Mengemas Wisata Sejarah buat Anak Kiwari

Jika generasi Y dan Z tak punya minat yang tinggi untuk wisata sejarah apalagi napak tilas, apakah itu kelemahan mereka? Jika mereka, anak-anak “zaman now” tak suka sejarah, apakah kita pantas menilai mereka tidak memiliki semangat kebangsaan dan patriotisme?

Menurutku, sih kurangnya minat anak-anak terhadap sejarah bukan karena mereka tak suka sejarah, apa lagi menganggap mereka sebagai korban konspirasi anti nasionalisme. Boleh jadi ini kelemahan kita sendiri yang tak tahu bagaimana cara mereka belajar ataupun menyerap informasi.

Coba tengok bagaimana zaman kita (baca: pembaca berusia >40 tahun) dulu belajar sejarah. Selain membaca buku sejarah kita juga mengikuti studi wisata, ke Museum misalnya. Biasanya kita jalan cukup jauh, mengelilingi museum, atau menapaktikasi rute sejarah dengan membaca buku catatan. Ada juga yang membawa tustel (kamera pocket).

Sepanjang wisata, kita menyimak penuturan pembimbing wisata (tour guide) dan mencatatnya di lembaran kertas. Apakah gaya wisata sejarah yang kita alami cocok untuk generasi kiwari? Sepertinya tidak sepenuhnya cocok. Lalu bagaimana? Aku jadi ingat status fb-ku,

Pada status facebook tersebut, terlihat bagaimana gaya belajar anak sekarang. Instagram adalah koentji! Kalangan berumur ada juga yang nyinyir soal kebiasaan anak sekarang. “Selfie lagi, instagram lagi!”

Padahal menggunakan gawai untuk selfie di lokasi yang menurut mereka “instagramable” merupakan cara mereka berekspresi. Dan itu pun merupakan cara mereka belajar. anak-anak kekinian mungkin banyak yang lebih suka belajar dengan cara visual ketimbang membaca buku. Jadi, jangan terlalu cepat menilai anak muda yang tak gemar membaca buku itu sebagai orang yang kurang tekun membaca. Membaca buku ataupun menonton, melihat visual tujuannya mendapatkan informasi. Jadi ya, belajar juga. Begitupun ada anak yang suka atau gemar menulis, ada juga yang cara mengekspresikannya dengan audio visual, dengan fotografi, videografi (vlog) dan seabreg kreativitas anak kekinian.

Sebentar. Kenapa tiba-tiba aku menulis tentang ini. Apa yang kutulis di atas adalah apa yang aku pikirkan ketika mengikuti sebuah workshop menarik tentang Penelusuran Jejak Perjuangan Letkol Mochammad Sroedji, Senin kemarin, 16 Juli 2018 di hotel Ibis Arcadia, Jakarta. Workshop tersebut diselenggarakan oleh Irma Devita Learning Center.

Irma Devita adalah seorang blogger dan pakar hukum. Teman-teman blogger senior sudah kenallah siapa mbak Irma ini. Lalu siapa Letkol Sroedji yang menjadi titik pembahasan workshop yang salah satu tujuannya untuk mengemas wisata sejarah ataupun napak tilas?

Sosok Patung Sang Patriot – Letkol Mochammad Sroedji yang berdiri tegap di depan kantor Kabupaten Jember – menghadap ke Alun2 Jember. (Foto: FB novel Sang Patriot-Irma Devita)

Tentang Letkol Sroedji, bisa cek di wikipedia atau cukup “googling” saja. Banyak tulisan membabar tentang kepahlawanannya. Kalau mau lebih dalam lagi, ingin mengajegkan imajinasi tentangnya, baca saja novel berjudul SANG PATRIOT karya Irma Devita. Wah, mbak Irma nulis novel juga? Bukannya ia biasa nulis buku-buku hukum? Ya, menulis novel Sang Patriot merupakan janjinya terhadap neneknya sendiri, istri dari Letkol Moch. Sroedji.

Pasukan KNIL berhasil mengenali jenazah Letkol Sroedji. Mereka menggunakan jenazah sebagai media propaganda dengan mengikatkan di belakang truk dan membawanya keliling kota Jember, sebagai peringatan bagi TNI dan pejuang. Kemudian jenazah Letkol Sroedji diletakkan begitu saja di Hotel Djember, sebelah timur alun-alun. Hotel ini digunakan sebagai markas oleh KNIL (sekarang hotel ini sudah tidak ada).
dave.indrakusuma/tempo

Sayang sekali aku hanya punya waktu sedikit untuk merespon para pembicara keren di workshop tersebut. Yang kusampaikan tentang apa yang menjadi tulisan ini. Aku pun punya kegelisahan tentang bagaimana cara mengemas wisata sejarah agar menarik buat anak muda. Meskipun aku bukan pencinta sejarah.

