Terpaksa Pakai Calo-Link Ketimbang Citilink

Catatan konyol ini kutulis sekadar merekam pengalaman yang terjadi hari Selasa 09 Juli 2013 di Bandara Soekarno Hatta. Kisah yang kualami bersama teman sekerja, Erha Limanov untuk berangkat ke Semarang dengan Citilink berkode QG0952.

“Langsung Check in, aja! Pesawat kita berangkat jam 10:30. Biar aman!” Ajak Manov, ketika kami tiba di Bandara Soeta pukul 08.20 WIB.

“Ngopi dulu, ah. Lapar nih belum sarapan.” Jawabku.

Usai sarapan Kue Durian di sebuah kedai, kami memasuki ruang keberangkatan Terminal 1C menuju loket Check In Citilink. Petugas Check In memerhatikan komputernya lalu bertanya kepada teman sekerja di sebelahnya. Aku mulai curiga, sepertinya ada masalah.

Benar!

“Maaf, pak. Penerbangan Citilink ke Semarang bukan jam 10:30 tapi 16:30.” Katanya.

“Lho, di ticketing order yang saya berikan itu, kan tertera 10:30. Lihat itu, di display monitor Bandara pun tertulis QG0952 ke Semarang jam 10:30. Kenapa bisa tak ada?” Protesku sambil menunjuk ke arah display Keberangkatan Pesawat di Bandara Soeta.

“Bapak silakan tanya ke ticketing di depan sana aja, deh!” Ia menunjuk ke arah luar, agar aku kembali ke sana.

Dengan niat tak mau berurusan panjang dengan petugas yang hanya tahu apa yang ada di monitornya, aku dan Manov sepakat kembali ke luar. Tahu sendiri dong, pintu keluarnya jauh banget. Tapi tak apalah, siapa tahu kami akan mendapatkan solusi terbaik untuk keberangkatan ke Semarang. Jika tidak, dapat dipastikan kalau agenda kegiatan di Semarang yang seharusnya dimulai pukul 1 siang akan berantakan.

Di ruang loket tiket Citilink, kuadukan masalahku kepada petugas. Manov menemaniku, berdiri di sebelah kananku.

“Kami sudah memberitahukan kepada semua pelanggan kalau jadwal penerbangan berubah. Kenapa bapak bisa tidak tahu?” Jawaban pertama petugas yang jika kuperhatikan sebenarnya ia underpressure juga menghadapi masalah di luar kuasanya.

“Lho, pemberitahuan lewat mana? Sampai saya tiba di sini, tak ada pemberitahuan apa pun. Kapan Citilink menyebarkan pemberitahuan?”

“Kemarin, pak. Kemarin melalui SMS dan telepon ke nomor bapak.” Jawabnya sambil memberikan nomor telepon yang mereka lihat dari invoice tiket yang kami beli di Nata Tour Bantar Jati.

“Benar, Nov, ada SMS dari Citilink ke hape Lo?” tanyaku ke Manov. Nomor yang diberitahukan oleh petugas adalah nomor Manov dan Khrisna Pabichara.

“Tak ada SMS atau pun telepon dari Citilink ke nomor saya ini, mbak!” Manov menjawab si mbak petugas yang sebenarnya cakep juga, sih… *iblis yang ngomong*

“Di Agen tiketnya menuliskan nomor ini, pak. Dan nomor ini.” Ia memperlihatkan nomor handphone Khrisna. Segera Manov mengonfirmasi Khrisna yang sudah tiba di Semarang sejak kemarin. Khrisna memberitahukan, tak ada SMS maupun telepon yang ia terima dari Citilink terkait pembatalan penerbangan dan ia juga akan complaint ke Nata Tour.

“Jika memang pemberitahuannya dari kemarin, kenapa di display masih tertulis hari ini jam 10:30, mbak? hayo? Jangan bisanya menyalahkan konsumen dong. Giliran kami telat beberapa menit saja, kami disalahkan tanpa kompromi sedikit pun, sekarang giliran maskapai yang bikin masalah, mengubah jadwal seenaknya, tetap kami yang harus disalahkan?” Aku mulai geram.

Di tengah perdebatanku dengan petugas tiket, datang penumpang lain yang bernasib sama dengan kami. Jawaban petugas tetap sama: Citilink sudah memberitahukan perubahan jadwal sejak kemarin melalui telepon yang tertera di pemesanan tiket. Si Bapak yang seharusnya berangkat bersama beberapa orang pekerjanya merasa tak pernah mendapat pemberitahuan via telepon. Ia pun menanyakan nomor telepon mana yang dihubungi Citilink. Ternyata nomornya salah. Itu juga yang akhirnya memancingku untuk memeriksa ulang nomor telepon yang ia tulis dan perlihatkan kepada kami tadi. Ternyata penulisan nomor Manov pun salah. Kurang 1 angka.

“Saya sudah pakai nomor ini bertahun-tahun. Sudah hafal. Tak mungkin salah menuliskannya, mbak, eh mas!” Kali ini yang melayani kami bertambah seorang.

“Ini modus! Sengaja menyalahkan nomor pelanggan. Modus! Kami sudah konfirmasi ke nomor teman yang tadi Mbak bilang juga, ia tak menerima SMS ataupun telepon. Blo’on banget, sih!” Bentakku sambil menggebrak meja loket. Semua orang yang ada di ruang tiket terkesima. Diam.

Geram!

“Sudah, Te! Kita ngrokok dulu, yuk!” Manov merangkulku keluar dari ruang sempit yang menyempitkan perasaanku. Mungkin ia tak ingin kemarahanku semakin menggawat.

