Pulang Malam

Kamu sering pulang kerja lewat tengah malam? Duh, kasihan sekali. Ada lagi yang menanggapi, “wah, pulangnya malem banget, abis lembur?” Banyak banget orang yang pulang kerja lewat tengah malam. Belum lagi ia harus naik ojeg melewati gang sempit, area sepi, jalan yang amburadul, demi menghindari kemacetan di jalur utama karena sedang terjadi pembangunan jalan tol, monorel, LRT, dan semacamnya.

Ada lagi yang pulang malam harus berdesakan di gerbong commuterline. Yang sering naik Commuterline akan mengerti bagaimana suasananya. Laki-laki harus mengalah karena ada perempuan hamil yang harus diprioritaskan, sebab bangku prioritas yang tersedia sudah dipakai oleh kakek dan nenek dan prioritas lainnya. Kasihan? Kasihan sama yang pulang malam? 

Selain berdesakan di commuterline, ada juga yang berdesakan di bus transjakarta dan di halte busway. Aku sering banget kasihan melihat emak-emak ataupun aki-aki yang harus berdesakan di halte busway. Kadang mereka tersalip untuk berebutan masuk ke bus. Pernah juga seorang nenek teriak marah-marah karena diselak oleh perempuan yang lebih muda, saat mau melangkah ke bus. Untung nenek itu tak jatuh. Andai jatuh, pasti tak bisa teriak marah-marah di dalam bus. 🙂

Jadi kawan, banyak sekali orang yang harus pulang malam karena pekerjaannya. Jadi kalau kamu masih juga merasa harus dikasihani karena pulang malam, pikir lagi deh. Banyak koq yang kelihatannya lebih nelangsa darimu, tapi mereka tak minta dikasihani, mereka tak minta perhatian. Kenapa mereka begitu kuat? Ya, mungkin karena mereka sudah lebih tabah darimu, lebih tegar dalam menjalani hidup.

Lagi pula, kamu tumben pulang malam. Ngapain aja di kantor? Kata teman sekantormu, kamu baru tiba di kantor lewat tengah hari. Lalu kamu asyik ngobrol sama teman lainnya. Lalu kamu nonton drama korea di youtube sampai matahari terbenam. Lalu baru di atas jam 8 malam kamu baru balas-balas email klien sampai jam 10 malam. Benar begitu kerjamu? Dengan kebiasaan kerja seperti itu lalu kamu pulang malam dan minta dikasihani?