Tjokroaminoto, di Antara Para Pemula dan Musuh Bersama

Dari film Guru Bangsa Tjokroaminoto kita bisa melihat bagaimana ideologi amat bebas dibincangkan pada zamannya. Mengusung cita-cita sosialis/komunis bukan hal yang tabu, apalagi sampai dilarang. Mencita-citakan Islam sebagai ideologi di Nusantara pun bukan suatu momok yang menakutkan. Negeri cikal bakal Indonesia pada saat itu amat terbuka terhadap berbagai aliran pemikiran dan ideologi. Kecamuk revolusi di negara lain, amat menginspirasi kaum muda yang gemar berpolitik pada saat itu. Ya, hanya pada saat itu. Tidak sekarang.

Aku berbincang dengan beberapa teman yang sudah menonton film tersebut. Ada yang berandai, tokoh seperti Tjokroaminoto muncul saat ini, mana kala Indonesia menjadi negara besar yang dikelola oleh para politikus berpikiran kerdil. Aku mengkritisi perandaian itu. Menurutku orang Indonesia saat ini tak membutuhkan guru bangsa seperti Tjokroaminoto.

Jika sosok terbuka dan dialogis seperti Tjokroaminoto ada pada saat ini, pasti akan dihujat banyak orang. Bangsa kita saat ini lebih gampang menghujat ketimbang menerima perbedaan. Bangsa kita lebih mudah diracuni pemikiran-pemikiran phobia terhadap sesuatu yang tak seperti apa yang mereka pahami. Boleh jadi apa bila Tjokroaminoto muncul hari ini, ia akan dituduh komunis karena menampung para penggerak komunisme seperti Semaun dan Musso. Ia akan dituduh gembong teroris karena mewariskan ideologi Islam -sebagai ide dasar negara baru yang diimpikannya- kepada Kartosuwiryo. Mungkin ia hanya akan dipuji karena menggembleng Sukarno yang mewakili pemikiran yang dianggap nasionalisme.

Bagaimana bangsa ini bisa menerima tokoh seperti Tjokroaminoto, jika orang seperti Gus Dur dituduh antek zionis, Cak Nur dianggap Yahudi, Munir dianggap antek asing, Ahok dibilang Cina kafir, yang agak kekiri-kirian disebut komunis, yang menampilkan identitas keislaman dituduh teroris. Begitulah, bangsa ini terlalu lama hidup dalam kecurigaan. Terlalu lama dipaksa hidup dalam keseragaman ketimbang keberagaman.

Kita sering melihat berbagai hujatan dan caci maki menyebar di negeri ini. Masih belum hilang dari ingatan, keriuhan Pemilu 2014 kemarin. Sebaran caci-maki lebih berlimpahruah ketimbang puja-puji. Beberapa dari pendukung Prabowo maupun Jokowi sama-sama penikmat caci-maki. Mereka sama-sama senang mengisi waktu untuk saling menjatuhkan, saling mencerca, dan menebar kebencian. Jika pada masa Tjokroaminoto, bangsa ini punya musuh bersama yaitu Kolonialisme, saat ini sama sekali tak mengenal musuh bersama. Selanjutnya anak bangsa lebih mudah mencari musuh dari saudara sebangsanya sendiri.

Siapa musuh bersama kita?

Sebentar. Kita ulas sedikit tentang film Tjokroaminoto. Menurut pantauanku dan juga beberapa teman yang ke bioskop, penonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto sangat sedikit. Kemunculan film ini sepertinya sial karena berbarengan dengan film Fast and Furious 7. Pengelola bioskop pun lebih memberikan ruang lebih untuk Fast and Furiois 7. Dari 5 studio, 4 menayangkan Fast and Furious 7, cuma 1 studio yang menayangkan Guru Bangsa Tjokroaminoto. Di beberapa bioskop begitu. Jumlah pengunjungnya pun amat sedikit. Dalam satu kali putaran, yang aku dan beberapa teman saksikan, penonton film Guru Bangsa Tjokroaminoto tak lebih dari 22 orang. Konon ada yang cuma 11 orang. Mengenaskan sekali nasib film sebagus ini.

Entah benar atau tidak, menurut pengamatan temanku di bioskop tempatnya menonton, lebih banyak yang menonton film Tuyul ketimbang Tjokroaminoto. Mungkin bagi mereka, Tuyul lebih menarik dan inspiratif ketimbang Tjokroaminoto. Boleh jadi ada benarnya. Negeri ini lebih terinspirasi oleh Tuyul, Kuntilanak, Wewe, dan segala macam kehororan ketimbang tokoh bangsa yang nyata-nyata manusia. Aku menghormati pilihan mereka karena boleh jadi pilihan mereka kepada Tuyul dan hantu lainnya, disebabkan oleh perilaku politikus saat ini yang kerap memuakkan. Tak ada yang pantas dihormati.

