, kekayaan, dan kejantanan, dapat ditemukan dari aneka ragam bebatuan.

“Om, adakah batu yang berkhasiat untuk memecahkan koruptor dan politisi kepala batu? Jika ada, bolehlah itu diberikan kepada anggota dewan dan pejabat publik di negeri ini” tanyaku iseng.

“Ada…” Jawabnya.

“Batu yang mana itu?” Tanyaku lagi.

“Batu Nisan!” jawabnya tertawa.