Aku tak pernah bermimpi bisa ke Raja Ampat. Tiba-tiba saja undangan dari mitra kerja kuterima via sms dan email. Aku diajak berbagi pengalaman tentang pemanfaatan internet dalam dunia pendidikan, kepada guru-guru SD, SMP, SMA di Sorong, Papua Barat. Di luar kegiatan tersebut, ada ajakan ke Raja Ampat. Siapa yang bisa menolak coba? Lha wong dari Pelabuhan Rakyat di Sorong, tinggal nyebrang saja, sampai ke gugusan karst Raja Ampat.

Tiba di pelabuhan, rombongan menaiki perahu cepat, agar perjalanan dapat ditempuh dalam 2 jam. Ada juga sekelompok pelancong yang memilih perahu kecil. Mungkin lebih dari 2 jam mereka baru akan tiba di pulau incarannya.

image

Perahu yang kami tumpangi tak terlalu kecil. Muat untuk membawa 20 orang pelancong. Aku memilih duduk di bagian belakang perahu, dekat dengan 2 mesin yang menjadi pendorong utama perahu ini.

image

image

image

Perjalanan sudah berjalan satu jam. Kami tiba di sebuah permukaan pasir putih di tengah laut. Orang sini menyebut lokasi ini Pasir Timbul. Memang jika dilihat dari keluasan, hamparan pasir putih ini seperti pulau di tengah lautan. Tak terlalu luas, justru itulah yang membuatnya indah. Dalam pikiran liarku, ini seperti jebakan yang ketika kita turun dari perahu, hamparan pasir putih ini akan menelan kami. Ah, untung itu cuma sekelebatan pikiranku akibat pengaruh film tentang lumpur hidup. 🙂

image

image

image

image

image

image

Sebelum tiba di Pulau Batu Pensil, kami melewati gugusan pulau-pulau kecil. Seperti memasuki sebuah pameran lukisan, satu persatu dari pulau yang kami lewati, amat menarik perhatian.
image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Usai makan dan bercengkrama, perahu kami kembali dinyalakan. Pencapaian berikutnya adalah Teluk Kabui, tepatnya di Pulau Manyaifun, di mana pak Frans membangun rumah di sana.

image

image

image

image

image

image

image

Jadi sudut mana yang paling kusuka? Jelas sebuah perhentian di Teluk Kabui ini, di mana aku bisa menikmati damai, berbincang panjang bersama pak Frans dan anaknya, melepas dahaga dengan air kelapa, menyelam, berenang, berteduh kala hujan, dan memanjati sebuah ketinggian dan menyaksikan kerendahan hati alam raya dan para penghuninya.

Sedikit saja yang kuceritakan di sini. Album foto lebih lengkap dapat dilihat di blog fotoku: Pic The Way it is.