Biarkan Suara Itu, Besarkan Saja Hatimu

Kopi seduhan Banthe Dhirapunno menambah panjang obrolan malam. Aku bertiga dengan Eyang Tjatur dan Kang Dobelden silaturahim merawat pertemanan ke Vihara sang Banthe. Selalu hadir pula sahabat kami, Siol Saragi Dabukke. Jika aku ke Medan, kami selalu menyempatkan ngopi bersama. Di mana saja yang sempat. Kadang di warung kopi seperti di Risreeto, maupun di tempat lain yang asyik. Pertemanan kami tulus dan tanpa prasangka meskipun berbeda agama dan budaya.

kami di indonesia theravada buddhis center, medan

Apakah ada perasaan tak nyaman dari kedua temanku yang kuajak mengisi malam pertama di Medan di Vihara? Tidak. Mereka asyik-asyik saja. Bahkan jika tak ada agenda perjalanan besok pagi, bisa jadi kami nginep di Vihara.

Begitupun saat aku mengajak Ustad Ace Pentura mengisi acara dan nginep di Catholic Center Medan. Tak ada rasa tak nyaman sedikitpun darinya. Kami tetap sahur di sana sebelum kembali ke Jakarta.

Pernah aku mengajak temanku mampir ke gereja untuk bertemu temanku yang lainnya. Aku sengaja mengajaknya masuk sebentar untuk melihat bagaimana temanku beribadah. Pulang dari sana kutanya, “apa yang lo rasakan sebelum dan sesudah masuk ke gereja tadi?”

“Awalnya gue ragu. Gue takut berdosa. Ya, gimana ya. Sejak kecil gue mana pernah berani masuk ke rumah ibadah agama lain. Tapi setelah di dalam koq gue merasa adem ya. Damai aja gitu melihat orang-orang pada tenang dengerin khotbah pendetanya terus khusyu nyanyi bersama.” Temanku menuturkan pengalaman pertamanya.

“Terus, lo merasa berdosa nggak? Atau lo kepikiran mau pindah agama nggak?” Tanyaku bercanda.

“Ya, nggaklah. Gue merasa tetap muslim dan gue jadi sadar aja kalo orang yang selama ini gue anggap kafir, ternyata punya cara sendiri dalam beribadah, yang juga terlihat damai. Kebawa juga damainya di hati gue. Ah, ternyata perbedaan kalo dilihat pakai hati, tentram yak.” Sebuah kesimpulan yang jujur dari temanku.

Masjid Al-Aqsa Menara Kudus (ekspedisi walisongo)

Aku selalu menikmati alunan adzan dari berbagai Masjid di berbagai kota. Aku pun merasakan keunikan adzan ketika shalat di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus.  Begitupun ketika di Aceh dan kota lainnya. Seperti ketika kunikmati alunan adzan dan rekaman pengajian dari tape recorder masjid di Manokwari.

Aku pun menikmati denting lonceng gereja, seperti saat berjalan di halaman Gereja Theresia dan Katedral di Jakarta. Juga kurasakan ketika berkunjung ke Ambon dan Mollo Utara. Bahkan alunan lagu “lihatlah anak domba Allah penebus dunia…” kusarankan menjadi pembuka film Gerobak Daring.

sebuah gereja di desa taiftob, mollo utara (gerobak daring)

Begitupun saat di Bali. Aku menikmati kegiatan relijius warga setempat. Menikmati indahnya canang sebagai tradisi persembahan di pura, di rumah-rumah, di jalan, bahkan di sebuah pura di tengah sawah di Ubud.

anak muda bali sedang meletakkan canang (picthewayitis)

Kunikmati juga bagaimana saudara-saudaraku melakukan ibadah di Vihara mereka. Di Bogor, Cipanas, maupun di Medan. Aku tak merasakan doa maupun bagian peribadatan yang mereka lakukan sebagai pengganggu kedamaian. Aku menyadari apa yang mereka lakukan adalah bagian dari cara mereka mendekatkan diri pada Tuhan. Mereka melakukan sesuatu yang spiritual.

saat imlek di vihara dhanagun, bogor (mt-kompasiana)

Di Aceh temanku pernah bertanya saat aku menyempatkan diri memasuki Vihara Dharma Bhakti di Peunayong. “Mau ikutan ibadah di situ, lo?” Jelas tidak. Aku sekadar menyambangi rumah ibadah temanku dan tak mungkin ikut beribadah.

Setiap agama dan keyakinan spiritual memiliki lantunan, wewangian, maupun bebunyian yang khas. Aku menginsyafinya sebagai sesuatu yang sakral. Menurutku tidaklah pantas sakralitas setiap ajaran dianggap sebagai pengganggu kehidupan.

Justru kalau kita bisa berdamai dengan emosi dan lingkungan, nada maupun gema spiritual akan terasa mendamaikan. Aku sampaikan begini sebab aku mengalaminya sendiri. Aku tak merasa terganggu dengan denting gamelan Bali yang hampir sering terdengar ketika kita melawat ke sana. Saat aku mampir ke sebuah Pura di Lombok, terdengar melalui speaker, umat Hindu sedang membacakan sesuatu yang tak kumengerti. Keras? Ya, tapi aku tak merasa terganggu. Malah aku minta tolong temanku, Fandhie dari Watchdoc untuk minta izin mengambil momen tersebut dimasukkan dalam film Lenteramaya.

kunjungan ke sebuah pura di lombok (lenteramaya)

“Lha dari jaman kuda gigit kue talam, kite udah biase adzan pake speker. Kite kagak usilin tetangge kite kalo lagi nyanyi ibadah di rumahnye. Kite juga kagak mabok nyium wewangian ngambreng kalo ngkoh Cinlung lagi bakar hio. Kenape orang sekarang jadi pade gampang keganggu ye?” Samber Bang Namun sambil nyocol tape uli.

Tak perlu juga merasa bangga menjadi toleran. apalagi merasa paling toleran sambil menyudutkan mereka yang terkesan intoleran. Persoalan tak selesai jika kita hanya adu mulut di media.

Jadi saudaraku sebangsa. Tak usahlah kita beradu argumentasi soal cara beribadah orang lain. Yang tak suka mendengar suara adzan, tak perlu minta dikurangi volume suaranya. Yang tak suka mendengar nyanyian umat nasrani tak perlu memintanya berhenti dan pindah lokasi. Tak perlu mengusik mereka yang sedang beribadah dengan asyik. Cobalah sesekali mendamaikan hati dari suara maupun aroma spiritual agama lain. Ingatlah, sudah banyak persoalan yang membuat kita begitu mudah dipancing amarah, yang saat ini sering kita temukan di berbagai media. Termasuk media sosial di dalamnya. 

Jika suara itu terlalu keras, lembutkan hatimu. Besarkan hatimu daripada suara-suara yang dianggap mengganggu.