Siapakah yang Menyatukan Indonesia?

Siapakah yang menyatukan Indonesia? Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang kenalan yang menawarkanku pekerjaan mengelola isu di media sosial. Ia membeberkan kehebatannya dalam membuat kisruh jagad media sosial di negeri ini sejak pilgub DKI hingga Pilpres 2014. Ia sebut nama-nama tokoh nasional. Ia ingin aku menyadari bahwa ia begitu dekat dan berpengaruh terhadap para tokoh nasional itu. 4 nama presiden RI pun ia sebut, ia ceritakan bagaimana ia bicara kepada para presiden itu, untuk menjelaskan betapa hebat dirinya.

Tetapi kenapa ia menawarkan pekerjaan itu kepadaku?

Setelah selesai berkoar, kunyatakan, “Yang lu tawarkan ke gua ini movement. Dan perlu gue tegaskan, sejak dulu gue gak pernah mau ikut campaign untuk kepentingan politik dan SARA.”

Ia kembali ngelantur soal berbagai kasus konflik politik. Ia menunjukkan keprihatinannya sebab permusuhan begitu kental dan sulit dihentikan hingga kini. 

Kusampaikan padanya, “Jangan membenci musuh lo!” Ia seperti terkesima dengan pernyataanku itu. Ya, begitulah jika konflik mau dihentikan, jangan membenci. “Tapi lo kan sadar bahwa dalam konteks politik, kebencian harus dipelihara agar bisa dimonetize. Dari kebencianlah para pemain campaign politik menghidupi keluarganya. Gitu kan?!” imbuhku.

Ia masih berusaha mengajakku dengan menegaskan syarat: ia yang harus menjadi leader dalam proyek ini. Ia minta aku menyusunkan strateginya. Ia menanyakan budget yang kubutuhkan.

“Gue nggak bisa memberikan harga selama belum tau strategi, target, dan jangka waktu yang diinginkan sama yang punya proyek ini. Tapi sekadar gambaran buat lo, untuk kampanye brand tertentu, gue biasa dibayar 200 juta per bulan. Itu bukan untuk urusan politik dan SARA, ya!” kusampaikan begitu agar ia tak berminat menawariku pekerjaan itu.

Di tengah ceracaunya, ia bertanya, “gue tanya sama lo. Siapa yang menyatukan Indonesia? Jawabannya adalah TNI dan POLRI. Bah, itu mah sudah jadi kewajiban TNI dan POLRI. Keberadaan mereka memang untuk menjaga kedaulatan dan ketertiban masyarakat bangsa Indonesia.

Kalau menurutku dan teman-teman, yang menyatukan Indonesia itu ada 2. Pertama adalah sepakbola dan badminton. Lihatlah ketika Tim Indonesia berlaga di kancah internasional maupun regional, betapa rakyat Indonesia terlihat bersatu mendukung timnas kebanggaannya. 

Yang kedua apa? Mohon maaf kalau aku terpaksa menyebut merk. Yang bisa menyatukan Indonesia adalah Indomie. Coba saja tanya sama teman-temanmu, terutama mereka yang sering kelayapan ke luar negeri, apa yang mereka rindukan selain keluarga dan kampung halaman. Rata-rata menjawab “gue pengen makan Indomie!” Terutama Indomie buatan warung mamang tampomas atau warmindo. Serius? Ya, nggak usah serius sih. Ini beneran bercanda meskipun ada benarnya juga. 😀

Dua jam perbincangan usai. Saat meninggalkannya, aku menelepon beberapa teman yang dekat dengan presiden dan tokoh lain yang ia sebutkan tadi. Semua yang kuhubungi memberikan saran yang sama: abaikan dia!

Ya, begitulah. Prasangkaku terkonfirmasi. Ia hanyalah makelar proyek politik yang kerap menodong tokoh-tokoh politik di pusat dan di daerah dengan proposal. Banyak orang sepertinya berkeliaran. Menyerukan orang untuk memilih kandidat pejabat dengan dalih pribumi, anti asing maupun aseng, dan segala macam kampanye berbau bangkai saudara sendiri SARA. 

Waspadalah kawan!

foto: ngopi bareng teman-teman di studio akar, tebet Jakarta.

2 Responses

  1. Hi…ada ya orang kaya dia Kang, mencari duit dengan mengobarkan moralitas hidup. GILAK!!!

    Tapi soal Indomie ini bikin ngakak, wkkkk….bukan gak setuju tapi justru 10000% setuju. belum jadi orang Indonesia kalo belum cinta Indomie.

    Indomieeee…seleraaaku..

    PS : Supermie juga gak kalah enak Kang :p

Menurutmu?

Back to Top
%d bloggers like this: