Site Overlay

Tak Kenal maka Tak Kesal

saya nggak ikut nyoblos… nggak mau pusing lah sama begituan!
Yang penting kita sih bisa makan saja!

– Ponaryo, Tukang Becak, Ciceri, Serang –

Senang sekali melihat keceriaan tukang becak di Prapatan Ciceri, Serang, Banten. Siang itu ada pawai pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). Semua kontestan atau pendukung sang calon menggelar kampanye damai. Jadi semuanya kampanye bareng. Massa numpra di jalan. Begitupun dengan tukang becak ini.

“Ceria banget pak?” tanyaku

“Senang aja, udah lama gak liat pawai!” Kata pak Ponaryo.

“Apalagi disuting, masuk tipi ya mas?!” Celetuk tukang becak yang satunya. Melihat aku merekam situasi dan juga merekam mereka dengan video camera.

“Bukan, mas. Saya bukan wartawan TV. Cuma buat pribadi aja.” Jawabku. Sebenarnya mau menjawab aku blogger, tapi gak perlu lah, ntar jadi harus menjelaskan apa itu blogger.

“mendukung yang mana, mas?” Selaku kepingin tahu partisipasi mereka dalam pilkada.

“Ah, saya sih nggak tau deh yang mana yang bener. Sing penting rame!”

“Punya harapan apa untuk pejabat baru?” tanyaku lagi.

“Ah, nggak tau deh…. ” skeptis banget si Bapak ini

“Yang penting becak nggak digusur!!” Celetuk driver becak yang masih muda.

Akupun mendekatinya, “Memang ada kemungkinan becak dilarang di sini, mas?”

“Lha, bisa aja. kan di Jakarta udah nggak ada becak. Kita minggir kemari, kalo digusur juga….”

“Gimana penghasilan hari ini, mas?”

“Wah, perei! semua orang nggak ada yang mau naik becak. Semua pake kendaraan sendiri.”

“Lagian mana ada yang mau pake becak?” yang muda menambahkan.

“Kalau diajak pawai, mau nggak, mas?” tanyaku lagi.

“Kalo ada uangnya ya mau. Itung-itung ngganti setoran.” jawaban sambil mesem-mesem.

“Pernah ikutan pawai seperti ini, mas?”

“Pernah, waktu pemilu kemaren. Lumayan, sehari dapet 10-20 ribu. Tergantung siapa yang ngajak.”

“Pemilu kemarin ikut pawai dari partai apa?”

“Banyak! Pokoknya siapa yang mau kasih uang capek, kita sih ikut aja. Dari pada nggak makan!”

“Lalu waktu pemilu nyoblos salah satu partai yang ngajak pawai dong?”

Dia mesem-mesem… “Hehehe… saya nggak ikut nyoblos… nggak mau pusing lah sama begituan! Yang penting kita sih bisa makan saja!”

“Di antara beberapa calon, siapa yang kira-kira diharapkan menang nih?”

“Sapa ya?” Dia melihat pamflet yang dibagikan oleh peserta kampanye. Ada dua pamflet di tangannya, Calon nomor 1 dan nomor 2. “Lha, emang sapa aja sih?” Dia bertanya kepada beberapa temannya dan kembali melihat pamfletnya.

“Tidak ada yang kenal, pak?” selaku.

“Boro-boro!”

“Kalau tak kenal mana bisa sayang, pak” candaku sambil tersenyum

“Ah, nggak papa. Justru tak kenal maka tak kesal, ha ha ha…” jawabnya spontan, kita semuapun tertawa. Kupikir-pikir, benar juga apa yang dinyatakan pak Ponaryo ini, kalau kita tak kenal, maka tak perlu kesal jika ternyata yang dipilih mengecewakan.

Begitulah salah satu kenyataan di kalangan tukang becak. Yang mereka pikirkan hanyalah uang untuk makan. Tidak mau memikirkan hal-hal lain yang tak mereka butuhkan. Mungkin supir metromini, angkot, ojeg, dan kalangan rakyat jelata lainnya boleh jadi bersikap sama.

Kita tak bisa menyalahkan mereka karena tidak mau ikut memilih saat pemilu. Ada hal yang lebih penting untuk mereka, yaitu uang yang harus didapatkan untuk langsung dipakai buat makan keluarganya. Karena itu, wajar pula jika mereka mau saja diajak untuk kampanye multipartai, yang penting dibayar.

Kita tak bisa menilai mereka oportunis. Mereka begitu justru karena mereka fokus pada urusannya saja, tidak mau usik terhadap urusan orang lain. Yang penting dapat makan, sebagaimana prinsip para calon petinggi negara ini: YANG PENTING DAPAT KURSI.

Ini sebuah tulisan lama saat Atut bersaing melawan Marissa Haque memperebutkan kursi Gubernur Banten. Kuangkat kembali tulisan ini dalam rangka pemilihan Gubernur DKI Jakarta, 2012.

 

11 thoughts on “Tak Kenal maka Tak Kesal

  1. refleksi tulisan yang sarat makna sudut pandang yang sangat realistis hehehe benernya inilah kenyataan yah broo

    1. yoi, mas. semoga kita punya pemimpin yg tak spt dimaksud bapak yg kuwawancarai itu 🙂

  2. hmmm.. memang susah ya mas, nyari pemimpin yang bisa masuk ke setiap kalangan masyarakat. Yang bisa dianggap ada oleh setiap masyarakatnya. Kebanyakan pemimpin cuma tau lingkungan kantornya, Bahkan lebih parah untuk radius kurang dari 5 meter dari pagar kantornya pun ia kadang tak tau dan tak peduli. Padahal disana ada tukang becak, tukang ojek, pedagang kaki lima, yang sebenernya punya suara yang nyata, tentang segala sesuatu yang sebenernya terjadi. Bukan seperti suara-suara sumbang para penjilat yang ada di lingkungan kantornya

      1. kapan yaa kita punya sosok seperti Ahmadinejad… atau setidaknya seperti pak DI, walau banyak orang yang menembak beliau hanya sekedar cari sensasi

  3. Itulah dilema pemilihan langsung, ada kalanya terjadi kejenuhan. Sudah milih dia kok hidup saya tidak berubah. Apalagi bagi sebagian masyarakat kecil, suara tidak memiliki arti penting bagi mereka, yang penting ada uang itu yang mereka coblos,

    1. Lalu sampai kapan budaya ini mengakar di masyarakat kita? Kapan kita punya masyarakat yang cerdas politik. Sepertinya benar seperti apa yang disampaikan mas MT, rantai kemiskinan harus segera diputus

      1. Kita cuma bisa berharap dan mengingatkan setiap kepala daerah untuk mengentaskan kemiskinan. Itu musuh utama bangsa ini

  4. semestinya peristiwa tersebut tdk terjadi jika demokrasi berjalan lebih baik. masyarakat skeptis krn setiap kali berganti pemimpin kehidupan mereka makin tak menentu. Mereka hanya digunakan sekali dalam lima tahun, hal itu membuat mereka kecewa ..

Menurutmu?

%d bloggers like this: