Prabowo Nggak Jum’atan, Jokowi Penista Agama. Lengkap sudah Capres Kita!

Posted on

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 merupakan perebutan kursi presiden jilid dua antara Jokowi versus Prabowo. Jilid satu terjadi pada Pemilu 2014. Nyaris tidak ada perbedaan situasi selain nomor urut capres saja. Pada 2014 Prabowo-Hatta mendapatkan nomor urut 1 sedangkan Jokowi-JK bernomor urut 2. Kini kebalikannya. Sepenting itukah nomor urut?

Sebenarnya sih nggak penting, namun bagi para netizonk (sebutan khusus buat netizen yang sering menyebar informasi provokatif dan cenderung beraroma hoaks) nomor itu penting, dari nomor terbentuklah simbol jari. Dengan jari itulah mereka mengisi media sosial dengan berbagai konten kreatif hingga konten tak beres (misalnya, hoaks, provokasi, menggoreng isu SARA, dan berbagai caci-maki).

Sejak 2014 hingga 2019, kedua kubu pendukung Jokowi maupun Prabowo seolah terjebak pada perseteruan yang tak kunjung usai. Berbagai cara dimainkan, mulai dari penyebaran hoaks, provokasi, pelintiran kebencian, bahkan fitnah. Saking banyaknya sebaran informasi yang tak bersahabat, jadi terkesan bahwa media sosial melulu berisi hoaks pilpres. Padahal ada juga informasi lurus dan tak menyudutkan pihak lawan yang disebarkan masing-masing kubu, namun karena hanya sedikit, jadi tertutup oleh arus utama sebaran infomasi “seolah perang” di media sosial..

Lebay banget gak sih netizonk kita dalam menyikapi Pemilu?

DailySocial mencoba mendalami karakteristik sebaran hoax berdasarkan sudut pandang 2.032 pengguna smartphone di berbagai penjuru Indonesia. Bagiku temuan mereka tak mengejutkan. Sebaran hoaks paling sering ditemukan di Facebook (82,25%), WhatsApp (56,55%), dan Instagram (29,48%). Kenapa aku nggak heran? Ya, sebab memang temuan tersebut benar adanya seperti yang kita rasakan sendiri. Ketiga platform tersebut, paling banyak ditemukan hoaks, karena memang merupakan platform yang lagi ngetren. Bagaimana dengan Twitter, yang bisa dibilang sebagai medan tempur antara cebong versus kampret? Cuma 21% dari 2.032 responden yang menyebut Twitter menjadi tempat sebaran hoaks. Boleh jadi ini terjadi karena Twitter gak lagi ngetren buat milenials. Apalagi Telegram yang cuma 10% saja. Ya, mungkin juga karena cuma sedikit yang pakai Telegram ketimbang WhasApp.

salah satu temuan DailySocial tentang sebaran hoaks di Indonesia 2018.
selengkapnya bisa baca pada tautan daily social.

Sesungguhnya yang bikin pegel hati bukan cuma hoaks melainkan postingan para pembela capres yang provokatif, cenderung menyudutkan lawan, bahkan lebih terlihat menjelek-jelekkan dan ada juga yang fitnah. Ini yang membuat beberapa netizen apatis terhadap situasi politik yang mereka temukan di media sosial. Gara-gara itu, mereka jadi enggan bermedia sosial. Tidak sedikit juga yang sampai tutup akun dan memutuskan pertemanan.

Dengan niat mencari sampel sikap netizen terhadap situasi politik di media sosial, akupun membuat jajak pendapat simpel yang dijawab oleh teman-teman di Instagram. Sengaja aku buatnya di IG Story saja, sebab memang nggak mau ribet. Namanya juga Polling Simpel. Jawabannya juga cuma 2 pilihan meskipun sebenarnya mungkin saja ada pilihan ketiga, tetapi tak kusediakan. Lha wong Poll IG cuma berikan 2 pilihan. Namun ada juga teman netizen yang memberikan jawaban alternatifnya pada message box (DM).

Polling hanya berlangsung 24 jam, pada 13-14 Februari 2019. Ada sekira 211-248 Netizen (bukan netizen Indonesia ya, tapi cuma teman IG saya saja) yang ikutan. Berikut hasilnya.

Siapa yang isi Polling?