Bagaimana mengajak anak muda untuk menyadari betapa kita punya banyak tokoh keren yang patut dibanggakan dan menjadi inspirasi. Kita lihat sendiri bagaimana banyak anak muda yang demen banget memajang siluet Ernesto Che Guevara, seorang tokoh revolusioner. Ada juga sih yang mengenakan kaos bergambar siluet Che, tetapi nggak tahu siapa itu Che. Ini adalah tantangan bagi mereka yang ingin anak muda bangga terhadap para pahlawannya. Yang ingin pernyataan Sukarno, “bangsa yang besar adalah yang menghormati jasa pahlawannya” tak hanya menjadi slogan belaka. Lalu bagaimana cara agar wisata sejarah maupun napak tilas pahlawan menjadi kegiatan yang menarik anak muda?

Kaos oblog bertulis juga masih jadi tren anak-muda. Banyak sekali mereka mengenakan kaos berisi pesan/quote tertentu. Kenapa nggak bikin juga kaos atau apalah yang berisi quote-nya Letkol Moch. Sroedji atau tokoh-tokoh sejarah lainnya.

Boleh jadi orang yang peduli sejarah mesti mencari atau bahkan menjadi travel agency yang bisa menyiapkan konsep wisata sejarah yang memiliki “user experience” yang kuat untuk para peserta, khususnya anak muda.

Pembuatan platform mobile apps menurut saya cukup penting mengingat dengan itulah milenials, gen Y dan Z berinteraksi terhadap isu tertentu. Kita berikan user interface dan user experience yang diingini cocok dengan gaya mereka menerima dan menyebar informasi.

Sudah bukan zamannya mengajak anak kiwari berdiskusi di dalam bus wisata. Biarkan mereka explorasi dan mengekspresikan yang mereka temukan melalui platform (apps) yang tentunya terkoneksi dengan media sosial terkini dan pencapaian level² tertentu untuk mendapatkan reward (gaming). Baru pada titik-titik tertentu libatkan mereka secara fisik, baik dengan augmented reality di lokasi maupun kegiatan fisik nyata, misalnya ada sesi “perang-perangan” dengan aktor utama adalah tim trainer/tour guide sebagai komandan perang di kedua kubu.

Kamu punya ide apa untuk menjawab tantangan ini? Coba diskusikan pada kolom komentar, ya.

Ya, memang perlu effort tinggi sih, tapi jika memang kita punya anggaran memadai, dari investor ataupun sponsor misalnya, itu akan menyenangkan buat peserta. Jadi mereka tak hanya menyerap cerita dari tour guide macam zaman kita sekolah dulu (studi tour ke museum), tetapi mereka menyerap nilai² kejuangan dengan user experience platform wisata sejarah yang bukan sekadar sebagai apps, game, dan media belajar, tetapi juga menjadi cara baru untuk belajar. Misalnya, ketika user tiba di lokasi bersejarah –patung pahlawan misalnya–, cukup dengan memotret patung tersebut atau selfie dengan patung tersebut, akan muncul notifikasi yang menautkan informasi teks maupun audio visual tentang informasi dari patung tersebut. Bukan cuma itu, boleh jadi siapa user yang memiliki history wisata terbanyak akan mendapatkan poin (reward). Apa rewardnya? Pikirkan nanti saja.

Mau belajar atau mau cari hadiah, sih? Ealah, gak usah kritisi soal hadiahnya. Belajar itu juga bisa dimotivasi dengan hadiah. Coba ingat-ingat ketika kita masih SD. Tak sedikit kan yang berharap bisa menjawab pertanyaan dari guru agar bisa keluar kelas duluan ketimbang teman sekelas? Nah, itu reward. Itu cara guru kita dulu memicu pengetahuan muridnya. Jadi itu, lumrah, jenderal!

featured image: irma devita membabar kisah letkol M. Sroedji di tengah workshop Penelusuran Sejarah Letkol Moch Sroedji, 12 Juli 2018 di Hotel Ibis Arcadia Jakarta ~ @mataharitimoer