Siapa yang Pantas Gantikan Jokowi

Masa kepemimpinan Joko Widodo –Jokowi panggilan umumnya, atau Jokodok kalau disebut di kalangan 212–, akan berakhir di 2024. Siapa orang yang paling ideal menggantikannya?

Beberapa sosok sudah sering diperbincangkan. Lembaga survey juga makin sering merilis elektabilitas antar calon presiden 2024. Beberapa Partai Politik sudah menyalakan sinyal menjagokan siapa capres dan cawapresnya. Bahkan beberapa kelompok masyarakat blak-blakan mendeklarasikan pasangan Anu dan Anu sebagai pilihan mereka.

Siapa capres idealmu dan apa yang kamu harapkan? Ini adalah pertanyaan yang kuajukan ke beberapa orang yang kutemui dalam perseliweran jalanku. Sudah tentu yang kutanya adalah kalangan rakyat jelantah, sebab sirkelku ya dari situ. Jadi mohon dimaklumi jika pandangannya terkesan tidak akademis, ya namanya juga sirkel awam.

Berikut adalah rangkuman jawaban rakyat jelantah, sosok yang mereka harapkan jadi presiden.

1. Prabowo Subianto

Kukira Prabowo kartu mati, tetapi ternyata masih banyak juga yang mengharapkannya jadi presiden. Beberapa beralasan karena Prabowo sosok tentara, gagah, dan beberapakali gagal jadi presiden namun tetap gigih nyapres sampai akhirnya jadi menteri. Nah, dari menteri bisa saja hokinya bagus dan bisa jadi presiden. “Kalau Prabowo presiden, sembako murah, listrik, air, gas, bensin, murah!” ucap sopir taksi yang mengantarku pulang dari The Dharmawangsa.

Ada pro ada kontra. Biasa dong ya, asal jangan konflik. Yang tak suka Prabowo beralasan dia sudah terlalu tua buat nyapres. Alasan lainnya, gampang dibohongin. Pencapresan dia di 2014 dan 2019 adalah fakta dia gampang diajak oleh kalangan yang bencinya sama Jokowi mulai dari ubun-ubun sampai dubur. “Makelar politik yang ada di kubunya saat itu mainnya kasar dan jahat.” ujar tukang Sotomie Bogor waktu kukunjungi saat warungnya sepi. Waktu dia ngomong begitu, aku mikir, makelar di kubu Jokowi juga ada yang jahat tapi mungkin mainnya rada halus. Jahatnya sih sama aja.

2. Ganjar Pranowo

Kebanyakan yang mendukung Ganjar, bilang kalau sosok berambut putih ini berani mengkritik dan menindak bawahannya. Yang dilihat, Ganjar sebagai Gubernur. Ketegasannya mendisiplinkan bawahan menjadi harapan sebagai presiden yang akan berani memenjarakan pejabat yang korup.

Apa bedanya Ganjar dengan Jokowi? Waktu menjadi Gubernur, Jokowi juga tegas terharap birokrasi namun setelah jadi presiden, apakah lebih tegas atau malah lebih banyak diintervensi oleh sirkelnya sendiri? Mafia dan intrik di level kepresidenan tentu lebih parah dibanding level pemerintah daerah. Apakah Ganjar berani? “Urus Wadas aja dikerjain sama sirkelnya, sampai salah nemuin warga.” Kata tukang ngetik terjemahan yang makan bareng aku di warung Medan.

3. Anies Baswedan

Banyak banget yang pro Anies. Teman-temanku yang tergabung dalam kelompok 212 termasuk yang berharap Anies jadi presiden 2024. “Bukannya dulu lo pada dukung Prabowo? Kalau Prabowo nyapres, bakal dukung lagi nggak?” tanyaku.

Jawabannya kocak. Ternyata mereka anggap Prabowo pengkhianat, karena mau jadi menterinya Jokowi. Mereka tak mau ditipu lagi sama Prabowo.

