Ajak Mencari Jejak

Meluangkan waktu spesial buat anak-anak bisa dilakukan saat akhir pekan. Permainan apa yang bisa dilakukan barengan antara orang tua dan anak?  Bisa saja main Monopoli,  Ular Tangga,  dan berbagai mainan lainnya. Main game bareng di gadget seperti tablet dan atau iPad juga bisa, tapi -menurutku- yang paling spesial adalah bermain bersama mereka tanpa gadget. Misalnya mencari jejak bersama anak-anak. 

image

Permainan mencari jejak amat mengandalkan kemampuan membaca peta. Kata pakar pendidikan anak, sih,  permainan ini sekaligus bisa mengasah kecerdasan spasial anak. Aku minta Raztan menggambar sendiri peta lingkungan sekitar rumah. Berdasarkan peta tersebut, aku menentukan misi yang harus Raztan dan Miki tuntaskan,  yaitu mencari beberapa benda yang kusembunyikan di tempat tertentu. Keberhasilan mereka, mendulang poin berimbalan (hadiah). Bagi anak-anak yang biasa bermain game di gadget,  permainan seperti ini dirasakan seperti menjadi aktor game secara live. Gembira tentunya.

Usai main di sekitar rumah,  sebagai hadiah keberhasilan mereka, aku mengajak mereka bermain hal yang sama di sekitar sawah. Ini adalah area bermain favorit anak-anakku. Bermain di ruang terbuka seperti di sawah seolah merupakan game level berikutnya,  hehehe…

image

image

image

image

image

Begitulah kiranya apa yang bisa kulakukan, sekadar bermain bersama mereka. Boleh jadi kegiatan seperti ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kecanduan gadget (game) yang kini menjadi tren balita dan anak-anak. Terutama ketika orang tua menjelaskan kepada anaknya bahwa bermain bersama di luar rumah lebih asyik dan menyenangkan ketimbang mainan gadget.

Menjelaskan keasyikan dan manfaat bermain bareng dibandingkan main gadget, menurutku lebih baik ketimbang cara lain seperti memblokir, melarang anak pegang gadget, menyembunyikan gadget atau apapun yang sifatnya memapas keingintahuan mereka. Cara seperti itu mirip dengan menakut-nakuti anak dengan hantu, setan, komunis, teroris, Islam fundamentalis, palu-arit, bulan-bintang, bintang kejora, dan ketakutan-ketakutan lain para hotel jenderal berbintang yang sewayahnya menjadi teladan kewarasan dan keberanian.

Aneka ketakutan itu parahnya ditutupi dengan slogan NKRI harga mati, padahal semestinya mereka percaya bahwa rakyat Indonesia cinta mati sama NKRI. Cuma seujung kuku aja rakyat kita yang terbius candu ideologi absurd yang diskriminatif dan intoleran.

Nah, yang seujung kuku itulah yang sebaiknya dibersihkan para Jenderal. Bersihkan tahi kukunya saja, tak perlu mencabut kukunya. Anda paham, Ndral?!

4 comments

Menurutmu?