Ojek Melintas Trayek

Naik Ojek adalah cara yang dianggap paling cocok untuk menembus lalu lintas di kota macet seperti Jakarta. Memang lebih nyaman naik taksi dibandingkan dengan ngojek, tetapi tentu taksi tak bisa berkutik jika harus melintasi jalur macet. Belum lagi selama macet, argo taksi terus berjalan. Waktu melelet, ongkos melilit.

Kondisi transportasi publik seperti itu merupakan peluang bagi beberapa orang yang membangun bisnis jasa alternatif dengan mengandalkan motor sebagai armadanya. Kuperhatikan bisnis ini berkembang. Kini makin tumbuh beragam layanan ojek yang dapat dijadikan alternatif transportasi publik. Ada TaksiJek, Ojek Argo Nyaman, Whell Line, Ojek Argo Projek, HandyMantis, dan Gojek Indonesia.

Tak hanya menyediakan jasa antar penumpang, layanan ojek-ojek tersebut juga memberikan layanan kurir. Untuk mengirimkan dokumen, makanan, bahkan nitip antre karcis pun bisa menggunakan jasa mereka.

Aku pernah mau mengirim buku ke sepuluh lokasi, pada jam 5 sore dan harus sampai ke semua pemesan paling telat pada jam 7 malam. Kesepuluh lokasi tersebut menyebar sampai ke tepian Jakarta. Terbayang bagaimana macetnya Jakarta pada jam tersebut. Dari pada berkutat di jalan naik taksi atau bawa motor sendiri sampai keringetan, mending aku pesan Gojek. Dengan Gojek, sebelum jam 7 malam, semuanya sudah di tangan ke sepuluh pemesan.

Itu salah satu contoh betapa layanan ojek dan kurir motor menjadi pilihan terbaikku saat ini. Lalu dari beberapa usaha ojek dan kurir bermotor yang ada, mana yang terbaik? Tentu tergantung pengalaman masing-masing. Ada yang menyukai Ojek Argo, ada juga yang lebih suka dengan Gojek karena kemudahan memesan dengan adanya aplikasi untuk smartphone.
image

Apakah tumbuhnya bisnis ojek ini mengancam ojek-ojek personal di pangkalan? Aku lebih suka melihat dari sudut pandang peluang ketimbang ancaman. Dengan beragamnya usaha ojek, para ojek personal bisa saja bergabung dengan manfaat yang dapat mereka bandingkan sendiri jika bertahan dengan cara ngojeknya selama ini.

“Beda sih mas, waktu saya ngojek sendiri di pangkalan, sama sekarang. Dulu kita cuma dapat penumpang di tempat kita mangkal. Kalo sekarang kita bisa dapet penumpang di mana aja. Kan orderannya via hape, jadi saya bisa dapet penumpang di mana aja pas saya lagi nganter ke mana aja. Kan trayeknya bebas. Penghasilan pun lebih gede dibanding sebelom gabung.” Tutur salah seorang Gojekers yang kuajak ngobrol.

“Pas gabung di sini, kita gak cuma dapet penghasilan, tapi juga diajarin gimana sopan santun sebagai driver dan gimana tertib berlalu-lintas. Jadi saya sih jadi merasa lebih sopan sekarang.” Tutur pengojek lainnya.

Ada temanku yang bilang kalau perusahaan ojek yang tumbuh ini mengancam usaha ojek pribadi karena orang lebih suka memilih layanan yang pasti dan bertanggung-jawab. “Itu kapitalisme!” umpatnya.

Aku tak sependapat dengan anggapan tersebut. Sebab kalau bicara ancaman hidup, sebenarnya ada dan tidaknya perusahaan ojek, tukang ojek pribadi dan boleh jadi kita semua sudah lama terancam oleh ketakwarasan pengelola negeri ini. Terutama ketakwarasan anggota DPR/DPRD, pejabat, politikus, aparat penegak hukum, yang hanya memikirkan keselamatan diri dan jejaring korupsi.
imagefoto: @yaminelrust