Hm…, namanya juga politik, malih. Gak perlu baperan dalam menyikapi perubahan sikap politikus. Berlaku juga terhadap Anies Baswedan. Bisa jadi nanti beralih sikap. Lha dulu aja dia pendukung Jokowi lalu jadi dukung Prabowo.

Dalam politik, dukung dan telikung adalah watak. Jadi kalau kamu mau jadi politikus, atau masuk dalam sirkel politik, harus bisa dan terbiasa begitu. Kalau kamu jujur apalagi lugu, mending menjauh dari sirkel politik.

Sebelum lanjut baca sampai habis, kalau mau versi video bisa nonton di youtube:

4. Puan Maharani

Kepak sayap puan menclok di mana-mana. Waktu aku ke Bali, baliho tersebut selalu kutemui di beberapa tikungan. Kupikir tak ada yang sreg kalau puan jadi presiden, ternyata ada juga yang suka. Alasan tukang ngamen yang kutanya, karena Puan mewarisi kharisma Megawati. Karena Puan dari partai wong cilik.

Kami ngobrolnya sebelum minyak goreng jadi trending toxic topic. Setelah kasus migor dan kenaikan harga BBM, banyak banget netizen yang sadar bahwa partai tersebut bukanlah wong cilik tapi partai kaum borjuis yang kerap memanfaatkan wong cilik buat nyoblos saja.

Yang tak suka Puan nyapres atau nyawapres juga ada. Alasannya karena waktu Megawati jadi presiden, gak ada perubahan apa-apa yang dirasakan rakyat jelantah. Saat ini saja mereka jadi partai pemenang. Presiden dari mereka, ketua DPR pun dipegang Puan, tapi ya nasib rakyat nggak berubah. Tak ada kebijakan yang meringankan beban hidup rakyat. Ada bansos tapi yang kebagian gak semua wong cilik.

Selain itu ada juga yang beralasan darah kepemimpinan Bung Karno ternyata tak terlihat di anak-cucunya yang main politik.

5. Agus Harimurti Yudhoyono

Sulung-nya SBY ini juga diharapkan maju dalam pencapresan, tentu oleh para pendukungnya. Posisi AHY saat ini seperti kurang percaya diri. Wajar sih sebab kalau mempertimbangkan presidential threshold sebesar 20 persen, Partai Demokrat nggak mungkin bisa maju tanpa koalisi. Untuk koalisi, perlu kalkulasi politik yang matang, agar mendapatkan apa yang diharapkan.

Persoalannya adalah, apa ada yang mau koalisi dengan Partai mantan penguasa itu? Apakah kharisma SBY masih kuat di kalangan politikus, terutama tentara yang diam-diam berpolitik?

Apakah konstituen Partai Demokrat memberikan nilai perhitungan yang signifikan untuk partai koalisi? Ini tentu tergantung dari kekuatan massa PD. Kita tahu saat berkuasa, mereka lekat hubungannya dengan kelompok yang menyebut dirinya FPI 212, sebuah sirkel politik yang kerap menjual doktrin agama dan keturunan Nabi. Hubungan kelompok itu dengan Partai Gerindra sudah ambruk gegara Prabowo dianggap berkhianat. Jadi masih bisalah main mata dengan para “pembela agama Allah” yang merasa tertindas di zaman Jokowi.

6. Airlangga Hartarto

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia pada Kabinet Indonesia Maju entah ke mana ini, blak-blakan mau nyapres jauh sebelum pak Jokowi bertanya kepada para menterinya kemarin. Balihonya juga bertengger di beberapa sudut kota. Bersaingan dengan baliho Puan. Hampir seperti persaingan alfamart-indomart yang senantiasa bersanding. Apakah Airlangga dan Puan memungkinkan untuk bersanding pula? Tentu tinggal negosiasi “Lo jadi apa, gua jadi apa” yang penting tetap bisa berkuasa.

