Hayo siapa yang senang bergunjing? Pasti banyak yang nggak mau mengakuinya, meskipun mengisi waktu dengan menggunjingkan orang lain sudah jadi rutinitas harian. Ada saja yang setiap hari senang bergosip. Pagi, siang, bahkan malam pun diisi dengan gosip atau bergunjing. Jika tak bisa kumpul untuk bergosip, ada aplikasi chatting. Bisa aja japrian atau bahkan memang sengaja bikin grup chatting gosip. 

“kayak perempuan aje, lo, ngegosip melulu!” kata banyak orang begitu. Pernah dengar juga kan?

Padahal kenyataannya nggak gitu. Banyak perempuan yang gak suka gosip. Dan banyak juga lelaki yang setiap hari gosipan melulu. Jadi soal gosip ini gak usah dikaitkan dengan gender. Laki dan perempuan sama saja. Ada yang suka dan tak suka bergosip.

“Kan gue curhat sama lo, bukan gosip. Kalo gw gak boleh curhat sama lo, gue mesti curhat sama Mark Zukerberg, gitu?” 

Ya, curhat perlu biar waras. Apa lagi kalau curhat sambil ngopi. Cepet warasnya. Tapi ini tulisan tentang gosip. Memang kadang sulit membedakan antara gosip, curhat, nuduh, ngarang, dan fitnah. Soal itu, silakan ukur sendiri-sendiri aja. Jangan biasakan mengukur orang lain.

Ukur dirimu, baru sempatkan mengukur orang lain! Lalu perhatikan apa yang akan terjadi…” jiah, dah kayak Supertrainer aja, gue.

Gosip bisa saja membuat pertemanan menjadi akrab. Koq, bisa? Ya, bisa saja sebab sesama penggosip merasa sama-sama punya bahan obrolan yang mengakrabkan mereka. Bahkan mereka merasa punya satu obyek yang sama, misalnya sama-sama tak menyukai rekan bisnisnya, atau teman kantornya, bos atau siapapun dia yang sama-sama tak disukai. Kesamaan topik dan obyek membuat para penggosip /penggunjing menjadi lebih akrab. Bagus dong, ya?

Aku sering tak sengaja memerhatikan orang yang suka bergosip. Kadang di angkot, di halte, di kantor, bahkan saat si cafe dan warung. Seperti saat aku makan di warung Mamang Indomie, sekumpulan lelaki pengemudi ojek online mengisi paginya dengan gosip. Kadang tentang teman sesama pengemudi, kadang gosipin polisi, admin ojek online, dan tetangganya. Seru juga kalau memerhatikan mereka. 

Sama serunya kala makan siang di pusat kuliner emperan toko dekat tempat kerja. Kadang kuperhatikan ada yang asyik bergosip sejak menunggu makanan tersedia, saat makan, hingga makanan selesai, gosip tak kenal usai.

Seperti apa, sih indikasi keseruan bergosip? Berdasarkan pengamatanku di lapangan (udah kayak jurnalis investigatif aja), keseruan bergosip itu bisa dilihat dari 2 indikasi. 

  1. Saat bola mata semakin membesar dan fokus menyimak narasumber penggosip. Ini berarti yang mendengar sangat antusias dan terkepo-kepo (halah istilah apaan sih ini). 
  2. Indikasi serunya gosip bisa diperhatikan sejauh mana kemonyongan mulut sang pembicara penggosip. Semakin monyong mulutnya, biasanya semakin seru gosipnya. Kadang yang menyimak pun ikutan monyong kala menimpali sahabat gosipnya. Perhatikan saja sesekali.

Itu sih menurut pengamat gosip nasional aku 2 indikasi keseruan bergosip atau bergunjing atau simpelnya disebut ngomongin orang.

Kamu punya temuan lain soal indikasi keseruan bergosip? Share dong, siapa tau bisa menambah pengalaman saya agar bisa mengingat rasa malu saat sedang asyik ngegosip. 

Nah, kalau si grup chatting gosip indikasi keseruannya seperti apa, ya? Soal ini aku belum mendapatkan temuan.

preview tulisan ini tersedia juga di IG @mataharitimoer sebagai program #30haribercerita