Politikus saat ini berbeda dengan zaman dulu, sebagaimana yang divisualkan film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Dulu, jelas terlihat mereka yang memilih jalan hidup sebagai politikus, memiliki idealisme dan cita-cita serius untuk mewujudkan tatanan baru, sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Bahkan seorang tukang dingklik (bangku kayu) dengan sadar menjadi anggota perkumpulan karena memiliki impian tentang persamaan dan kesetaraan.  

Politikus zaman sekarang lebih banyak disesaki oleh manusia yang tak tahu mau ngapain di Parpol, mau ngapain di DPR/MPR, selain mencari fasilitas hidup yang lebih mewah dari sebelumnya. Yang dikejar adalah kemewahan dan proyek-proyek istimewa sebagai anggota dewan yang terhormat. Yang aktif dalam politik saat ini kebanyakan mereka yang tak bisa berpolitik dengan budi pekerti luhur. Sejak awal bergabung dalam sebuah partai politik, mereka sudah diracuni dengan doktrin bahwa partai politik lain adalah musuh yang harus direbut kekuasaannya kecuali, mau berbagi keuntungan politik dan finansial.

Jika politikus zaman dahulu kerap belajar berorasi dan berdiplomasi, politikus saat ini lebih suka onani dan transaksi. Onani? Maksudku onani pernyataan. Seringkali anggota parpol mengeluarkan penyataan sebelum dipikirkan baik-buruknya. Mereka tak sanggup diajak berpikir, merencanakan dengan matang apa yang semestinya dikeluarkan sebagai pernyataan politik. Asal jeblak, kalau kata orang Betawi. Anggota DPR pun lebih gemar bertransaksi ketimbang diplomasi. Pragmatis, yang penting partainya kebagian jatah kekuasaan.

Film Guru Bangsa Tjokroaminoto berdurasi nyaris 3 jam. Tetapi itu pun belum kuanggap tuntas menampilkan sosok Tjokroaminoto sebagai guru bangsa. Mungkin film ini lebih pas jika dibuat menjadi dua atau tiga bagian sehingga bisa menyampaikan sejarah secara lebih utuh. Misalnya saja, dalam tayangan Mata Najwa tentang film ini, sempat diulas bagaimana pengaruh Tjokroaminoto terhadap Semaun, Musso, Sukarno, dan Kartosuwiryo. Sayangnya “roll film” Tjokroaminoto tak cukup panjang untuk menggambarkan interaksi Tjokroaminoto, Semaun, Musso, dan Sukarno, dengan Kartosuwiryo. Tokoh bangsa yang memproklamasikan Daarul Islam/Negara Islam Indonesia ini seolah tak boleh hadir sebagai bagian dari sejarah. Alasan Kartosuwiryo masih terlalu muda sepertinya memang masuk akal. Usianya lebih muda 4 tahun dengan Sukarno tetapi Sukarno juga memiliki pautan usia yang cukup jauh dengan Semaun dan Haji Agus Salim. 

Terlepas dari urusan usia, jika memang film ini bertujuan untuk memberikan pendidikan politik tentang keberagaman dan dialektika pemikiran, tak cukup adil memenggal potongan sejarah tentang Kartosuwiryo. Sebab menurutku, Kartosuwiryolah yang berhasil menangkap gagasan Tjokroaminoto tentang “hidjrah”. Kartosuwiryo mampu menuliskan dua jilid buku tentang Sikap Hijrah PSII, sebuah buku yang secara lengkap mensistematiskan gagasan hijrah Tjokroaminoto dan menjadi pedoman dalam mewujudkan Negara baru sebagaimana yang dicita-citakan oleh Tjokroaminoto.

Tapi itu menjadi hak Garin. Meskipun tak memiliki “roll film” yang panjang, kuanggap ia sudah baik banget mengemas film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Sejak awal hingga akhir, penonton dihibur dengan gambar-gambar yang berpuisi. Ya, begitulah hidangan Garin yang tak pernah mengecewakan para penikmat karyanya. Dari film ini aku berharap ada perubahan bagi bangsa ini dalam menerima perbedaan. Terutama perubahan di kalangan orang politik, yang lebih sering membiarkan rakyat menghadapi sendiri permasalahannya, mengobati sendiri lukanya, dan merawat sendiri dendamnya. Dari pemilu ke pemilu, rakyat dipaksa memilih wakil yang tak dikenalnya dan kerap menjual kesengsaraan untuk memenangkan transaksi demi kepentingan partai. Anggota DPR dan Partai Politik, tak benar-benar ada untuk mengubah nasib rakyat.

Kembali ke pertanyaan yang terlupakan di atas. Kalau begitu siapa musuh bersama kita?