Sekadar catatan soal teman-teman IG saya, mereka terdiri dari para pendukung Jokowi, pendukung Prabowo, Mereka yang bersikap netral hingga kukenal saat ini, dan ada juga yang ngaku golput. Ada juga temanku yang apatis terhadap situasi politik kekinian. Jadi kesimpulannya pengisi jajak pendapat (japat) ini amat beragam dan tidak mewakili hanya salah satu pendukung capres saja. Sama, temanku di Facebook dan Twitter juga begitu. Aku mah bebas orangnya, jadi juga memberikan kebebasan buat temanku mengekspresikan sikap politik mereka. Nggak ada yang aku unfollow atau unfriend. Why, kenapa lo gak unfriend yang termasuk nyebar hoaks? Ya, bagaimanapun, mereka tetep temen gue. yang BegoHQQ pun, tetap temen gue. masa cuma gara-gara beda pilihan aja jadi nggak temenan.

Sikap Netizen terhadap Postingan Kampanye Pilpres di Media Sosial

Banyak juga teman-teman saya yang eneg atas postingan soal pilpres di media sosial. Aku sendiri pernah baca juga status mereka di Facebook dan IG Story semisal, “Mulai hari ini kalo ada yang posting soal pilpres tapi pake hoaks dan hatespeech, gua unfriend!” Ada juga yang mengancam Unfollow. Ini menunjukkan betapa muaknya 69% netizen atas postingan kampanye pilpres di Medsos. Sisanya 31% menyatakan oke saja, nggak mempermasalahkan postingan Kampanye Pilpres di Medsos. Bisa jadi ini adalah teman-teman yang lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan sikap politik. Itu prasangka baikku. Sebab aku tidak membaca siapa memilih apa, jadi tak tahu apakah 31% itu temanku yang bijaksana, atau temanku yang tergabung dalam barisan pendukung militan Jokowi atau Prabowo. Sejak awal aku sudah buat disclaimer, tidak akan menyebar siapa pengisi jajak pendapat ini.

Soal Keberpihakan Netizen terkait Postingan Pilpres di Medsos

91% Netizen menilai postingan yang mereka temukan di wall medsos mereka cenderung memihak. Kabar baiknya adalah, netizen yang diduga lebih banyak dari kalangan milenial sudah punya pilihan politik yang jelas. Mereka tidak apatis atas situasi politik yang memanas mendekati hari pencoblosan 17 April 2019. Sisanya, hanya 9% netizen yang dinilai bersikap netral atas perkubuan pilpres. Apakah yang 9% ini beneran netral atau golput?

Kubu Capres Penyebar Hoaks

Menurut netizen (sekali lagi ini netizen dibaca sebagai teman-teman saya yak) kedua kubu sama-sama penyebar hoaks. Ini artinya para pendukung capres Jokowi maupun Prabowo sama-sama dianggap penyebar konten tak pantas dipercaya alias hoaks. Meskipun 66% netizen menjajaki kubu capres 02 lebih banyak menyebar hoaks ketimbang kubu capres 01. Yang kubu 02 Jangan baper ya. Inikan jawaban jujur teman-teman saya. Yang kubu 01 juga jangan besar kepala, menurut temen gue lu juga nyebar hoaks. Sedikit atau banyak, ya hoaks. Dosanya sama aja kali. (Jiah, dah kayak yang paling bener aja dah gue ngejudge! Maafkan!)

Sikap Netizen terhadap Penyebar Hoaks

47% bersikap tegas. Siapa yang nyebar hoaks, akan di-mute/unfriend! Lumayan banyaklah itu. Sisanya 53% membiarkan, mungkin dalam arti memaklumi namanya juga lagi berseteru politik, jadi ada saja yang terpancing untuk menyerang kubu lawan dengan hoaks. Kalau melihat siapa saja temanku, mereka menurutku netizen yang sudah terbiasa membedakan apakah suatu sebaran informasi itu hoaks atau bukan. Mereka terbiasa cek dan ricis ricek.

Netizen Percaya Nggak sama Bacot Politikus?

Dahsyat juga ternyata, 96% netizen nggak percaya sama bacotnya tokoh politik. Terutama soal janji-janji politik. Boleh jadi mereka menyadari bahwa apapun yang keluar dari bacot politikus pada saat kampanye, anggap saja halusinasi. Eh, nggak deng hahaha… Aku sih yakin teman-temanku ini smart-netizen, jadi bisa memahami situasi politik dan suara politikus. Tapi teman-temanku yang politikus jangan berkecil hati ya. Ada koq netizen yang percaya apapun omongan Anda. Lumayan ada 4%, dari pada nihil.

Wah jangan-jangan 96% netizen temanku itu GOLPUT! masa sih?

Sikap Netizen soal Golput

Banyak yang berharap jangan GOLPUT. Teman yang seperti ini biasanya memahami proses politik dan perkampanyean. Jadi tak akan mengajak orang untuk tidak memilih alias Golput. Sisanya 44% membebaskan pilihan untuk Tidak Memilih yang lazim disebut Golput.

Debat Capres dan Pilihan Politik

76% netizen sudah punya pilihan tetap. Jadi debat capres yang diselenggarakan kemarin dan nanti, tak akan memengaruhi sikap politik dan pilihan mereka. Cuma tak tahu ya, yang 76% ini ke Jokowi atau Parabowo. Rahasia yang harus kujaga. 24% Netizen sepertinya bisa berpindah pilihan tersebab debat capres.

Konten Julid Cebong dan Kampret

Sejulid apapun konten yang disebarkan netizen pembela capres, tak akan pernah bisa mengubah pilihan politik. Jangan berpikir konten yang disebarkan pro Jokowi, dapat mengubah pendukung Prabowo menjadi pendukung Jokowi. Begitupun sebaliknya. Jadi masih juga mau sebar konten pelintiran atau gorengan padahal nggak akan mengubah pilihan politik rakyat?

Ambil kasus, bagaimana cecaran para pendukung Jokowi setiap hari jum’at dengan lewat tagar #prabowojumatandimana. Apakah tagar tersebut membuat Prabowo membuktikan dirinya Shalat Jum’at di mana, dan apakah tagar tersebut dapat membuat ragu para pendukung prabowo dan beralih pilihan ke Jokowi? Kenyataannya ya nggak ngaruh. Malah para pendukung Prabowo semakin tertantang untuk melawan tagar tersebut dengan cuitan lain yang tak habis-habis.

Kalau kita perhatikan kejulidan netizen itu, sepertinya negara ini seolah sedang diancam oleh dua capres yang sama-sama nggak bener. Prabowo dianggap nggak Jum’atan, penculik, pelanggar HAM sedangkan Jokowi dianggap sebagai pendukung Penista Agama, keturunan gak jelas, keturunan PKI, dan antek asing dan aseng. Kalau sudah begini, ya sepertinya kedua capres kita benar-benar terkesan busuk!


Begitupun kasus, bagaimana Jokowi dianggap sebagai bagian dari pendukung penista agama, pendukung PKI, antek asing dan aseng, dan segala kedengkian yang disebar oleh para pendukung Prabowo baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Apakah serangan terhadap Jokowi itu membuat pendukung Jokowi beralih ke Prabowo? Ya Nggak juga.

Cocok dengan jawaban netizen, 85% nggak yakin kedengkian di medsos, atau kejulidan dapat mengubah pilihan politik para pendukung capres. Terus masih juga ente julid? Inget dosa, ente!

Banyak yang Tak Kenal CALEG

Fokus ke persaingan calon presiden sampai kita mengabaikan calon anggota legislatif. Itu fakta di mana-mana. 92% netizen bahkan tak kenal dengan caleg yang posternya nangkring di pohon atau bannernya bersliweran di medsos. Hanya 8% yang mengaku mengenal caleg dan itupun jumlahnya tak lebih dari 3 orang caleg yang dikenalnya karena memang ada hubungan pertemanan, atau memang caleg tersebut sudah terkenal, misalnya artis yang nyaleg. Lalu bagaimana kita akan memilih caleg jika kita tak pernah berusaha mengenal mereka?

Aku sih sempat berpikir, apakah caleg tak berusaha memperkenalkan dirinya kepada khalayak. Apakah caleg itu kehabisan ide untuk mengambil alih perhatian masyarakat dari sosok capres dan cawapres? Atau jangan-jangan mereka santai saja karena sudah merasa cukup mengenalkan diri dengan menyebar tampang-tampang mereka di jalanan dan di media sosial. Yang dibutuhkan rakyat pemilih sebenarnya tampang atau visi caleg sih?

Hampir sama dengan persoalan kenal caleg atau tidak, rupanya netizen cenderung tak yakin caleg dari kalangan milenial bisa dipercaya. Padahal milenial loh. Cuma 17% yang menaruh kepercayaan, mungkin karena dianggap masih memiliki semangat anti korupsi. Sementara 83% kurang yakin dengan caleg milenial. Entah karena apa, tak ada jawaban yang menjelaskan.