Kita tahu kekuatan Golkar tak ada habisnya. Ibarat pohon beringin angker yang tak pernah pupus kemisteriusannya. Kekuatannya tetap berurat berakar di kalangan tokoh partai lain yang aslinya kader Golkar. Mereka punya kesetiaan tersembunyi yang tak bisa dilihat orang awam seperti kita. Bagian ini jangan dibahas. Repot nanti.

Temanku meremehkan AH. Nggak bakal jadi Presiden. Kalau melihat dari strategi politik Golkar sih, tetap patut diperhitungkan. Jangan lihat AH-nya tapi lihat “Ah…”-nya hehehe

7. Erick Thohir

Saat ditanya sama Pak Jokowi soal mau nyapres, jawabnya “Maju” juga. Tapi tentu dengan gayanya Ericklah. Menteri BUMN ini makin fokus kayaknya urus BUMN, yang memang banyak nggak beresnya selama bertahun-tahun sebelum era Jokowi. Tentu dari situ dia melihat peluang besar yang bisa dimainkan kalau masih tetap berkuasa.

Persoalannya cuma tinggal Partai Politik mana yang mau transaksi sama pak Boss ini. Partai-partai gurem tentu nggak masuk dalam daftar belanjanya, kecuali kalau memang benar-benar bisa memberikan impact dalam kampanye.

8. Sandiaga Uno

Gagal nyapres bareng Prabowo, masuk juga ke Kabinet Jokowi. Harganya adalah kekecewaan kalangan 212 yang pernah mengusungnya. Baik parpol maupun Ormas.

Tapi kita kan tahu sendirilah, dukungan politik itu kan bisa saja berubah. Semua tergantung nilai transaksinya. Orang yang benci bisa berubah jadi pendukung setia. Itulah politik (khususnya) di Indonesia. Uang dan Jabatan adalah Prinsip, idealisme cuma bahan buat membius rakyat jelantah.

9. Calon Lainnya

Selain kedelapan calon yang saya ulas di atas, masih ada nama lain yang juga mau tapi malu dan juga yang nggak tau malu, mencapreskan dirinya.

Ada Ridwan Kamil, Cak Imin, BTP atau Ahok, Risma, Khofifah, Mahfud MD, Sri Mulyani, dan yang akhirnya malu-maluin, yaitu Giring Ganesha.

Perjalanan menuju Pemilu 2024 masih panjang. Apa yang terlihat sekarang, terutama survei elektabilitas belum bisa dijadikan barang jadi. Kita tunggu saja permainan politik para pemangsa kekuasaan.

yang perlu kita sadari sebagai rakyat jelantah adalah, sadarlah bahwa kontestasi politikus bukan untuk kesejahteraan rakyat. Berapakali saya harus katakan ini, bahwa setelah selesai Pemilu, tetap saja kalian akan susah beli sembako, cuma bisa nangis sendirian ketika harga listrik, BBM, gas, PAM, naik semaunya. Karena itu, jangan mau lagi diajak berseteru membenci yang berbeda pilihan denganmu. Belajar dari 2014 dan 2019 bahwa sebanyak apapun ayat Tuhan kamu ucapkan, tetap saja politikus yang kalian dukung maupun tidak, sama-sama mengabaikannya saat berkuasa.

Sadar ya, jangan bego lama-lama. Jangan tergiur dengan recehan hanya untuk demo dan membenci sesama. Terlalu mahal yang kalian pertaruhkan, demi untuk meloloskan mereka yang rakus berkuasa.

Kita hanyalah tikus, kucing, kelinci, dan anjing. Mereka adalah Serigala, Harimau, Singa, dan Hiena yang bisa memangsamu kapan saja.

Ikut Pemilu silakan, tapi jangan ikut-ikutan, apa lagi sampai sikut-sikutan. Mau golput pun silakan sebab saya yakin itu juga pilihan.

Kaos yang ada di foto bisa beli di s.id/bymoment

Menurutmu?

%d bloggers like this: