Setahun yang lalu aku menulis status di Facebook seperti berikut:

“Aku hormati sebab di depanku, kalian bicara soal agama dengan wajah ramah dan penuh kesantunan. Tapi mohon maaf, ketika melihat status medsos dan atau komentar kalian di grup, kalian tak seperti yang kukenal selama ini. Di ruang medsos dan messenger kalian kerap memaki, menghujat, dan membiuskan nafsu amarah. Bahkan yang kurasakan, kalian lebih liar daripada teman-temanku yang hidup di jalan, di pasar, dan di kolong jembatan. Sadarlah, meskipun media sosial dan messenger dapat memengaruhi perilaku kita menjadi baik atau buruk, sesungguhnya itu ditentukan oleh kita sendiri, bukan oleh aplikasi. (MT, 9 Januari 2017)

Status tersebut adalah pesan yang ingin kusampaikan kepada teman-temanku yang setiap hari beraktivitas di ranah pendidikan, budi pekerti, ekonomi, dan begitu lekat kesehariannya dengan agama (bukan cuma muslim). Harus kutuliskan di dalam kurung sebab belakangan ini, setiap aku mengkritik sikap keberagamaan, misalnya seperti catatan akhir tahunku, ada saja teman yang menuduhku anti Islam. 

Hey, Man! Aku tak pernah berniat menghina agama. Apapun agama itu. Aku hanya mengkritik sikap orang yang menganutnya. Ketika aku mengkritik seorang ustadz ataupun pemuka agama lain yang tertangkap dalam kasus kriminal, aku tak menumpahkan kekesalan terhadap agama mereka. Kekesalanku hanya dimaksudkan untuk pelakunya. Oknumnya saja. Bukan agamanya.

“Ya, kalau kamu tak mau dituduh membenci agama (Islam), jangan sebut-sebut agama dalam tulisanmu. Pisahkan antara agama dan perilaku orangnya!” salah satu saran dari temanku.

Baiklah jika aku diminta memisahkan antara agama dan penganutnya, bagaimana caranya? Mereka sendiri tak bisa memisahkan perilaku tak terkontrolnya dari agamanya yang suci. Mereka bahkan menyebarkan fitnah dengan melantangkan nama Tuhannya. Mereka mengutuk dan mencaci-maki sambil melantunkan kalam ilahi. Mereka bersekongkol korupsi dengan dalih memanfaatkan kemubadziran demi kemaslahatan. Mereka merampok dengan alasan fa’i. Mereka mengusir etnis dan penganut agama yang berbeda sambil mengagungkan darma. 

Jadi kamu setuju, betapa sulit memisahkan antara perilaku penganut agama dengan anutannya. Ya, kan? Nah, kalau begitu persoalannya bukan pada indera orang lain yang terbatas tetapi pada dirimu sendiri. 

Kalau boleh kusarankan. Selama kita masih dikuasai kebencian, jangan menjubahi kebencianmu itu dengan simbol agama. Orang akan melihat, akan begitu mudah menuduh agamamu yang mengajarkan itu. Padahal kamu sendiri tahu betapa agamamu tak mengajarkanmu untuk melakukan sesuatu karena kebencianmu atas seseorang atau suatu kelompok.

Jika kamu ingin memuliakan agama, dan tak ingin orang lain menista agamamu, berperilakulah yang baik. Redamlah kemarahanmu dalam genangan ayat suci. Jangan umbar kebencianmu di media sosial. Jika kamu ingin mengkritik pejabat publik (memang harus dikritisi) lakukan dengan kebijaksanaanmu, dengan tutur kata yang baik, dan berdebatlah dengan budi pekerti luhur. Perilakumu yang seperti itu, meskipun kamu tak bawa-bawa nama agama, meskipun orang hanya melihat dari namamu atau dari fotomu, dengan sendirinya orang akan melihat kamu adalah penganut agama yang baik. Dan dengan kebiasaan orang lain dalam menilai (dengan keterbatasan inderanya), mereka akan menilai agamamu telah membuatmu sangat layak dipuji. 

***

“Gue marah-marah atas nama agama, dibilang salah. Gue tulis status abis beribadah, dibilang riya. terus gue musti nulis ape?” ~ Bang Namun.

Nah, kalau dalam kondisi Bang Namun, sebaiknya jangan hiraukan tanggapan orang lain. Lanjutkan saja status-statusmu tentang ibadah yang kamu lakukan. Tentang kerajinanmu shalat 5 waktu, kerajinanmu ke gereja, ke vihara, ke masjid, ke kuil, dan sebagainya. Orang-orang anggap kamu riya dan membanggakan diri? Biarlah dibilang begitu, toh mereka tak menganggap buruk agamamu seperti jika kamu melakukan kemarahan atas nama agamamu.

Biarkan mereka menyelesaikan hidupnya dalam kedengkian sementara kamu menyelesaikan hidupmu dalam kedamaian.