Negara Mainan

bulan terpasung kekuasaan

Ingin menjadi baik itu susah. Kadang kita dipaksa keadaan untuk melakukan apa yang tak kita sukai lagi. Setiap orang punya batas kewarasan. Tetapi para pemain di negeri ini tak pernah menemukan kewarasannya sendiri. Negeri ini menjadi mainan. Setiap rezim selalu tunduk kepada kemauan penguasa yang sebenarnya, penguasa yang tak pernah duduk di kursi kekuasaan, tetapi bisa mengatur segalanya sesuai kemauan. Kemarin main bualan, kini main tangkap-tangkapan, besok entah mainan apa lagi yang mereka rekayasa untuk anak negeri yang tak pernah selesai mengobati korengnya sendiri.

NEGARA MAINAN

Aku ada di sebuah negara yang menjadi rebutan para pemangsa

Negara yang tak pernah benar-benar bekerja demi rakyatnya

Setiap masa, penguasa disibukkan dengan ancaman dan ketakutan

Setiap penguasa merawat sendiri hantunya

 

Negara ini laksana mainan

Menjadi rebutan bocah ingusan

Bocah yang menang bebas menendang

Bocah yang kalah memorak-porandakan

Sementara bocah lainnya menangis karena mimisan

 

Negara ini adalah meja judi para Jenderal

Setiap Jenderal memiliki pasukan

Bala tentara siluman, setan, dan mutan

Bukan untuk melindungi negeri dari ancaman

Tapi untuk merebut kekuasaan yang lepas dari genggaman

 

Kesatuan dan persatuan hanyalah ayat-ayat bualan

Mereka sendiri yang merusak tatanan

Mereka sendiri yang memelihara para peracau

Mereka sendiri yang mengembang-biakkan para pengacau

 

Seperti tanah garapan kala kemarau

Retak kekeringan

Rakyat kekurangan

 

Aku masih di sebuah negara

Tujuh presiden dengan satu dosa:

Tak pernah benar-benar bekerja untuk rakyatnya

Hanya menghidupi partai lidah berbisa

 

Aku tak percaya lagi pada reformasi

Bahkan revolusi pun memiliki pengkhianatnya sendiri

Aku hanya percaya satu kepastian:

Negara adalah musuh rakyat jelata

 

Bogor, 25 Januari 2015