Trauma Pensil Tajam

Ini cerita lama tentang pensil. Kalau kamu punya kenangan, silakan bercerita juga di blogku. Gakpapa mention aku biar menjadi cerita berangkai tentang pensil.

Saat itu kelas 2 SMK. Anak zaman sekarang tahunya kelas 11. Kuperhatikan di mejaku tertulis banyak coretan dan gambar. Banyak murid yang senang sekali menggambar di mejanya sendiri. Rata-rata goresannya dari pulpen. Ada beberapa yang dibuat dengan pensil.

Rupanya para guru pun sudah maklum dengan pelampiasan ekspresi murid di mejanya. Bahkan beberapa guru mengerti kalau di meja itu pula biasanya murid yang cerdas menuliskan bahan contekan saat ulangan. Menyalin contekan dengan pensil tentu lebih aman ketimbang dengan pulpen. Goresan pensil lebih mudah dihapus. Jadi saat ulangan selesai, hilangkan bukti dengan menghapus contekan. Brilian!

Sejujurnya, aku tak pernah melakukan itu. Bagiku ketimbang nyontek mending menjawab dengan basbisbus. Itu sikap yang tertanam sejak kecil. Waktu masih SD, bapakku pernah bilang, “bapak lebih bangga pontenmu jelek tapi hasil pikiran sendiri ketimbang bagus tapi nyontek.” Pernah matematikaku dapat nilai 3,5 tapi aku tak menyesal sebab itulah batas kemampuanku saat itu.

Pensil enaknya dipakai saat habis diraut atau diserut. Tajam dan nyata saat digoreskan ke permukaan kertas. Tapi aku pernah trauma kalau melihat pensil yang baru diserut. Takut banget!

Saat itu kelas 4 SD. Salah seorang temanku menangis kejer karena lengan kanannya ditusuk pensil yang baru diserut oleh temanku yang lain. Entah apa pasalnya aku tak tahu. Tak ingat juga detilnya. Yang jelas bukan karena rebutan pacar apalagi karena beda pilihan politik atau karena beda agama. Anak SD zamanku masih suci pikirannya dari fanatisme bernapas kebencian. Paling banter mereka berantem karena masih kesal saat “turun main” -sebutan untuk istirahat- kalah main apa gitu di lapangan. Biasanya main kelereng. Aku juga pernah adu jotos gara-gara temanku curang main kelereng.

Aku duduk di sebelah temanku yang menangis kesakitan. Kulihat dengan jelas patahan pensil itu di lengan kanannya. Persisnya dekat siku. Langsung saja temanku dibawa pak guru ke UKS. Ya, sejak saat itu aku tak berani mendekati temanku yang baru saja kelar menajamkan pensil dengan serutan.

Kenangan lain dengan pensil? Itu saja dulu. Sudah kebanyakan teks. Kasihan mereka yang lelah scrolling.

Menurutmu?

%d bloggers like this: