Tahu Diri

Merenungkan kembali obrolan tentang pewarta warga dan media sosial bersama teman-teman di Serpong siang tadi, kubuat sebuah catatan. Ini bukan reportase. Hanya opini tentang apa yang mengendap di kepalaku. Endapan yang boleh jadi semakin menumpuk saat musim “copras-capres” dan terakhir ramainya kasus kemarahan Flo terkait antrean BBM dan Yogyakarta.

Dilihat dari isinya, yang kita temukan dalam media blog dan atau media sosial dapat dipisahkan dalam tiga kategori. Ada yang masuk dalam kategori Pewarta Warga (Citizen Journalism), Opini, dan Ceracau.

Kategori yang kusebut pertama memiliki nilai berita. Penulis/Blogger/CJ biasanya memerhatikan kaidah 5W + 1H. Sebab Pewarta Warga adalah kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh bukan wartawan resmi. Bahkan bisa dibilang, CJ bukan (belum) menjadi profesi sebagaimana jurnalis/pewarta yang terikat dalam perusahaan media dan terjaga dengan Kode Etik Jurnalistik.

Opini berupa pendapat atau pemikiran tentang suatu hal atau kejadian yang kebenarannya masih harus diuji dan diperiksa kemudian. Meskipun opini lebih bersifat subyektif, bukan berarti tak bisa diterima. Bisa saja sebuah opini diterima oleh pembaca dan sebaliknya, disanggah, dikritisi, digunjingkan, bahkan dimeja-hijaukan. Seperti tulisanku ini, adalah pendapat pribadi yang bebas disanggah.

Kategori ketiga adalah hm… aku lebih suka menyebutnya ceracau. Ocehan yang cenderung tidak keruan. Ceracau amat kental dengan emosi. Bisa terbaca menjadi amat sedih bahkan amat marah. Biasanya yang menulis tidak sedang dalam keadaan yang sepenuhnya sadar diri.

Ketiga macam tulisan di atas dapat kita temui dalam media online. Bisa di blog, forum, media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, dan sebagainya. Ketiganya pun berhadapan dengan risikonya masing-masing. CJ yang tidak berdasarkan fakta, dapat jatuh nilainya menjadi fitnah, dan menanggung gugatan. Begitupun dengan opini. Apalagi Ceracau. Opini saja yang misalnya ditulis dengan baik, bisa disanggah bahkan digugat dan diperkarakan, apalagi ceracau.

Lalu bagaimana agar apa yang kita tulis tidak merugikan diri sendiri dan banyak orang. Jawabannya bisa mengangkat urusan etika, kode etik, dan hukum. Kalau aku, sih simpel saja. Satu sikap yang dapat mengamankan banyak pihak: Tahu Diri.

6 thoughts on “Tahu Diri

  1. Salah satu tips adalah dengan mengandaikan orang yg akan kita bicarakan ada di depan dikita langsung:

    “Akankah kita marah seperti itu jika kita bicara langsung dengan orangnya”

    “Seperti itu kah cara kita mengkritik sebuah film jiika kita punya kesempatan bicara langsung dengan sutradaranya?”

    “Begitukah yg akan kita bicarakan jika bertemu langsung dengan sang presiden”

    “Kenapa flo tak membodoh-bodohi dan memiskin-miskinkan orang-orang jogja waktu dia punya kesempatan berhadapan langsung di SPBU?”

Menurutmu?

%d bloggers like this: