Radio Butut Pengganjal Perut

Radio adalah salah satu hiburan sederhana yang bisa dimiliki oleh mahasiswa. Enaknya menyetel radio, kita bisa memantau berita dan hiburan, baik berupa musik, cerita, dan lawak. Belum lagi jika penyiarnya memang kocak dan suaranya “klik” banget di telinga pendengar. Sudah pasti stasiun siaran radio itu akan bertengger tak tergeser ke saluran lainnya.

Begitu pula dengan Aef, seorang mahasiswa kere yang berasal dari sebuah Kampung di Garut. Bedanya dengan mahasiswa se-kampusnya di Bandung, ia membawa radio dari kampungnya bukan untuk dipanteng di kamarnya. Aef menerima bekal berupa radio transistor dari neneknya lantaran untuk urusan perut: Makan. 

Apakah Aef sejenis monster dalam film kartun yang gemar melahap apapun di sekitarnya, termasuk barang elektronik butut? Ia membawa radio transistor 2 band itu untuk melunasi hutangnya yang sudah menumpuk di warung Mang Ajang, tempatnya makan sehari-hari sepulang kuliah. 

Mang Ajang memerhatikan radio transistor yang ditawarkan Aef, untuk melunasi hutangnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa dikasih ke saya, Aef? Kamu pake aja sendiri!” Ucapnya sambil menatap Aef yang menopang dagunya di tepi etalasi kayu tempat menyimpan makanan.

“Hutang saya sudah banyak, Mang. Biarlah saya lunasi pake radio itu. Itu juga kalo Mang Ajang mau….” Jawabnya penuh harap.

“Tapi ini kan radio bagus. Sayang kalo buat bayar makanan.” Balas Mang Ajang, yang sudah dikenal sebagai bapaknya mahasiswa karena setiap hari menyediakan makanan dan tak menampik siapapun yang berhutang. Menagih pun tidak pernah. Orang tulus seperti Mang Ajang ini sangat dicintai dan dihormati para mahasiswa kere, seperti Aef.

“Tak apalah, Mang. Dari pada hutang saya makin menumpuk. Pusing saya, jadi tak bisa mikir. Lagi pula kalau tidak dibarter dengan radio, saya mau bayar pakai apa? Lha, uang hasil ceramah dan ngajar ngaji di Masjid, tak bakalan cukup buat bayar hutang, Mang.” Aef masih membujuk Mang Ajang. 

Di sela kuliah, Aef memang dipercaya untuk mengajar sebuah pengajian di Masjid tempatnya bermukim. Ia tidak kost sebagaimana mahasiswa lainnya. Ia tinggal di sebuah kamar Masjid, yang juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan kurung batang (keranda jenazah). 

Karena tak mau berpanjang kata, Mang Ajang menerima radio transistor 2 band warisan neneknya Aef sebagai pelunas hutang. Bahkan Mang Ajang memberikan beberapa rupiah untuk Aef, dengan alasan harga radionya lebih mahal dibandingkan hutang makannya. Sisa uang barter radio itu lumayan berarti buat Aef yang memang sudah tak menyimpan uang seperak pun. Lumayan untuk mengganjal perutnya beberapa hari ke depan.

Lanjutannya ada di: Mengubah Takdir

_____________________

Ini adalah cerita tentang Mahasiswa Kere yang punya side-job sebagai marbut Masjid dan penceramah “amplop”. Diangkat dari kisah nyata seorang sahabat, Aef Saefullah, yang kini sukses mengelola Koperasi Khusus untuk Pelaku Usaha Kecil di Bandung. 

4 thoughts on “Radio Butut Pengganjal Perut

Menurutmu?

%d bloggers like this: