Suara Sumbang dari Pedestrian

Petikan senar “Gitar Bolong” Bambang, “Bass Bongsor” Nopi dan lagu yang dinyanyikan Eros, sang vokalis, melengkapi nuansa pagi di pedestrian Stasiun Bogor. Para pejalan kaki yang apresiatif tak segan menaruh uang ke dalam kardus yang diletakkan di tepi jalan, di depan ketiga pengamen tersebut. Ada juga pejalan kaki yang menyempatkan diri mampir hingga lagu yang difavoritkan usai.

Eros, Nopi, Bambang (KSKA) foto: @mataharitimoer

Mereka bertiga adalah bagian dari Komunitas Simfoni Kereta Api (KSKA) yang terpinggirkan oleh kebijakan baru PT. KAI. Namun kebijakan yang secara pasti mengurangi penghasilan mereka tak serta merta membuat KSKA melakukan perlawanan layaknya mahasiswa yang “demen” meluapkan kemarahan lewat demo.

“Ya, kalo nggak boleh di Kereta, kita minggir ke jalan. Mau gimana lagi. Yang penting kami tak bisa berhenti bermain. Ini pekerjaan kami. Profesi kami.” Ucap Nopi yang paling dituakan oleh Bambang dan Eros.

Profesi pengamen sepertinya memang masih dianggap “sampah” oleh para pengambil kebijakan. Keberadaan mereka sama sekali tak memengaruhi pengambilan keputusan untuk program penertiban, seperti kebijakan PT. KAI yang melempar mereka ke jalan.

“Sudah pasti penghasilan kami lebih banyak berkurang dibanding saat kami masih ngamen di kereta. Soalnya jelas, kalo di kereta pendengarnya duduk menikmati lagu-lagu yang kami mainkan. Lha, kalo di sini cuma orang-orang yang peduli aja yg ngasih.” Jawab Eros saat kutanya tentang perbandingan penghasilan sebelum dan setelah dilarang main di dalam gerbong.

“lagi pula kalo ngamen di pedestrian seperti ini, tergantung banget sama cuaca. Kalo hujan atau siang makin terik, ya, kami minggir. Berteduh. Kalo di kereta, kan nggak ngaruh.” Bambang menambahkan.

Profesi pengamen sepertinya harus mulai diperhatikan oleh pemerintah. Menurutku, bagi orang yang berperasaan, mereka (para pengamen kereta) adalah pekerja seni dan hiburan. Aku berani bilang begitu karena mereka tak sekadar menghibur, tetapi juga berkarya. Bambang sang gitaris punya beberapa lagu yang diciptakannya sendiri dan bersama teman-temannya.

“Kami berharap para pemimpin mau peduli dengan keberadaan kami. Misalnya seperti kampanye calon gubernur Jawa Barat kemaren. Kami sama sekali nggak disapa. Nggak dicoleklah. Ya, memang kami orang pinggiran. Tapi meskipun begitu, kami ikutan milih juga, koq!” Nopi mengutarakan kesannya soal Pilkada Jawa Barat yang sudah memasuki masa kampanye di Bogor.

Obrolan dengan teman-teman KSKA berlangsung asyik, tetapi aku harus segera melanjutkan perjalanan. Dua video rekaman saat KSKA tampil dalam peresmian Pedestrian Stasiun Bogor dititipkan Eros KSKA untuk kuungah di Youtube (Vlogue). Satu kuunggah terpisah dan satu lagi kugabungkan dengan sedikit potongan wawancara mereka.

Ini salah satu penampilan KSKA saat peresmian Pedestrian Stasiun Bogor.



9 thoughts on “Suara Sumbang dari Pedestrian

Leave a Reply to @K_ee_y Cancel reply

%d bloggers like this: