Tanpa Uang, Perubahan Tak Terbeli

Musim ini merupakan musim kebangkrutan bagi The Flowers FC. Sejak awal musim klub besutan MT ini harus menjual beberapa pemain tua untuk mendapatkan pemain muda yang lebih enerjik dan tak sering didera cidera.
image

MT terlihat kesulitan mengelola tim tanpa dana yang memadai. Lazimnya klub sepak bola performa tim harus tetap stabil. Latihan demi latihan dilakukan secara rutin. Hingga tersisa 2 laga terakhir melawan Senklen FC dan Bozz FC, The Flowers mengalami kesialan beruntun.

Melawan Senklen di laga ke 25, Flowers tersingkir dari puncak klasemen ke posisi 3, sebab Braybrook menang melawan tim papan bawah. Pada laga tersebut pun kedua striker tersisa, Elior Cohen dan Kaytanka mengalami cidera di awal pertandingan. Melanjutkan pertandingan tanpa striker murni, sulit berharap menang. Ditambah ganjaran 1 kartu merah untuk Bek Tengah, Gonzales, lengkaplah kesialan The Flowers.

“Tekel yang kulakukan sebenarnya biasa saja. Mungkin karena ini laga terakhir melawan Senklen, atmosfirnya menjadi terlalu panas dan ketat. Wajar wasit menendangku keluar lapangan.”

~ Gonzales saat press release usai pertandingan.

image

Pertandingan terakhir melawan Bozz FC sudah bisa diprediksi. Flowers akan sulit meraih kemenangan. Kedua striker dipaksa bermain meskipun masih dalam proses pemulihan singkat. Jika laga terakhir melawan Bozz FC menang, Flowers dipastikan mengakhiri musim sebagai juara karena memiliki selisih gol lebih tinggi dari pada Braybrook. Hasil imbang atau kalah sama saja bagi Flowers. Klub ini akan tetap manteng di posisi ketiga, sebab Senklen menang 1 poin dan selisih gol kemasukan dan memasukkan.

image

Dengan kondisi penyerang yang tidak fit, akhirnya Flowers menyerah 0-1 terhadap Bozz FC. Flowers harus puas di peringkat ketiga. Beruntung masih bisa mengikuti Liga Champion musim depan.

Di ajang Liga Champion musim ini, performa Flowers pun buruk. Tim yang dikapteni oleh Dekap Kuta ini hanya sanggup bermain di babak penyisihan. Masih mending di Cup. Flowers mengakhiri prestasinya di semi final dan mendapatkan juara ketiga.

Dari sini dapat dievaluasi bahwa keuangan amat penting bagi klub yang memiliki ambisi merebut peringkat atas di tiga pertandingan: Liga, Cup, dan Champion. Tanpa pendanaan yang kuat, sebuah tim tak akan sanggup bersaing karena tak bisa membeli pemain yang memiliki kualitas sesuai dengan musimnya. Pun kesulitan membayar gaji dan bonus pemain.

Ini harus menjadi perhatian manajer The Flowers, untuk memenangkan perebutan pemain di Pasar Transfer jelang musim berikutnya.

Situasi krisis memang menggemaskan. Belanja pemain memang semahal belanja UPS di DPRD DKI Jakarta. Kekuatan tim lawan dari sisi keuangan dan token, pasti akan menyingkirkan tim yang sedikit lebih lemah, dan tim yang memang memulai kompetisi dengan krisis keuangan.

“Musim depan Manajer harus menambah pemain bintang di tiga lini. Jika tak berhasil, jangan harap kami bisa bersaing di kancah internasional (Liga Champion). Kami sudah biasa menjadi juara di Liga. Kami masih bermimpi menggenggam piala Liga Champion di akhir musim depan. Tetapi tanpa pemain berkelas yang dibeli Klub, kami hanya akan mengulangi kegagalan seperti musim ini.”

~ Dekap Kuta, kapten The Flowers.

“Kami harus mendapatkan pemain berkualitas. Modal 90 M untuk musim depan hanya bisa untuk membeli 2 pemain standar atau 1 pemain berkelas. Sepertinya kami harus rela menjual pemain terbaik yg sejak muda dibina Akademi the Flowers. Ada 3 pemain andalan dengan harga tinggi, Slawomir Kuta, Kaytanka, dan Kapten Dekap Kuta. Salah satu dari mereka harus kami lepas.”

Rencana yang mengejutkan dari manajer MT. Rencana tersebut tentu akan menuai kritik dari fans.

image

Note: Tulisan ini merupakan review atas game Top Eleven yang dipadu dengan sedikit imajinasi agar seperti Liga yang nyata.