Sepertinya soal CALEG ini, netizen lebih apatis atau mungkin masa bodoh. Bahkan salah satu temanku yang usai menjawab polling ini, bilang, “Lagian gue juga gak bakal nyoblos caleg! Golput gua mah kalo urusan caleg!” Sebuah tantangan bagi caleg untuk merebut hati rakyat.

Kenapa sampai segitunya ya netizen sebal sama caleg? Sebenarnya banyak faktor, tapi saya coba mengangkat 2 isu kasus caleg yang pernah ramai dibincangkan netizen di media sosial, yaitu korupsi dan studi banding ke luar negeri. 87% netizen tak menyukai anggota legislatif karena soal korupsi. hanya 13% yang kesal karena program jalan-jalan pakai uang negara studi banding.

Meskipun sebel sama caleg, tetap saja masih akan memilih caleg pada pemilu kali ini. Hanya 41% yang berencana tak akan memilih caleg pada pemilu 17 April 2019 nanti. Ya kita berharap yang terbaik aja sih buat pemilu kali ini. Yang terbaik buat caleg, maksudku. Kasihan mereka sudah keluar modal tak kecil untuk bisa ikutan mengincar kursi legislatif. Semoga saja para caleg yang tak menang tetap legowo, tak menjadi pendendam, pendengki karena kalah, bahkan tak jadi gila.

Demikianlah hasil jajak pendapat netizen tentang politik di media sosial. Semoga jawaban para netizen ini dapat menggambarkan kepada kita bagaimana situasi dan kondisi yang dipahami netizen. Oh iya, sekadar bocoran. Netizen yang mengisi jajak pendapatku ini beragam usianya, mulai dari generasi post milenial, milenial, sampai generasi kolonial. Lengakap!

Lalu bagaimana dengan netralitasku di media sosial? 86% teman-teman masih menilaiku cukup netral. Bagiku, posisiku bukan untuk berkoar-koar mendukung salah satu capres. Aku mengambil posisi untuk semua orang. Sok mengayomi gitu deh. Apakah nantinya nggak milih? Ya, tetap milihlah. Soal Capres, aku tetap akan menjalankan hak pilihku. Soal caleg pun begitu, aku akan memilih yang aku kenal saja. Yang tak kenal ya tak mungkinlah aku pilih. Pemilu kan bukan beli anjing dalam kerdus.

Eh. tapi ada juga loh yang bilang aku nggak netral. 14% teman-teman ini mungkin amat teliti membaca dan menilai sikap-sikapku selama ini memihak. Yang kubu Prabowo menuduh aku memihak Jokowi. Sedangkan penggila Jokowi menuduh aku pasti akan memilih Prabowo.

Lalu sebenarnya aku akan memilih siapa? Masa kamu bingung sih. Udah jelaslah aku pilih kamu! #eaaa

Selamat memilih kawan!

9 Replies to “Prabowo Nggak Jum’atan, Jokowi Penista Agama. Lengkap sudah Capres Kita!”

  1. Miris ya milenials pun sbnrnya dianggap netijen bakal podo wae kalau udah punya kuasa. Ya gw jg bilang gitu. Lum ada yg mnurut gw bener2 representatif. Maaf negatif thinking tp milenials nyaleg sepanjang yg gw liat krn butuh akses ketika kuasa. Utk apa? Utk memperlancar bisnisnya bisnis bapaknya startupnya dst. Demikian. Sory ya milenials. Yang bener menurut gw yg rada matang. 30an lah. Social entrepreneur misalnya. Aktivis lingkungan dll. Jelas. Ngga manja.

    1. logis juga sih. butuh kematangan buat menjadi anggota legislatif. apalagi kalau sudah bicara tarik-menarik kepentingan politik di dalam sana. jadi mbayangin, gimana milenials dijadikan pecundang oleh aleg senior hahaha

  2. kalau ane sih tetap abu jalanan om… yang penting jangan sampai ada konfrontasi etnis dan agama… kalau terjadi itu yang luar biasa .. bagi ane milenial itu kebablasan olah pandangnya… karena banyak contoh untuk brbohongnya.. seperti dalam berbahasa… tapi bila pemikiran ok lah… dalam konteks yang di tulis om MT ane setuju…
    pilihan atau pemilihan = lebih baik tidak pilih pilih

  3. Mantep kang MT! Jadi pengen ikutan bikin survey ini di IGS. Aku sebenarnya juga bingung sama caleg yang ujug ujug jadi dapil DPR….. Bener ga ya bisa menyalurkan aspirasi masyarakat hmm

Menurutmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.