Kami berdiskusi mencari solusi. Terlalu terlambat jika harus mengikuti jadwal Citilink yang jam 4 sore nanti. Bukan soal harus lama menunggu macam orang blo’on di Bandara. Tapi terkait dengan agenda kerja kami di Semarang sana. Bisnis kami hari ini sudah pasti berantakan. Akhirnya kami bersepakat meminta refund.

Aku pun kembali menemui petugas tiket untuk membatalkan pemesanan tiket dan meminta uang kembali. Kali ini aku sudah meredam emosi. Sadar juga sih, kalau petugas yang menghadapiku ini juga korban dari kesewenangan perusahaan tempatnya bekerja. Tak semestinya aku memarahinya. Tapi marah kepada perusahaan juga sia-sia. Pernahkah perusahaan penerbangan bertanggung jawab terhadap kesalahan yang mereka buat kepada pelanggannya? Aku teringat juga pesan beberapa teman di Twitter yang menanggapi ocehanku karena masalah ini. Salah satunya menyarankan tak usah lagi naik Citilink. Ada juga yang bilang kapok pakai Citilink.

Ah, sudahlah kita memang selalu jadi korban kesewenangan orang yang berkuasa. Dalam konteks ini, Citilink berkuasa penuh untuk mengubah jadwal meskipun tak ada pemberitahuan yang kami terima. Ternyata cuma segitu saja profesionalitasnya. Cuma segitu. Memprihatinkan!

Refund berhasil. Kami menerima kembali uang pembelian tiket 100%. Sekarang saatnya mencari maskapai pengganti. Kuperiksa penerbangan yang tersedia ke Semarang hari ini melalui smartphone. Dapat! Masih ada penerbangan selain Citilink yang tersedia pada pukul 11:30, 16:30, dan 18:30.

Kami harus bergegas menuju Terminal 1A. Lumayan jauh jalan dari Terminal 1C ke 1A. Tapi demi tiket tercepat, kami harus cepat melangkah. Keringat membasahi pakaian kami berdua.

Sampai di loket Lion Air, petugasnya memberitahukan kalau penerbangan di bawah pukul 18 sudah penuh. Lunglai. Seperti seutas benang yang didirikan di atas tanah. Rasanya aku ingin merebahkan badan di lantai.

“Yuk, kita ngerokok aja dulu.” Manov kembali mengajakku meninggalkan loket Lion Air di Terminal 1A.”

“Kita ke Sriwijaya Air aja. Ada penerbangan jam 1 siang ke Semarang!” Ajakku ke Manov sambil berjalan menuju Terminal 1B.

“Jalan lagi?” terlihat jelas raut muka lelah temanku ini. “Kalau memang tak ada harapan lagi, mau gimana, kita ngerokok aja dulu di depan ATM sana!” ajaknya.

Kami berdua bengong, ngelepus. “Gue heran, Nov. Kalo jalan sama Lo selalu aja ada masalah, hahaha….” Kami bercanda agar bisa tertawa melupakan kecewa.

Tak lama, datang dua manusia berjuluk Calo Tiket. Rupanya mereka membuntuti kami sejak di depan loket Singa Terbang tadi. Aku masih ingat perawakannya saat menanyakan tiket di depat loket tadi. Mereka menawarkan tiket yang bisa menerbangkan kami ke Semarang pukul 11:30 hari ini. Wow!

Tawar-menawar pun terjadi. Deal! Akhirnya kami tertolong dengan Calo walaupun harus membayar lebih mahal dari harga tiket yang semestinya.

asnawi (2)

Saat membayar pajak penerbangan, barulah kami menyadari kalau tiket yang kami beli tak bernama sebagaimana nama KTP kami. Lho, bagaimana nanti kalau ada pemeriksaan KTP? Itu yang pasti terlintas di benak aku dan Manov. Tapi sudahlah, nekad saja. Kami memang harus berangkat sebagai Asnawi dan Johan Maulana, sebagaimana tertera dalam tiket yang kami bayar dengan harga Calo.

“Nih, Wi! Ini tiket lo. Sekarang nama lo Asnawi, ya!” Kuserahkan satu tiket ke Asnawi, eh Manov.

“Yoi, Han.” Balas “Asnawi” sambil ngakak karena nama kami berubah seketika.

Dag dig dug hati ini menjalani pengalaman pertama bertiket nama orang lain. Khawatir diperiksa KTP dan akhirnya batal berangkat. Tapi jika tak dicoba, rugi juga. Sudah bayar pula. Sampai di dalam pesawat pun, selama belum terbang, rasa khawatir itu masih terasa. Yang kutakutkan, tiba-tiba ada Johan Maulana dan Asnawi asli yang menyusul tiket mereka.

Ah, akhirnya pesawat bergerak terbang. Barulah aku tenang. “Asnawi” duduk tersenyum di kursi 8D, mengerling kepadaku alias “Johan Maulana” yang mulai merasakan luruhnya ketegangan di kursi 8F. Ternyata Calo-Link lebih hebat ketimbang Citilink.

Konferensi Global Tata Kelola Internet ke-8 yang rencananya digelar pada 22-25 Oktober 2013 di Nusa Dua Bali, terancam gagal. Lho? Koq bisa event berskala internasional itu terancam. Kenapa tidak? Tak ada yang tak aneh di Indonesia. Bahkan yang tak masuk akal pun bisa saja terjadi. Nah, yang masuk akal, bisa saja tak terjadi.

 

3 thoughts on “Terpaksa Pakai Calo-Link Ketimbang Citilink

  1. seharusnya mentri perhubungan dan pihak bandara jangan hanya diam melihat masalah seperti ini, ini tidak sesuai dengan slogan “berantas calo dan jangan berhubungan dengan calo” faktanya pihak maskapai yg memeliharanya.

Menurutmu?

%d bloggers like this: